Tampilkan postingan dengan label Gaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2011

Wordcount Nation ~ Ancaman, Tantangan, Halangan, Gangguan?

Iyah, saia tahu saia ngaret lagi ngisi blog. Harap dimaafkan.
 
Ada beberapa masalah penting terjadi di kantor akhir-akhir ini. Saia gak akan berpanjang lebar memaparkan, tapi kesimpulan akhirnya adalah, saia hampir pasti menghabiskan lebih dari setengah bulan Oktober untuk pelatihan khusus di Melbourne dan Seoul.
  
Aih, nasib kuli negara.
  
Sebelum saia pergi, saia akan kembali mengisi blog dengan dua catatan. Pertama adalah soal wordcount, dan satu lagi, mungkin soal beberapa tambahan mengenai cara saia menilai suatu buku. Moga-moga lumayan bisa jadi bahan bacaan sebelum saia kembali dengan macam-macam kisah dari Federasi Billabong dan Republik Super Junior.   
 

Selasa, 26 Juli 2011

Substance and Style ~ Syarat Minimum Cerita Menarik

Tadinya saia mau nulis artikel ini pas Fantasy Fiesta 2011 kelar. Maksudnya biar bombastis gitu, dan bisa bikin talkshow imajiner sama pemenang tahun ini.
 
Apa daya para penjaga bilang kalo pengumuman diundur. Yo wis, saia manut. Jadilah entri kali ini gak ngomongin pemenang, tapi hasil pengamatanku terhadap 332 cerita Fantasy Fiesta 2011. Yang barangkali, semoga saja, bisa membantu kita untuk menulis lebih baik.
 
Tapi kalau hasilnya malah menjerumuskan, saia gak mau tanggung jawab. Sesuai ajaran Almarhumah R. A. Eyang Putri Saia  tentang pedoman bijak istri bangsawan Jawa dalam mengikuti suami: Ke Surga Manut, ke Neraka Katut Pergi Aja Sendiri.
 

Selasa, 23 November 2010

Rule of Cool ~ Explain Less, P4wn More

Balik dari minggu-minggu sibuk, aku perlu waktu untuk kembali bisa update teratur. Semoga aku nggak akan terlalu sibuk lagi sampai akhir Desember. Cukup sudah kerja gila-gilaan selama sebulan.

Untuk kali ini aku ingin menulis sedikit tentang 'penjelasan logis' di dalam cerita fantasi. Kenapa dengan tanda kutip? Karena pernyataan ini nyaris paradoks: kok khayalan harus logis?

Benarkah cerita fantasi harus logis? Sebetulnya, aku bisa mengatakan dengan yakin, tidak harus. Fantasi tidak perlu logis, tapi fantasi harus believable, alias harus bisa diterima pembaca.
  

Selasa, 20 Juli 2010

Hard Stylish Writing #3 ~ Meniru Gaya Bahasa

Baik, sudara-sudari. Kita sudah mulai dengan mendamaikan kekuatan dan kelemahan kita dalam menulis, dan memuluskannya dengan empat pedoman yang sudah kucatat dan kucontohkan. Terus bagaimana? Langkah berikutnya tentu saja, mengasah dan berlatih. Menulislah, lihat hasilnya, dan evaluasi, baik dengan menelaahnya sendiri atau meminta pendapat orang.

Tapi namanya penulis setengah mateng, kadang pada tahap ini kita membaca suatu buku yang kita rasa punya gaya bahasa yang keren. Dan ujung-ujungnya kita jadi tergoda untuk niru. Hal ini tentu sah-sah saja, selama kita bukannya memplagiat karya penulis tersebut. Untuk itulah aku menulis bagian ketiga ini.
   

Rabu, 14 Juli 2010

Hard Stylish Writing #2 ~ Contoh Bahasa Bergaya

Dua minggu lalu, aku sudah mencatatkan cara untuk mulai membuat gaya bahasa sendiri. Menyimpulkan apa yang sebetulnya sudah kusingkat, caranya adalah mengenali kekuatan dan kelemahan kita saat menulis, dan mendamaikannya. Kuat di deskripsi tapi cenderung ngasih gambaran berpanjang-panjang? Kurangi deskripsi itu. Jago narasi tapi jelek di deskripsi? Bikin cerita berat-narasi yang asyik, atau mulai belajar bikin deskripsi. Narasi dan deskripsi manstab tapi dialog cupu? Belajarlah bikin dialog.
   
