Rabu, 14 Juli 2010

Hard Stylish Writing #2 ~ Contoh Bahasa Bergaya

Dua minggu lalu, aku sudah mencatatkan cara untuk mulai membuat gaya bahasa sendiri. Menyimpulkan apa yang sebetulnya sudah kusingkat, caranya adalah mengenali kekuatan dan kelemahan kita saat menulis, dan mendamaikannya. Kuat di deskripsi tapi cenderung ngasih gambaran berpanjang-panjang? Kurangi deskripsi itu. Jago narasi tapi jelek di deskripsi? Bikin cerita berat-narasi yang asyik, atau mulai belajar bikin deskripsi. Narasi dan deskripsi manstab tapi dialog cupu? Belajarlah bikin dialog.
   
Kalau kita sudah mulai mendamaikan kekuatan dan kelemahan kita, mulailah praktekkan 4 langkah untuk memuluskan cerita. 4 langkah itu adalah... (diulangi disini demi servis untuk pembaca...)
  
  
Satu, jadikan setiap kalimat maksudnya jelas dan mengena. Ini kaitannya dengan bentuk kalimat dan diksi.

Kedua, coba gunakan kalimat-kalimat yang nggak terlalu panjang

Ketiga, usahakan sesedikit mungkin pengulangan kata dalam paragraf

Keempat, sampaikan gagasan dalam paragraf itu dengan runut. Jangan meloncat-loncat acak.

Untuk catatan minggu ini, aku akan memenuhi permintaan Zenas untuk memberi contoh. Contoh apa? Contoh untuk mendamaikan kekuatan dan kelemahan, juga pemakaian keempat prinsip ini. Mari kita mulai dari prinsip 1. Silakan lihat paragraf berikut ini...
Stellacadente kembali beradu dengan bidang putih. Kali ini perisai cahaya itu bertahan. Di belakangnya, seperti lukisan yang berangsur disusun dari sentak-sentak warna, muncul sesosok tubuh tinggi ramping. Orang itu memakai baju panjang dan sarung tangan dari kain hitam yang menampakkan pola simpul berangkai di bawah cahaya. Lengannya dilindungi rantai-bintang, sejenis rantai dari logam langka yang berwarna perak tapi penuh galur spiral berwarna gelap. Rambut orang itu putih-mutiara sepanjang mata kaki, juga dijalin dengan rantai-bintang. Garis wajahnya halus, telinganya memanjang naik, matanya ditutup bebatan kain hitam.
Ini paragraf dari draft semi-akhir Babad Euravia yang kukerjakan. Kalau diperhatikan baik-baik, paragraf ini 'meleset' di dua hal. Pertama, deskripsinya terlalu panjang (meskipun aku merasa deskripsi ini keren, OMG narsisnya), dan kedua, sekalipun deskripsinya panjang (dan keren, OMG narsis part 2), ada resiko karena panjangnya (kerennya!!!) itulah, pembaca malah susah membayangkan. Jadi, dengan kata lain, dia tidak mengena.

So what to do? Aku mengorbankan sebagian 'kekerenan' deskripsi itu dan menggantinya dengan,
Stellacadente kembali tertahan oleh perisai tak kasatmata. Kali ini, bidang tenaga itu tidak memantul balik menjadi tebasan. Di belakangnya berangsur muncul wujud seseorang yang sekilas tampak seperti laki-laki muda, ramping dan tinggi. Namun, telinganya melancip naik. Pakaiannya panjang dan gelap, matanya ditutup kain hitam, dan lengannya dilindungi belitan rantai halus yang tiap matanya berukir lambang rasi bintang. Rambutnya putih mutiara sepanjang mata kaki, juga diikat dengan rantai-bintang.

Di sini, aku berupaya untuk mengurangi kesenanganku pada deskripsi, memperjelas gambaran yang mau kuevokasi ke pembaca, dan menjadikannya mengena. Mengena disini terkait dengan efektivitas dan efisiensi, atau, buat fundamentalis KBBI, "kesangkilan dan kemangkusan" dalam pemakaian kata. Parafrase sederhananya, jangan sampaikan dengan sepuluh kata apa yang bisa disampaikan dengan satu kata.

