Selasa, 20 Juli 2010

Hard Stylish Writing #3 ~ Meniru Gaya Bahasa

Baik, sudara-sudari. Kita sudah mulai dengan mendamaikan kekuatan dan kelemahan kita dalam menulis, dan memuluskannya dengan empat pedoman yang sudah kucatat dan kucontohkan. Terus bagaimana? Langkah berikutnya tentu saja, mengasah dan berlatih. Menulislah, lihat hasilnya, dan evaluasi, baik dengan menelaahnya sendiri atau meminta pendapat orang.

Tapi namanya penulis setengah mateng, kadang pada tahap ini kita membaca suatu buku yang kita rasa punya gaya bahasa yang keren. Dan ujung-ujungnya kita jadi tergoda untuk niru. Hal ini tentu sah-sah saja, selama kita bukannya memplagiat karya penulis tersebut. Untuk itulah aku menulis bagian ketiga ini.
   
  
Bagaimana kita harus mulai meniru, dan apa yang harus kita miliki untuk bisa meniru? Teorinya, seperti biasa, mudah. Jika kita mulai meniru gaya bahasa seseorang, yang pertama kita lakukan biasanya mengamati

Bagaimana cara mengamati yang bisa diandalkan? Sedikit petunjuk yang mungkin berguna adalah, tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut.

Pertama, bagaimana pengarang ini membuat deskripsi? Apakah dia menggambarkan sedetil-detilnya, atau hanya deskripsi singkat? Jika sampai sedetil-detilnya, apakah detail itu terasa terlalu banyak sampai kadang ga jelas? Kalau hanya singkat, apakah saking pelitnya gambaran dunianya ga jelas, atau dia menggunakan trik cerdas sehingga gambaran singkat itu cukup untuk membangun apapun yang dia gambarkan di kepala pembaca? Apa trik itu? 

Kedua, bagaimana dia bercerita? Kalimat-kalimat bagaimana yang dia pakai, cenderung panjang atau sangat pendek seperti larik puisi zen? Baku atau tidak? Apakah kalimatnya lengkap? Kalau lengkap, bagaimana kalimat-kalimat itu dimainkan hingga tidak terasa membosankan? Jika kalimatnya tidak lengkap, bagaimana trik pengarang sehingga maksudnya tetap ketangkap?

Ketiga, pilihan kata seperti apa yang dia gunakan? Apakah dia memilih kata-kata yang lazim dipakai dalam novel metropop, misalnya? Ataukah pilihan kata ala novel sejarah? Ataukah ala teenlit? Atau erotika? Atau malah yang lain lagi? Bagaimana kecocokan antara tema cerita dan suasana yang dibawa oleh pilihan kata?  Apakah sudah pas, misalnya seperti novel high fantasy yang bicara dengan bahasa 'tinggi' gitu, atau novel metropop dengan 'bahasa Jakarta', atau malah berasa 'aneh'? Apakah si penulis mencoba twist kreatif, dan berhasil, misalnya menyajikan tema sword and sorcery atau mitologi yang dilihat secara satire, atau dari kacamata modern, sehingga memungkinkan penggunaan bahasa gaul?

Dan keempat, bagaimana dia menghantarkan muatan emosi dalam karyanya? Bagaimana ia menceritakan kesedihan, keterkejutan, kemarahan, rasa malu, ngenye', dan segala emosi lain? Apakah lewat dialog? Lewat tingkah laku tokohnya (orang sedih digambarkan menangis, and so on), lewat teknik penulisan (ketegangan digambarkan dengan narasi satu kalimat/satu kata dalam satu paragraf,) atau bagaimana? Dan bagaimana ia menghunjamkan emosi itu kepada pembaca?

Kita bisa menanyakan semua hal yang kusebut di atas, dan banyak lagi. Analisislah gaya bahasa yang ingin kita tiru sedetil mungkin.

