Selasa, 08 Maret 2011

Sape Lo Sape Gue ~ Gugatan Terhadap Lokalitas

Berhubung aku sedang dipercaya melaksanakan beberapa kegiatan besar di kantor, (dan mengedit karyaku sendiri) mulai hari ini mungkin aku akan melakukan update sekitar 2 atau 3 minggu sekali. Aku sedang berencana untuk migrasi update ke hari Jumat juga, tapi untuk sementara ini mungkin jadwalnya tetep Selasa.

Hari ini aku ingin membuat catatan soal topik yang dulu sering kutemui di forum-forum penulisan fiksi fantasi, yaitu soal penggunaan budaya lokal dalam kisah fiksi fantasi. Topik ini biasanya sering berawal dari keluhan, "Kok fiksi fantasi Indonesia dikit banget yah yang mengangkat budaya lokal? Kok kalau bikin naskah fiksi fantasi pasti namanya kebarat-baratan? Kok pedomannya ke Baraaaat terus? Kok budaya lokal nggak pernah dipake?"
  
  
Kalau aku bertemu orang yang ngomong kayak gini, reaksiku adalah, "Anda pasti belum baca banyak fiksi fantasi lokal, atau barangkali anda belum pernah membaca fiksi fantasi lokal sama sekali." Jawabannya hampir selalu, "Memang belum, tapi saya ga perlu melakukan itu karena (insert ngemeng here.)" Atau, "Memang baru sedikit, tapi apa perlunya membeli karya pengarang lokal kalau (insert ngeles here.)"

Jika seseorang nggak pernah/jarang menyentuh fiksi fantasi karya pengarang Indonesia, tentunya wajar jika kita menyimpulkan bahwa dia nggak/kurang punya kualifikasi untuk berlagak bak Ksatria Pembela Lokalitas. (Untuk selanjutnya disingkat para "Sape Lo," as in, Sape Lo, merasa punya kualifikasi untuk menuntut lokalitas dari para pengarang fiksi fantasi Indonesia, kalau anda sendiri kurang membeli dan membaca karya-karya pengarang lokal?)

Kata pepatah Jepang, hana yori dango; kuterjemahkan ini sebagai "dumplings over flowers". Artinya, lebih baik memberi sesuatu yang bisa dimakan daripada sesuatu yang cuma bisa dicium-cium. Lebih baik ngasih duit daripada kata-kata. Alih-alih menuntut para pengarang fiksi fantasi untuk meningkatkan budaya lokal dalam karya mereka, terlebih dahulu sisihkanlah rupiah kita untuk mendukung mereka supaya bisa menulis.

Nah, setelah itu aku biasanya bertanya, "Yth. Sape Lo, kenapa anda tidak/jarang beli buku karya pengarang fiksi fantasi lokal?"

Alasan yang sering diketengahkan para Sape Lo adalah, fiksi fantasi karya kita masih jelek jika dibandingkan dengan karya fiksi fantasi luar. Jadi mereka nggak mau beli. Untuk ini, aku akan menjawab, "Kalau anda nggak mau membeli, ya jangan menuntut." Kita logis aja deh. Kalau kita nggak membantu seseorang, apakah kita punya hak untuk menuntut sesuatu dari dia? Nggak. Bos nggak punya hak menuntut kerjaan dari karyawan kalau dia nggak ngegaji karyawan. Hal yang sama berlaku di dunia fiksi fantasi. Jangan menuntut lokalitas, jika kita tidak mendukung pengarang lokal.

Alasan kedua yang diketengahkan para Sape Lo, Fiksi Fantasi kita cuma meniru-niru fiksi fantasi luar. Jadi, "Buat apa saia beli? Saia kan nyari lokalitas yang otentik!"

Pertanyaanku, "Jadi, Kalau fiksi fantasi memiliki muatan lokal, anda pasti beli?"

Dan Sape Lo tipikal biasanya menjawab, "Ya, belum tentu juga sih... tergantung."

Lha, katanya cinta budaya lokal. Tapi begitu disuruh beli fiksi fantasi bermuatan lokal, kok malah gelantungan?