Tentu, itu nggak berarti kita harus ekstra pelit dalam memakai kata. Ada pertimbangan lain, seperti 'rasa' dan 'suasana' cerita yang ingin kita sampaikan. Bisa saja paragraf diatas kubuat jadi,

Stellacadente terblok oleh perisai tak tampak. Kali ini, force field itu tak berubah menjadi tebasan. Di belakangnya muncul pemuda tinggi kurus yang bertelinga lancip. Ia memakai trench coat hitam. Matanya ditutup kain hitam, dan lengannya dibelit rantai halus yang berukir lambang rasi bintang. Rambutnya putih panjang, juga diikat dengan rantai.

Lebih hemat, ya? Iya. Tapi suasana dan rasa ceritanya amburadul tuyul makantiwul. Di sinilah diksi dan bentuk kalimat berperan. Dalam paragraf diatas terlihat kalau hal yang sama diceritakan dengan  pilihan kata dan bentuk kalimat yang berbeda, rasa dan suasananya beda, 'kan? 

Mau nangis rasanya menghancurkan paragrafku sendiri seperti ini. Tapi demi mengarsipkan apa yang kupelajari, terpaksalah, hehehe.

Kesimpulannya, jelas dan mengena yang kubidik adalah jelas dalam arti apa yang mau kita sampaikan tersampaikan kepada pembaca, dan mengena dalam arti sangkil dan mangkus (esweteee dah,) dalam pemakaian kata untuk menyampaikan maksud. Dan kita selayaknya ingat bahwa yang kita sampaikan bukan hanya deskripsi, tapi juga rasa dan suasana cerita.

Lanjut, prinsip 2 dan prinsip 4. Coba gunakan kalimat-kalimat yang nggak terlalu panjang, dan sampaikan gagasan dengan runut. Coba lihat paragraf berikut ini...

Menjelang tengah hari yang berarti mereka telah menempuh dua-pertiga perjalanan, Chevron yang tampaknya frustrasi oleh panas dan acara diam-diaman ini mengangkat suara dengan berseru keras, "Berapa jauh lagi ke Mesartim?" Kapten Bassalt meliriknya galak, menyebabkan ia terburu-buru menelan akhir kalimatnya dan menunduk minta maaf. Louis, yang kelihatan sama lelahnya, kelepasan menertawai Chevron. Akibatnya, ia mendapat dua tatapan yang seakan mengancam akan mengulitinya hidup-hidup, membuatnya mengkerut.

Paragraf ini sebetulnya cukup jelas. Tapi coba bandingkan dengan ini...

Menjelang tengah hari mereka baru menempuh dua pertiga perjalanan. Kelelahan menghadapi panas dan senyap, Chevron akhirnya berseru, "Berapa jauh lagi ke Mesartim?" 
Keluhan itu  membuahkan lirikan galak dari Kapten Bassalt. Chevron buru-buru menunduk dan minta maaf, tapi rupanya ada orang lain yang juga terpengaruh oleh panas. Louis, yang biasanya sopan, kelepasan tertawa melihat kejadian itu. Akibatnya buruk; hampir sepanjang sisa perjalanan ia harus mengkerut di bawah dua pasang tatapan jengkel. Baik Kapten Bassalt maupun Chevron tampak sangat berminat untuk mengulitinya hidup-hidup.

Di paragraf pertama, aku memakai banyak kalimat panjang. Runut gagasannya juga nggak terlalu kuperhatikan. Perhatikan bagaimana subyeknya berpindah-pindah begitu saja dari satu tokoh ke tokoh lain. Gagasannya pun berganti dari satu kejadian ke kejadian lain tanpa ada 'pengantar' yang membuat gagasan itu mengalir dari satu kalimat ke kalimat. Ada rasa seakan-akan pengarang sekedar menyebut kejadian itu--"ada ini, terus ini, terus itu."

Sementara itu, di paragraf kedua, aku memakai kalimat-kalimat yang lebih pendek. Disini juga aliran runut gagasan lebih diperhatikan, dengan membuat gagasan itu 'melimpah' dari satu kalimat ke kalimat lain. Disini, lebih terasa kalau si pengarang bercerita, bukan sekedar menyebut atau menggambarkan kejadian-kejadian. 