Langkah kedua, ubah hasil analisis kita menjadi pedoman. Ini akan menjadi pedoman tambahan selain keempat pedoman dasar yang sudah kucatat. Misalnya, "Oh, penulis ini ternyata suka pakai kata tidak baku." Atau, "Dia doyan pilihan kata yang sesederhana mungkin, ga pake kata njelimet seperti "koordinasi" atau "bifurkasi" atau "simulakrum". Atau, "Dia doyan kata-kata puitis seperti "merepih", "perlina", de es be." Atau, "Dia suka banget nyelipin anak kalimat pake tanda dash--kayak gini gitu." Bisa juga, "Da kalau kasih deskripsi detail njelimet. Tapi tetep bisa dinikmati karena kalimatnya pendek, dan punya runut yang enak."

Sedikit tips, mungkin ada baiknya kita tidak membuat pedoman terlalu banyak. Cukup ramu sedikit pedoman, dan camkan baik-baik. Ini akan membuat usaha meniru gaya bahasa lebih mudah. Kalaupun pedoman yang kita buat banyak, camkan secara bertahap, jangan semuanya sekaligus. 

Langkah ketiga, mulailah menulislah dengan pedoman-pedoman baru yang sudah kita camkan pada diri sendiri. Mungkin sambil buka-buka buku yang kita tiru. Rasakan kalimat-kalimat yang anda tulis. Enak? Bagus. Enek? Sekarang belum. Tapi nanti, mungkin. Lebai? Pasti. Ada titik dimana kita berusaha terlalu keras untuk meniru sehingga prosa itu malah jadi lebai. Maka, sekali lagi, evaluasi sangat penting. Capek? It can't be helped. Kalau kita mencoba memakai gaya yang 'lain', pada awalnya kita bakalan capek. Dan akan ada proses sampai anda benar-benar sreg dengan gaya bahasa itu. Jadi bersabarlah. 

Nah, di dalam proses yang kusebut, satu dari dua kemungkinan akan terjadi. 

Pertama, anda capek dan bosan sama gaya bahasa itu, dan nggak kunjung menemukan titik enak. Jika ini terjadi, jangan kecewa. Coba cari gaya bahasa lain yang enak, dan ulangi proses itu dari awal. Atau back to basic saja. Pakai empat pedoman dasar, dan tambahkan pedoman lain menurut selera kita. Bukan pedoman hasil analisis gaya penulis favorit kita.

Kemungkinan kedua, tentu saja, anda sreg dengan gaya bahasa itu. Ini biasanya terjadi karena memang keadaan mental anda, atau--kita bicara sok filsafat disini--anda dan pengarang yang anda tiru memiliki persepsi yang serupa dalam memandang dan menceritakan suatu perkara. Namun, anda dan pengarang tetap orang yang berbeda. Dan serupa belum tentu sama.

Pada tahap ini kemungkinan besar anda akan sadar bahwa gaya bahasa 'hasli tiruan' anda berbeda dari gaya bahasa pengarang yang anda tiru, walaupun tetap memiliki karakteristik yang mirip. Dan makin anda berlatih, anda makin yakin dengan gaya bahasa curian anda hingga anda tidak perlu terlalu sering mengintip buku lagi. Uh-oh. Apa yang tengah terjadi disini? Congrats. Anda sudah mendapat gaya bahasa anda sendiri.

Sampai di tahap ini, ibaratnya kita sudah lulus ujian Jedi. Kita baru saja selesai bikin lightsaber sendiri. Apa yang harus dilakukan berikutnya? Latihlah kemampuan anda memegang lightsaber baru anda. Baca karya pengarang lain. Analisis teknik mereka dan cari kemungkinan-kemungkinan untuk menciptakan jurus baru. Berlatih. Tingkatkan force level. Lalu kalahkan Darth Vader--sekalipun dia nggak ada hubungannya sama bahasan kita kali ini. 

Baik. Dengan permintaan maaf sebesar-besarnya pada Lord Vader yang udah terlanjur kena bacok, aku yakin yang membaca artikel ini udah ngeh maksudku apa. Kalaupun ada yang kurang jelas atau ga lengkap, silakan klik tombol lightsaber anda dan layangkan jurus pertama. Atau, bagi mereka yang lebih menyukai metode konvensional, silakan tinggalkan komentar dan mari berdiskusi.



Luz Balthasaar

22 komentar:

Anonim mengatakan...