Satu kali aku pernah bertemu dengan Sape Lo yang meberikan sebuah jawaban alternatif super dahsyat, "Lha, memangnya ada Fiksi Fantasi yang pake budaya lokal? Bukannya fiksi fantasi kita semuanya kebarat-baratan?" DUAR. Bahkan setelah kusebutkan Garuda 5, Nadi Amura, Nocturnal, beliau masih bersikeras bahwa pengarang Fiksi Fantasi kita kurang berusaha keras dalam memasukkan budaya lokal. Barangkali salahku juga lupa nyebut Pinissi. Dan sekarang setelah Nibiru terbit, beliau barangkali masih belum mau berubah pendapat.

Satu poin menarik yang kuperhatikan dari omelan para Sape Lo adalah, bahwa yang mereka maksud asing hampir selalu bersinonim dengan Barat. Itu memberiku satu peluru lagi untuk menembak jidat orang-orang kayak gini.

Hello? Apa Timur bukan asing?

Para Sape Lo biasanya akan menjawab, "Oh, ya. Jepang. Jepang juga asing. dan Korea juga!"

Kalo gitu, India juga asing bukan?

"Oh, iya. India juga asing!"

Terus, cerita-cerita wayang yang katanya asli Indonesia itu sumber aslinya dari mana ya?

Sungguh, sebetulnya kita tidak punya alasan untuk menjadi seorang Sape Lo. Apalagi kalau kita tidak mendukung penulis lokal.

Nah, kalau begitu, mari kita balik statemen ini. Kalau kita tidak punya alasan menjadi seorang Sape Lo, apakah menggali unsur lokal itu sia-sia? Apakah unsur budaya yang asli Indonesia ada? Untuk masing-masing pertanyaan itu, Tidak, dan Ya.

Kita sangat disarankan menggali unsur lokal. Dan ya, unsur asli Indonesia ada. Namun, kita harus berpikir lebih kreatif, dalam arti lokalitas yang kita gali tidak terbatas pada mengadaptasi/memakai tokoh dari dongeng-dongeng lama macam Legenda Tangkuban Perahu atau Malin Kundang yang diajarkan sekolah. Be creative. Misalnya, bikin MMORPG yang memakai aksara hanacaraka sebagai rune sihir. Atau bikin senjata dari songket Batak. (Keris dah kebanyakan dipake buat senjata fantasi, sama seperti orang Jawa dah kebanyakan dipake buat jadi Presiden!)

Banyak kemungkinan yang bisa dijelajahi, banyak unsur yang bisa dimainkan.

Akhirnya aku ingin menarik paralel antara kasus ini dengan kasus komentar Hanung Bramantyo yang membuat pajak film impor dinaikkan. Aku nggak akan membahas detail kasus itu disini. Ada search engine, jadi kita bisa mencari sendiri. Yang ingin kutekankan adalah, aku nggak setuju pada langkah pemerintah menaikkan pajak impor dengan alasan untuk melindungi film nasional. Kalau kita ingin film nasional maju, jangan menyalahkan industri film asing. Turunkan pajak film nasional. Beri bantuan untuk para sutradara lokal. Para penonton, berhentilah beli bajakan.

Langkah yang sama juga bisa diterapkan dalam pernovelan fiksi fantasi lokal. Para pembaca, beli karya penulis fiksi fantasi Indonesia. Para penerbit yang punya nama, bantulah para penulis muda yang potensial. para penulis senior, jadilah mentor/kritikus/mitra bagi para junior. Dan terutama para penulis pemula, jangan putus asa.

Untuk dua minggu depan aku mungkin ingin menulis lebih banyak hal tentang lokalitas--sambil menyambut proyek dari kantor, menulis, dan bersiap menyambut prospek untuk tugas luar lagi. Aku sudah selesai baca Nibiru dan Zodiaz, dua novel fiksi fantasi lokal, maka berikutnya giliran Behemoth, buku kedua dari trilogi Leviathan. I'm in love with this series.



Luz Balthasaar.