(Dengan kata lain, tell, don't show. Heh.)

Prinsip 3, usahakan pengulangan kata sesedikit mungkin di dalam paragraf. Ini sebetulnya sangat dasar, dan nggak perlu diberi contoh. Wajarlah orang bakal bete kalau ada pengulangan kata terlalu banyak dalam satu paragraf.  Tapi ada perkecualian untuk aturan ini. Salah satunya adalah jika kita menggunakan repetisi untuk memperkuat/menegaskan hal yang ingin kita sampaikan. Contohnya seperti berikut ini...
Yakub Item sungguh-sungguh tidak mengerti. Ia sudah melakukan semuanya. Ia sudah lari pagi keliling Monas sepuluh kali setiap hari. Ia sudah rajin menyambangi pusat kebugaran tiap habis maghrib. Ia sudah rajin ke spa untuk menikmati boreh asli Bali. Ia sudah minum segala ramuan mulai dari Ramuan Ma(k)dura sampai Ramuan Mak Erot. Ia bahkan sudah berguru pada Arnold Suasanasegar demi mendapatkan jurus-jurus jitu untuk menjadi Makhluk Tuhan yang Paling Perkasa Atas Bawah.
Tapi kenapa Bela Soang tak kunjung berpaling dari Edo Culun?

Maaf, fans Twilight. I just can't resist.

Kayaknya itu aja dulu untuk minggu ini. Seperti biasa, yang merasa pengen berkomentar, atau mengajukan usul, atau contoh lain, pendapat ditunggu.



Luz Balthasaar

25 komentar:

yin mengatakan...

wow, jilid duanya udah keluar

bingung dengan tell don't show, kok kayaknya lebih susah dari show don't tell ya?

tapi artikelnya bagus, harus dicermatin baik2 nih
thanks

stezsen

Mantoel Toeink mengatakan...

@Yin: Nggak kok. Sbnrnya gak lbh susah kok. Kalo versi gw, gw lbh suka menyederhanakan show don't tell menjadi tersirat (berbelit2 dulu ngomongnya) sementara kalo yg tell don't show jadi tidak tersirat (jd lsg kasih tahu aja elu maunya apa, gitu deh :D :D).

Kalo tersirat, pembaca hrs "menganalisa" dari tindakan, dialog, atau kejadian yg menimpa si karakter utk tahu sesuatu lebih lanjut mengenai karakternya, misalnya, "Setiap hari si Budi pergi bermain bola bersama teman-temannya. Setiap hari, tanpa kecuali. Kamarnya pun dihiasi poster para pemain bola yang didapat dari koran olahraga yang rutin dibelinya setiap bulan. Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi kemaniakan anaknya. Setidaknya anak itu menyalurkan hobinya dengan baik, bukan malah ikut dalam geng motor yang hampir setiap malam membuat kericuhan."

Kalo gak tersirat, pembaca lsg dikasih tahu, misalnya, "Si Budi adalah seorang pecinta bola."

Itu kyknya pernah dibahas Signora Luz di entry blog yg lain. Coba dicek deh. Signora lbh pinter ngejelasin yg kyk gini ketimbang gw. :D

Hehe.

Danny mengatakan...

Rasa dan suasana ya? Aku malah ga pernah mikirin ini waktu nulis. Ada saran buat milih rasa dan suasana yang kira2 paling pas?

Anonim mengatakan...

Lho bukannya maksudnya tell don't show itu yg ga cuma nulis 'abis ini trus itu' bukan?
Saya nangkapnya gitu soalnya.


Klo saya nulis jdnya lbh ancur dr contoh 'salah' itu. Selain subjeknya sering ganti2, kalimat2nya jd kaya tumpukan daftar belanja.
Gimana cara melatihnya ya? Berarti kurang peka rasa ya, saya ini?

Thanks
Yin - stezsen

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Showing itu ga melulu lebih panjang daripada telling lho. Contoh (yang dulu pernah dikasih Villam di forum Lautan)

Tell:
Cewek itu marah karena terus-menerus diperhatikan.