Kalau kita sudah mulai mendamaikan kekuatan dan kelemahan kita, mulailah praktekkan 4 langkah untuk memuluskan cerita. 4 langkah itu adalah... (diulangi disini demi servis untuk pembaca...)
  

Selasa, 29 Juni 2010

Hard Stylish Writing #1 ~ Ketika Bahasa Bergaya

Seringkali aku mendapat ide untuk entry blog dari celetukan iseng para mampirwan dan mampirwati lapakku ini. Salah satunya adalah Stezsen alias Yin, yang menanyakan soal gaya bahasa di celetukannya yang ini. 

Berhubung minggu lalu aku lagi pengen nulis soal mengulek cabe, pertanyaan yang bersangkutan baru kuangkat minggu ini. Gaya bahasa termasuk salah satu bahasan yang gemar berseliweran di forum-forum penulis setengah mateng yang dulu rajin kuikuti. Saking seringnya berseliweran, barangkali para penulis yang sudah tigaperempat mateng, atau secara umum udah lebih keren dari aku udah begah ngebahasnya. Saking begahnya barangkali kalau ditanya soal gaya menulis jawabannya kira-kira ga jauh dari, "oh, gaya itu masalah selera. Dan selera dikembalikan ke masing-masing orang."
   

Selasa, 23 Maret 2010

Indah dan Muntah ~ Penciptaan Prosa Puitis Plus Contoh

Sebenernya aku pengen nulis tentang karakter. Namun, sampai agak lama aku belum juga mendapat gagasan tentang bagaimana sebaiknya topik itu dipersembahkan. Jadi, minggu ini adalah catatan singkatku tentang prosa pretensius.

Kita banyak kali mendengar pujian atau cercaan terhadap "Gaya Penulisan Puitis." Yang memuji bilang, gaya ini sangat indah. Yang mencerca bilang gaya ini bikin muntah. Lalu bagaimana jika anda ingin menulis "puitis", tapi ga mau bikin orang muntah?
  

Selasa, 16 Maret 2010

Antara Aku dan Dia ~ Memilih Point of View dan Teknik-Teknik Berselingkuh

Point of View, atawa Bahasa Belandanya adalaha Suduta Pandanga, adalah salah satu hal yang perlu kita tentukan saat mulai menulis fiksi fantasi. Atau cerita apapun, deh. Memilih Point of View ini menurutku kayak milih suami atau istri, minimal pacar. Sekali milih, you're stuck with it till the end of the story. Dan seperti halnya berselingkuh, sekali kita sudah memilih satu tapi mencoba-coba pindah ke lain hati, you carry the risk of being screwed, big-time. 

Perhatikan bahwa aku bilang, you carry the risk. Perselingkuhan sudut pandang memiliki resiko, tapi bukannya pasti menghancurkan cerita anda. Seperti semua perselingkuhan, memadu sudut pandang memerlukan teknik dan akal-akal (minyak) bulus.

Selasa, 02 Maret 2010

Show, Don't Tell ~ The Biggest Bullshit Ever Told?

Minggu lalu, aku mencoba mengambil langkah pertama untuk menjadi seorang penulis fiksi fantasi dengan menampilkan hasil editan terakhir dari bab 1 ceritaku. Sesuai harapan, berbagai kritik, saran, dan dukungan muncul dari teman-teman dan kenalanku.

Aku menilai usaha awalku ini cukup sukses karena aku mendapat saran dan gagasan untuk memperbaiki hal-hal yang entah luput dari perhatianku (tempo deskripsi), atau tampak jelas tapi belum kuketahui solusinya (kalimat pembuka). Aku juga mendapat pujian di titik yang kuharapkan. (Deskripsi yang pada dasarnya sudah oke, dan bangunan dunia dengan teknologi, arsitektur, dan religi lengkap dan hidup dalam 10 halaman A4, 1,5 spasi! Woo~hoo~!)