28 komentar:

Mantoel Toeink mengatakan...

Gak ada komentar lain dari gw selain: "Niiiccccceeeeee!!!" b[>_<]d

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

Ini masih lanjut minggu depan...
Gara-garanya abis baca Nibiru, dan setelah itu denger (lagi) omongan orang-orang yang bicara soal konten lokal dalam fiksi fantasi.

Kadang aku pikir orang-orang yang menuntut lokalitas macam ini sebenarnya nggak paham apa itu lokalitas.

Mantoel Toeink mengatakan...

Hmm, minggu depan. Dinantikan juga updatenya. :D :D Ini topik langka yg diangkat, IMHO.

Hehe.

Andry Chang mengatakan...

Saya sendiri gak peduli banget omongan si "sape lo". Kalau memang kebanyakan riset saya berkutat di sektor Medieval Europe, ya sah2 saja karena saya memang suka sektor2 "asing" itu.

Namun, kalau ada inspirasi yang bisa mengangkat budaya lokal, mengapa tidak? Jadi, menulis, seperti halnya Tasaro pada Nibiru hendaknya berasal dari murni inspirasi. Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Yang perlu difokuskan adalah bagaimana cara "memodifikasi" dan "menjual" unsur2 budaya Indonesia itu menjadi lebih "global", bukan malah "kampungan". Contoh udah jelas kan yang udah mulai mendekati target itu antara lain: Nibiru, Garuda 5, Garudayana & Api-Klaudiani

Luz Balthasaar mengatakan...

"Anjing menggonggong kafilah berlalu" itu ajaran yang keliru, Dry.

Yang bener, "anjing menggonggong, lemparin batu." Biar diem gitu, hihihi.

Soal kampungan atau nggaknya, itu ntar mau kubahas 2 update lagi, dalam fenomena Bule Celup dan Peri Yunani. Nantikeun!

Fenny Wong mengatakan...

hahahaha, iya luz, setuju. 'apa klo udah ada novel fantasi yang lokal banget, terus mereka mau beli'? tul tul tul tul tul tul tul.... *gaya upin ipin

btw...
gw jg gatau napa feednya bandel T_T Ada orang subscribe feedku juga ngomong nggak pernah keluar apa-apa. weird.

Firmanto A mengatakan...

"Yahooo and a glass of beer!!!"

(Aduh, non-lokal lagi! *jedotin gelas bir ke jidat*)

"Hoeeee dan sebambu tuak nira!!!"

Setuju bahwa para Sape Lo sudah ngga punya alasan untuk ngeles lagi. Barang udah banyak di pasaran, koq. Komunitas juga udah eksis.

Tinggal aksi nyata. Koleksilah karya-karya lokal!

FA Pur
*mabok nira*... :p

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Konten barat:
Naga menggonggong, ksatria berlalu

Konten timur:
Oni menggonggong, samurai berlalu

Konten lokal:
Pejabat menggonggong, rakyat berlalu

Atau:
iIhH kmU r3S3 dCh. aqU m4U nL1s gmn jug4 t3rSr4H qu d0n6

:P

Luz Balthasaar mengatakan...

@Wong: Ga coba hubungi supportnya blogger? Mungkin mereka tahu apa yang keliru. Dulu aku pernah nyoba nulis surat, ditanggepin kok.
__

@Om: Yo ho ho and a bottle of rum!
__

@Mbak Dewi: Ya intinya memang gitu. Apa yang familiar bagi kita, apa yang kita suka, apa yang tinggal di hati kita, adalah lokalitas kita.

Heran deh sama para sape lo ini. Di era globalisasi (huek sama frase klise ini,) apa masih jaman ya menentukan lokalitas hanya berdasarkan jarak fisik?

pembacadongeng mengatakan...

kalo gw ditanya, knapa penulis fantasy gak nulis budaya lokal?gw bakal jawab, lu aja kali yang belum banyak baca :P

-------------------
satu hal yang gw amati di daerah gw (dan gw temu-in juga di kebanyakan sulawesi dan wilayah timur)

cerita dengan isi nama-nama jawa kuno sejenis Makutawangsawardhana, Rakai Panumwangan Dyah Dewendra, Pramodhawardhani, Kanjeng Raden Tumenggung, Kanjeng Pangeran Harya, Bendara Raden Ayu, dll tidak diminati, mungkin kerna berjarak dengan budaya masyarakat sini.