Show:
Cewek itu melotot, "Apa lu liat-liat?"

Kalau menurutku, dari contoh kedua yang Luz kasih, tipe pertama dan yang kedua sama-sama masih showing, cuma tipe yang pertama kalimatnya lebih panjang-panjang daripada yang kedua.

Showing:
Kapten Bassalt meliriknya galak.

Keluhan itu membuahkan lirikan galak dari Kapten Bassalt

Telling:
Kapten Bassalt marah mendengarnya.

Showing:
Akibatnya, ia mendapat dua tatapan yang seakan mengancam akan mengulitinya hidup-hidup, membuatnya mengkerut.

Akibatnya buruk; hampir sepanjang sisa perjalanan ia harus mengkerut di bawah dua pasang tatapan jengkel. Baik Kapten Bassalt maupun Chevron tampak sangat berminat untuk mengulitinya hidup-hidup.

Telling:
Akibatnya Chevron dan Kapten Bassalt sama-sama jengkel padanya.


Kalau aku sih, tetep lebih pilih showing daripada telling, walaupun membuat penceritaan jadi panjang. Soalnya, dengan showing, pembaca bisa lebih terlibat dengan adegan yang ada di dalam cerita, bisa lebih merasakan emosi yang dirasakan tokoh cerita, bisa lebih 'masuk' ke dalam cerita, seolah-olah pembaca berdiri di sebelah tokoh cerita, atau malah jadi tokoh cerita itu sendiri.

Kalau telling, pembaca itu kesannya cuma jadi penonton yang nonton cerita lewat televisi. Jauh, nggak ada keterlibatan.

Luz Balthasaar mengatakan...

Rupanya memang contoh kedua itu berpotensi agak bingungin ya. XD

Mengenai show, don't tell, aku udah berpegang dari awal kalau itu adalah sebuah prinsip yang bias. Mengapa? Pernah kujelaskan di sini.

Ada yang bilang "showing" memungkinkan pembaca masuk, dan "telling" cuma membuat mereka jadi sidewalk bystander.

But this is NOT always the case.

Telling yang bagus juga bisa bikin si pembaca masuk ke dalam cerita. Dan showing yang buruk juga bisa bikin si pembaca muak dan teralienasi dari cerita, saking semuanya harus dikasih lihat.

Nah, karena banyaknya miskonsepsi untuk show, don't tell ini, aku mengusulkan, bagaimana kalau kita tidak hanya berlatih melakukan show yang baik, tapi juga melakukan tell yang baik?

Luz Balthasaar mengatakan...

@Rie, soal contoh paragraf kedua, memang keduanya itu cendering showing.

Tapi kalau diperhatikan, Contoh 2-2 memiliki unsur telling yang lebih besar dari yang pertama, dan lebih enak dibaca.

Itu makanya aku menyarankan untuk tidak hanya belajar melakukan show dengan baik, tapi juga tell dengan baik.
__

@Danny, 'rasa' dan 'suasana' itu penting sebetulnya. Apakah cerita ini mau berasa jadul, modern, dark, lucu, ceria.

Kalau ditanya cara milihnya, itu tegantung cerita apa yang kamu mau buat. Kalau mau cerita pembunuhan sadis di Jakarta misalnya, coba tampilkan mood yang dark dan setting yang mencekam di cerita. Kalau mau kisah cinta teenlit, harus ada suasana 'kehidupan remaja'. Kalau mau fantasi epik, harus ada rasa 'grand' dan 'agung'.

Mudahnya, pikirkan suasana cerita ini sebagai ambience music/BGM game atau film. 'Musik' apa yang cocok untuk cerita kita?

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Luz, yap aku setuju, marilah kita membiasakan diri menceritakan show yang baik (yang tidak bertele-tele) dan juga tell yang baik (yang tidak terlalu ringkas sampai2 pembaca cuma jadi penonton doang).