------------------------
dukung tag
*obsesi baca crita fantasy budaya lokal? beli dwong ^_^*

-menunggu episod lanjutan-

Mantoel Toeink mengatakan...

@Mbak Dewi: Alay detected. :| :|

Barusan kepikir kalo org itu mau unsur2 lokal, kita harus merekomendasikan di urutan pertama:

Phoenix: Dalam Mahkota Negeri Azura

Wisata kuliner budaya (mistis) lokal kan ada tuh di sana. :D :D

Hehe.

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Juu, LOL, berarti aku udah bisa dong nulis kayak alay :P

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mbak El: Nah, ini menarik.

Yang Mbak sebut itu juga satu kendala kalau mau 'berlokal-lokal'. Apa yang keterima di Sulawesi lom tentu diterima di Kalimantan. Apa yang make sense buat orang Papua bisa jadi ga make sense untuk orang Jawa.

Kalau kita bicara lokalitas = jarak, kita bisa berargumen bahwa, "jika penulis adalah orang Indonesia yang bukan orang Papua, membuat novel fantasi 'berbau' Papua sama saja asingnya dengan membuat novel fantasi 'berbau' Eropa." Alias, itu memang masih di Indonesia, tapi tetap bukan budaya lokal bagi penulisnya.
___

@Juun: Phoenix memang memakai budaya lokal--dalam cara yang barangkali masih terlalu maksa untuk dicontoh bulat-bulat.

Anonim mengatakan...

Yang Mbak sebut itu juga satu kendala kalau mau 'berlokal-lokal'. Apa yang keterima di Sulawesi lom tentu diterima di Kalimantan. Apa yang make sense buat orang Papua bisa jadi ga make sense untuk orang Jawa.

Setuju banget.

Kayaknya susah ya kalo mau berlokal-lokal...

Btw, saya malah kepikiran buat bikin cerita yang inspirasinya legenda lokal, tapi ga pake istilah atau nama2 orang di cerita aslinya... Settingnya juga diubah.

Tapi nanti malah ga dianggap lokal lagi ya :D


Adrian

Luz Balthasaar mengatakan...

Nggak susah sih mas.

Yang masalah itu adalah para Sape Lo yang memandang kalau suati karya memakai budaya asing, itu somehow lebih 'rendah' daripada yang memakai budaya lokal. Padahal apa bedanya, coba?

Yang dibilang Mas Adrian itu benernya seru kalau mau dijadikan eksperimen. Coba nama tokohnya diganti dan settingnya diutak-atik, terus sodorin ke para Sape Lo. Nyadar ga mereka kalau cerita itu sebenernya budaya lokal, tapi sampulnya beda?

Fenny Wong mengatakan...

@luz:
Tapi luz, aku coba pake widget yang sama di blog ku, lalu aku masukin link blog ku sendiri. It works... weird. :| Kalau buat feed biasa aku jadinya kasih link feedburner: http://feeds2.feedburner.com/fennywongjournal

Anyway untuk menambahkan soal ini...
Sebenarnya sejujurnya, semakin lama aku semakin merasa kalau mungkin masalah terbesar untuk fantasi indonesia adalah: jumlah orang yang suka baca di Indonesia terbatas. Yang suka genre fantasi, lebih terbatas lagi. :|
Budayakan rajin membaca! :p

Anonim mengatakan...