Kemarin baru kepikiran, sebenarnya show itu paling bagus untuk menceritakan detil utama yang mau kita tonjolkan, sedangkan tell itu untuk detil minor cerita. Jangan sampai saking show nya, detil minor jadi menutupi detil utama yang harusnya jadi fokus perhatian pembaca.

Contoh:

Tell:
Hari itu cerah. Langit tampak biru jernih. Anne menikmati cuaca itu dengan berjalan-jalan di taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Tiba-tiba ia bertemu dengan seorang pemuda asing yang tampan. Siapakah pemuda itu?

Show (yang kayaknya agak berlebihan):
Hari itu cerah. Langit tampak biru jernih. Tidak ada awan di langit. Matahari bersinar dengan ceria dan angin bertiup dengan lembut. Anne memutuskan untuk menikmati cuaca itu dengan berjalan-jalan di taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Harum bunga memenuhi udara. Merah mawar, kuning bunga matahari, putih melati, pink bougenvile, warna-warni tersebut menambah semarak tempat itu. Ketika sampai di pusat taman, tiba-tiba Anne tertegun. Ada orang lain di sana, seorang pemuda yang belum pernah dilihat Anne. Sosok itu tampaknya mendengar kedatangannya, karena ia serta-merta berbalik. Sepasang mata biru sejernih langit menyapu pandangannya, dan Anne merasakan jantungnya mendadak berdetak tak karuan. Siapakah pemuda tampan ini?

Kombinasi tell (untuk detil minor) dan show (untuk detil utama):
Hari itu cerah. Langit tampak biru jernih. Anne menikmati cuaca itu dengan berjalan-jalan di taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Ketika sampai di pusat taman, tiba-tiba Anne tertegun. Ada orang lain di sana, seorang pemuda yang belum pernah dilihat Anne. Sosok itu tampaknya mendengar kedatangannya, karena ia serta-merta berbalik. Sepasang mata biru sejernih langit menyapu pandangannya, dan Anne merasakan jantungnya mendadak berdetak tak karuan. Siapakah pemuda tampan ini?

Gimana pendapat kalian?


Mau nambahin, untuk pengulangan kata, ini biasanya terjadi karena kita agak 'malas' atau 'bingung' mencari padanan kata untuk cerita kita.

Contoh:
Anne menyembuhkan orang itu dengan kekuatan penyembuhnya yang sama kuatnya dengan para penyembuh tinggi dari istana.

Kalimat ini bisa dengan mudah dikoreksi jadi:
Anne menyembuhkan orang itu dengan kekuatannya yang tak kalah hebat dengan para tabib tinggi dari istana.

Anonim mengatakan...

Em, buat contoh 1 dan 2, saya suka paragraf kedua. Lebih enak dibaca, mba :)

Untuk contoh 3 (Mba Soang, Mas Edo dan si Item), saya ga komen deh :D


Adrian

Anonim mengatakan...

@dewi
Menurutku sih tell ato show tergantung konteksnya juga. Kalo yang dicontohkan sis versi tell, show, dan kombo, aku justru paling suka yang tell.

Yang show, overdosis.
Yang kombo, masih juga over.

Soalnya titik berat cerita yang kutangkap: suasana/situasi pertemuan.

Deskripsi Anna sebagai tokoh utama sama sekali gak disorot. Dan di taman itu, ia bertemu dengan pemuda tampan yang "misterius" yang juga gak jelas seperti apa bentuknya.

Dan untuk deskripsi suasana tempat yang mungkin gak bakalan penting ke belakangnya, buatku metode tell lebih pas dan gak makan tempat.

Dan untuk versi kombo, kalimat satu ini cukup membuatku berkerut: sepasang mata biru sejernih langit menyapu pandangannya, dan Anne merasakan jantungnya mendadak berdetak tak karuan. ==> yang kutangkep: 'nya' itu si Anne dan pemilik mata biru itu si pemuda tampan. Bener?

Heinz.

Mantoel Toeink mengatakan...

@Heinz: "Objection!" *gebrak meja* Saya tidak setuju kalau show itu dibilang overdosis. Justru kalo tell terlalu mendominasi, pengaruhnya akan sampe ke pace cerita dan mnrt gw yg namanya pace cerita itu sangat penting. Memberikan gambaran lebih detail tentang karakter/setting memang perlu, tapi pace cerita yg sesuai agar pembaca bisa mencerna kalimat2 yg dia baca jauh lbh penting lagi. Nulis kalimat yg sangkil dan mangkus lalu pembacanya gak ngeh kan sama aja bohong.

Jd, sesuaikan aja show/tell dgn kebutuhan pace.

Hehe.

Anonim mengatakan...

@juun
Wkwkwkwk. Makanya maksud aye tuh mo tell ato show ya tergantung konteks. Terus kalo ambil contohnya yican, kalo ternyata konteks tamannya itu memang mau dibuat sedemikian penting ya sah-sah aja sih mo dibikin show.

Cuma ya aku sih tetep gak sreg. Kalo sampe ada penggambaran yang kayak begitu di novel apapun sudah pasti cuma kubaca sekilas doang. Tetep over. Toh intinya cuma si Anna ketemu cowo misterius di taman. Belum ada penting-penting ato greget-gregetnya.

But of course itu kan cuma penggalan doang. Gak tau efek buat kelanjutan ceritanya gimana.

Oops, sori ni kalo aku salah. Kalo mau pace-nya dibuat cepet, bukannya tell yang lebih dominan?

Wkwkwkwk, sori bos Luz. Kok malah yang dibahas conto para tamu?

Heinz.

Mantoel Toeink mengatakan...

@Heinz: Hm, mgkn si Anne itu gantinya Bella Swan di novel bergenre sama, beda judul? :D :D Kalo kasusnya kayak gitu, wajar lah ada show yg berbunga2 dan tergolong lebai krn utk sebagian org deskripsi itu gak penting2 amat.

Sangat penting, Heinz, untuk para fangirl di masa yg akan datang. :D :D Supaya mereka penasaran dan jatuh cintrong ama si lelaki misterius.

*Eaaa, gw yg lebai dong ini?*

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Rie, Right on. Itu maksudku. Contoh kamu ngasih ilustrasi prinsip kedua dan prinsip keempat dengan cukup pas.

Kalau kita bicara runut kalimat, kita bicara bukan hanya urutan, tapi juga cara mengurutkan, atau bagaimana supaya gagasan itu terhantarkan dengan mulus dari satu kalimat dengan kalimat lain.

Untuk mencapai hal ini, kita sebaiknya memperhatikan unsur telling.

Tell bukan cuma untuk memperringkas deskripsi; keringkasannya itu bisa menunjukkan aliran gagasan yang lebih baik di dalam narasi, karena dia nggak tersendat oleh penggambaran.

Dengan kata lain, kalau kita perlu menonjolkan runut, masukkan unsur tell. Karena ia ringkas, kita nggak terpaku pada gambaran. Karena kita gak terpaku pada gambaran, kita bisa menonjolkan "bagaimana" gagasan itu terhubung dan mengalir dalam paragraf, dengan demikian membuat cerita (moga-moga) jadi lebih mulus dan enak diikuti.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Heinz, ga papa kok mau bahas contoh "tamu". Pada dasarnya kan blog ini area diskusi bebas buat siapapun yang mau bagi-bagi ilmu dan pendapat. Nggak keberatan kok kalau artikelku cuma jadi pemicu/inspirasi awal untuk berdiskusi.

Kalau kamu bilang contoh Rie itu over, aku akan ikut pendapat Juun.

Kamu barangkali bilang kombinasi itu over bukan karena shownya itu sendiri. Tapi karena sifat shownya itu terlalu "shoujo manga/Twilight/Romance Novel" yang barangkali ga cocok dengan selera kamu. Apalagi pas penggambaran co bermata biru itu, wkwkwkwk...

Kalau itu memang shoujo manga/Twilight/Romance Novel, itu sepenuhnya sah kangkungcah.

Tapi kalau aku bikin novel romance, aku akan memakai deskripsi lain.

Menyamakan warna mata biru sejernih warna langit itu adalah deskripsi yang kalau buat aku agak cheesy.

Apalagi bagian berdebar-debar pada pandangan pertama itu. Dan pertanyaan "Siapakah pemuda tampan ini?"