Whew.. artikel yg menarik.
Sebetulnya ku dulu pengen bikin cerita dgn budaya lokal. Tapi krn ku dibesarkan dgn budaya lokal g jelas (alias jawa kaga, kalimantan kaga, jakarta juga kaga) jadi takut2 bikinnya.
Ugh, kadang2 malu sendiri daku jadi orang Indonesia tapi kaga ngerti "budaya Indonesia" ><

Ah, mungkin pertanyaan ini rada melenceng dikit. Tapi gimana dgn orang2 "keturunan" yg emang dibesarkan dgn budaya "lokal Indonesia" yg sangat sedikit?
Apa budaya "turun-turunan" itu juga bisa dianggap budaya lokal klo diangkat di fiksi fantasi ya? Kan sama2 dari Indonesia gitu XD

stezsen

Luz Balthasaar mengatakan...

@Wong: Tp klo ga slah itu widget 1st party kan? Klo widget 1st party mestinya hubungin support blogger bisa.

Anyway, just a suggestion. In the mean time saia berkunjung ke sana Rabu-Sabtu saja, hahaha.

Jumlah juga mungkin masalah. Budaya baca kita memang baru tumbuh sih. Saking baru tumbuhnya mungkin, saia pernah mendengar ada penulis Indonesia yang nggak suka membaca. Hmmm...~

___


@Stez: Itu sebabnya aku berpendapat mengangkat budaya lokal kurang lebih sama saja dengan mengangkat budaya luar indonesia: Pengetahuan kita tentang budaya ybs sama-sama cuma parsial, jadi ya sama-sama harus riset. Kedalaman riset tentunya bergantung pada seberapa dalam kita mau mengangkat budaya tersebut.

Kalau soal orang-orang 'keturunan', mungkin aku berkualifikasi menjawab, mengingat aku juga 'keturunan', atau mungkin lebih parah dari 'keturunan', dalam pandangan orang-orang uhuk*religius*uhuk tertentu.

Tapi jawabanku kusimpan buat posting minggu depan ya. :P

Anonim mengatakan...

Yang masalah itu adalah para Sape Lo yang memandang kalau suati karya memakai budaya asing, itu somehow lebih 'rendah' daripada yang memakai budaya lokal. Padahal apa bedanya, coba?

He he he. Iya sih :D

Coba nama tokohnya diganti dan settingnya diutak-atik, terus sodorin ke para Sape Lo. Nyadar ga mereka kalau cerita itu sebenernya budaya lokal, tapi sampulnya beda?

Hue he he. Kayaknya enggak bakal deh :D Apalagi kalo settingnya diubah jadi luar negeri dan nama orang asing :-P Malah dikira budaya asing :D



Adrian

Anonim mengatakan...

@mbak luz
Uaah.. harus nunggu minggu depan berarti ehehe
Jadi ga sabaran ni, semoga update minggu depan cepet2 keluar XD

stezsen

Christopher Thomas mengatakan...

Misi mo nimbrung koment Mbak..

Emang penting y adanya sebuah unsur lokal dalam fikfanindo?. Selain buat bangga-bangga'an ~
bangga karena yang bikin orang indo, bangga karena punya konten asli indo?. Selain itu?
Buat saya sendiri, mo lokal kek,interlokal kek (he?), sepanjang karya itu bisa dinikmati,
kenapa musti pusing sama lokal-lokalan?.
Kalo pendapat saya rada dangkal, bisa bantu saya memahami isu "lokal" ini?

Memang gak bisa dipungkiri kalo wacana mengangkat budaya lokal dalam fikfanindo
adalah sebuah wacana yang menantang. walo begitu, saya ngrasa bahwa
lokalitas bukan hal penting (dan gak harus ada ~walaupun itu bisa jadi PR tantangan untuk
kita-kita semua :)

buat saya (lagi) tuntutan para Sape Lo itu terlihat lemah dan mengelikan. Seolah perduli dengan
fikfanindo tapi gak menguasai esensi dan arah dari lokalitas itu sendiri.
Emang kalo ada nuansa lokal di fikfan lantas membuat karya itu lebih baik?. Well... gedheg-gedheg
deh gue ;P

segini aja koment (ngeyel) ku, hehehe. ta tunggu postingan berikutnya!

===

*gimana naskah Apocrypha saiyah mbak?.
apa emang sedemikian terukkah hingga susah dikomentari'in? hehehe.