Ew. Triple cheeseburger.

Anonim mengatakan...

@juun & Luz
Yup, setuju banget. Groupie girl memang harus dipuaskan dan dibuat jatuh cintrong. Maklum basisnya raksasa buta.

Menurutku kalo mau show ya titik berat jangan di taman bunganya, tapi di si cowo tampan itu. Show karisma misteriusnya yang bisa bikin jatuh cintrong itu.

Tapi btw, ampe sekarang aku masih bego dalam urusan keju-kejuan.

Alias mungkin aku lempar batu sembunyi tangan. Teriak maling sana sini, tapi sendirinya rampok.

Dengan tidak tahu malu, jika sempat dan berkenan monggo dicek kadar kekejuannya di sinih:
http://kemudian.com/node/245586

Just another fanfic of Disney's Cinderella.

Heinz.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Heinz. Udah baca Heinz. Aku ga punya id Kemudian, dan belum minat bikin, jadi komen disini aja yah.

Cara berceritanya sendiri enak. gampang dibaca.

Tapi pilihan katanya ada yang gak cocok sama suasana ceritanya.

"Stiletto", "birahi", "vulgar"? Is this supposed to be a fairy tale fanfic or a metropop smut?

Satu lagi yang bikin aku terganggu, kesannya si Romeo itu terlalu mendayu-dayu.

Mungkin penulis memang tujuannya bikin tokoh kaya gini. Tapi kalau aku sih nggak tahan dengan dosis dayu-dayu di cerita ini. Ketinggian. TT^TT

Anonim mengatakan...

Thx dah sempet mampir dan lempar cabe pula. Sastramasochist mode on.
Jujurnya aku bikin cerita itu karena ada yang mancing dan itung-itung praktek gaya hard stylish. Terutama yang bagian meminimalisir pengulangan kata.

Salah satunya stilletto.
Aku ogah pake kata sepatu terus. Tapi padanan yang kudapat di kamus: 'kasut'. Sementara kalo pake kata 'sepatu hak tinggi', itungannya jadi tiga huruf. Jadi begitulah. Kebetulan definisi stiletto ngena.

Kalo vulgar dan birahi, ehm, kurang pas ama gaya fairy tale ya?

Hihi, terlalu mendayu ya? Intinya sih aku berusaha tetep setia dengan pakem aslinya cuma ditambah sedikit bumbu untuk menjelaskan beberapa tindakannya yang gak masuk akal di cerita. Tapi ya kugambarkan si prince ini emang cinta mati ama si Cindy. Bahkan sebenernya dia dulu yang jatuh cinta ama Cindy. Itung-itung mengikuti pakem utama fairy tale: happily ever after.

Cuma ya nama Romeo jelas gak sesuai. Aku menyesuaikan dengan pencetus sebelumnya yang berniat memadukan Cinderella dan Juliet. Tapi yang kubuat sih asli prince charming Cinderella. Melenceng total dari konsep paduan Cindy-Romeo&Juliet.

Sekali lagi, thx.

Oya, mendayu-dayu berarti kadar kejunya lumayan hot dong?

Heinz.

Luz Balthasaar mengatakan...

Benernya udah bagus kok Heinz. Hampir semua empat pedoman itu dapet.

Cuma memang dosis dayu-dayunya itu ga kuat aku. Ngerti sih dia jatuh cinta, tapi cara berceritanya itu, diungkapkan dengan segala keju cinta yang pernah ada.

"Tenggelam dalam biru mata", "samudera biru" "Tak kutemukan setitikpun birumu" "aku selalu mengharapkanmu. Bahwa aku selalu memimpikanmu. Bahwa aku tidak rela melepasmu pergi. Bahwa aku ingin kau mendampingiku sekarang dan selamanya..."

Kebanyakan. TT^TT

Anonim mengatakan...

Hihi iya ya? Maklum tu cowo nunggunya kelamaan. Ditambah melankolik pula. Pake POV 1 lagi. Makin eneg abis. Makanya kutulis pula di sana: kalo muntah ditampung sendiri. Super duper cheese cake.

Wkwkwkwk. Tapi ya minimal tujuan utama tercapai: mencoba menerapkan si 4 aturan itu. Tapi emang bener-bener makan waktu ya? Buka bolak-balik thesaurus mulu. Kalo cerpen sih kuat, ga tau kalo novel.

Thx lho tipsnya.

Heinz.

Ivon mengatakan...

pffftt, paragraf contoh tentang kenelangsaan Yakub Item itu bikin ngakak~ XD

heheh, numpang jalan2 yah di blog ini :D artikel2ny bagus2 semua nih, walau mungkin ak gag bakalan selalu kasih komen, sangking speechless-nya, wkwkwk ^^

btw,,,komik yg ak janjiin it, sabar yah, ak mau ngasah kemampuan nggambar ak dulu, terutama pada manusia -.-; tpi gantinya, mungkin ntar ak bikin ilustrasi untuk Kota Para Penjarah, yg versi hand-drawn art :) (kayakny kmu suka hand-drawn art yah, hehehe *ngambil kesimpulan seenakny dri review Icylandar terakhir :p*)

ah, pendapat ane untuk artikel ini...
Om Stephen King pernah berkata, "Kill your darling."
walau kita sayang banget ma gaya penulisan satu paragraf, tapi keberadaannya mengganggu tempo cerita...yah, keraskan hati, dan tebas mati... O.o

Luz Balthasaar mengatakan...

Tenang aja Von ^^

Kapan aja ga masalah kok :3

Nasihat bagus dari Om Stephen, meski aku ga terlalu suka karyanya. kecuali Misery, kali.

Mungkin aku nggak baca buku yang tepat?

Ivon mengatakan...

O.o *pasang topeng shock*

wah, memang Luz udah baca buku Om Steph yang mana aja nich? ^^;

hmm, Misery yah...hum...penggambaran adegan2 gore-nya superb, permainan psikologisnya hebat, nuansa ketegangannya apalagi...wuih
tpi untuk ak, buku ini agak terlalu sadis ^^;
ak malah lebih cocok ma yang kayak Cell gt (padahal banyak yang gag suka buku ini, hahahah) atau ama buku kumpulan cerpennya...
tpi terutama, ak paling suka ma gaya menulisnya :)

hmm, tapi tergantung sih, klo Luz baca buku2ny yang diterjemahin di sini, kebanyakan itu masih karya "kelas dua"-nya...mana ada Green Mile (filemny keren!), IT, Shawshank Redemption, dan The Stand diterbitin di sini?

btw, itu nasihat ak dapetnya dari buku "On Writing", buku non-fiksi (yang do'i tulis) yang ngebahas teknik tulis-menulis, plus sedikit sejarah hidupnya sendiri :)

Luz Balthasaar mengatakan...

Misery aku baca pas SMA apa SMP gitu. Dipinjemin temen.

Beberapa bulan lalu dapet Bag of Bones di bazar buku tua. Edisi non terjemahan. Pas baca kok kayaknya bikin ngantux ya? Taruh dulu deh. Kepancing baca buku lain.

Pe sekarang lom lewat dari 1/2 buku @_@

Tapi kalau lihat BoB dirate dua bintang sama Mbak Truly di GR, barangkali memang ini bukan buku terbaik Om Step.

Ivon mengatakan...

ho~ pantas aja... soalny yang Bag of Bones ceritanya memang rada bertele-tele, hehehe XD
macem Rose Madder juga itu hampir sama (bertele-telenya)
dari segi ceritanya sendiri sih, ak bilang cukup lumayan, tinggal ngadepin rasa bosan untuk menyelesaikan bukunya itu yang...yah, perlu perjuangan XD

nah, tpi klo yang Cell it, kujamin, penuh adegan gory dan tegang abis... O.o
(yang ngritikin buku ini kebanyakan protes soal zombie dan ending yang rada2 deus ex machina, tpi it tak menghalangiku untuk memberikan empat bintang buat bukunya yang satu ini XD)

btw, ak ada bukunya sih, kalau mau coba baca, bisa ak bawa pas kapan2 kita kopdar akbar lagi :)