Salam,
Christopher Thomas

Luz Balthasaar mengatakan...

Aku lagi nimbang buat ngasi komen ke prologna sekalian juga sih Om Chris. Tp klo aku nggak bisa komen, plg bentar lg aku kelarin. Sori lama yah, hehehe ~_~

Cheppy mengatakan...

@Chris:
Emang penting y adanya sebuah unsur lokal dalam fikfanindo?. Selain buat bangga-bangga'an ~
bangga karena yang bikin orang indo, bangga karena punya konten asli indo?


Ah ya, ini pertanyaan yang sangat menarik. Jujur. So, perkenankan gue menyisipkan pendapat.

Gue melihat pentingnya posisi berlokal-lokal ini dari sudut kekuatan kita berbicara melalui karya. Simpelnya, saat gue mengusung seting lokal, gue sedang menuliskan sesuatu yang gue ngerti banget, karena gue hidup di dalamnya.

Mungkin ada hal-hal terkait data/fakta, yang teteup harus gue riset. Dan gue juga sadar hal itu ngaujubile susah juga, mengingat sumber referensi untuk kelokalan (terutama budaya) di kIta masih terbatas.

Karena gue hidup di dalamnya, maka saat gue nulispun, hasilnya adalah sesuatu yang hidup dan terasa nyata.

Bandingkan dengan begitu banyaknya tulisan fantasy 'barat' yang jadi terasa garing di tangan penulis kita, sampai diistilahi 'bule celup' (I believe ini akan jadi next topiknya si Luz). Itu kelemahan yang sering gak disadari oleh penulis lokal. They missed, just because they didn't have the inner feeling... Seperti ikan mencoba menulis bagaimana kehidupan di darat.

Mungkin contoh itu ekstrim dan gak terlalu kena, hehehe.

Tapi gimana kalo tulisan bersetting barat pun bisa diolah dengan sangat-sangat bagus?

Ya ga usah gimana gimana, namanya bagus ya baguslah jadinya, ga perlu dipersoalkan lagi lokal atau nggak lokal. Contohnya kayak Dream Utopianya Sammy. Jadi inget juga sama Karl May, yang bisa bikin cerita wild westtanpa pernah menginjakkan kaki di Amerika.

FAPur

Luz Balthasaar mengatakan...

Bule celup buat nanti update minggi setelah selasa ini Om.

Kalau ngelihat yang om bilang lokalitas adalah apa yang ia jalani dalam hidup', setuju.

Sayangnya 'apa yang ia jalani semasa hidup' suka diterjemahkan terlalu sempit sebagai satu budaya suku tertentu.

Atau, lebih sempit lagi, cuma memakai jargon/vocab suku tanpa mengangkat nilai-nilai yang mendasari budaya itu sendiri.

Kalau begini, lokalitasnya cuma di kulit doang. Seperti kata chris, itu nggak jadi pengangkatan budaya yang tulus. Cuma gagah-gagahan/tempelan. Kasarnya, "Hoi, gue bisa nih ngangkat budaya lokal!" padahal kenyataannya dia cuma memakai nama-nama berbau lokal. Nggak lebih.

masalah nomor dua, ada orang Indonesia yang tidak hidup dalam budaya suku. Lebih buruk lagi, ada orang-orang di tanah air kita tercinta ini yang keindoinesiaannya ditolak, seperti apapun mereka berusaha mengindonesia.

Ini yang mau kubahas berikutnya.

Christopher Thomas mengatakan...

Dapat pencerahan-dapet pencerahan!!! hehe. tq Om & Mbak.

nimbrung lagi ntar di fenomena bule celup! tunggulah saiya!

@Mbak Luz, its oke mbak. soalnya naskahnya emang masih kasar jadi perlu banyak diutak atik hehe.

salam,
Christopher Thomas

Andry Chang mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Andry Chang mengatakan...

Bacalah "Nibiru" dan "Garudayana".
The next story i want to write: "Adilaga".

At least we tried.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Andry:

Adilaga?
Kedengeran asik. Ambil budaya mana Dry