Ciaaaaaat! Jurus Golok Cahaya membelah bumi! :-P

Soal gaya bahasa tiruan, ada temen saya yang bilang gaya bahasa saya mirip seorang penulis. Dia baca salah satu novelnya dan dia bilang dia ngerasa baca tulisan saya, bukan penulis itu =__= Good news or bad news?

Terus terang saya ga niat niru tulisan penulis itu. Emang sih saya ngaku kalo gaya tulisan penulis itu bener2 ngaruhin saya.

Adrian

Luz Balthasaar mengatakan...

@Adrian,

Good news atau bad news?

Pertanyaan yang benernya lebih baik dijawab, kamu suka dan sreg gak sama gaya bahasa kamu itu?

Kalau kamu suka dan sreg, ga apa-apalah. Tinggal refine aja.

Nanti kalau kamu berkembang, gaya itu juga akan berubah sendiri, pelan-pelan. Kadang perubahannya nggak banyak. Tapi bisa juga sampai ga sama lagi dengan gaya yang ngasi pengaruh ke kamu pada awalnya.

BTW, emang penulis yang mana sih, yang mempengaruhi kamu? Curious aja, wkwkwkwk.

Anonim mengatakan...

Saya udah suka sih dengan gaya saya, mba. Dan udah sreg juga. Yah, berarti saya tinggal latihan jurus2 aja ya? *ngeluarin golok cahaya*

Penulisnya? He he he. Malu ah mba. Jangan di sini yah. Saya kirim PM aja yah lewat email :D

Adrian

Mantoel Toeink mengatakan...

@Adrian: Gw rasa itu good news. Toh situ jg udah sreg dengan gaya bahasa yg digunakan sekarang. Emangnya jadi bad news kalo gimana ...? *malah nanya balik*

Entah pernah ngomong di komen entah di mana ato blm, gaya bahasa yg pertama kali gw tiru adalah gaya bahasa HarPot terjemahan bhs Indonesia. Sesudah baca Ring ama Taiko, gaya bahasa terpengaruh ama gaya bahasa org Jepang (yg udah diterjemahin ke bhs Inggris lalu diterjemahin lg ke bhs Indonesia). Kompilasi Rowling-Yoshikawa lah yg sampe sekarang masih terasa lmyn kuat pengaruhnya pd gw. Kalo dr Rowling, kentara dari tanda hubung (--) sementara kalo dari Yoshikawa kentara dari cara penyampaian yg sering straightforward dan jarang pake perumpamaan.

Hehe.

Roedavan mengatakan...

Aji gile muke gile senam pagi. Saya setuju sangat dengan artikel yang ditulis mbak luz ini. Kita-kita boleh tiru-tiru, boleh jiplak-jiplak gaya, tapi jangan sama, jangan terlalu serupa, ntar malah mati gaya. Gue sendiri lagi belajar bikin2 novel serius. Dengan gaya bahasa serius, plot dua rius dan ide cerita yang tiga rius. Sungguh. Aku serius.

Untuk menunjukkan keseriusan hatiku, ijinkanlah aku mempersembahkan sebuah karyaku dua tahun yang lalu. Sebuah cerita sedih yang sangat menggetarkan jiwa. Episode awal dari Pluto Net Saga:Brownies Reloaded. Cerita tentang cinta, kehidupan, dan pencarian jati diri. Sebuah kisah apik, yang dikemas secara eksotik dan menarik. Sebuah kisah yang akan membuatmu gemetar.

Anonim mengatakan...

@Juu (Eh, ini Juunishi kan? Maap kalo salah)

Syukurlah kalo goodnews ^^ Yah, ayo latihan lagi! *nggulung lengan baju* :D

Bad news kalo gimana ya... (malah balik nanya >< ). Yah, kalo sampe dibilang dia ngerasa baca tulisan gw, itu bukannya parah banget ya miripnya? CMIIW.

Eniwe, gw kaget aja waktu dibilang itu sama temen gw. Gw sama sekali ga niat niru gaya tulisan beliau, tapi kayaknya pengaruh beliau kuat banget di gw. Tapi ga apa2 lah ya buat proses pembelajaran. Kita kan niru dulu waktu pertama-tama belajar, kayak kita niru kata2 nyokap waktu belajar ngomong.


Adrian

Anonim mengatakan...

Nimbrung,

Pernah baca buku Hypnotic Writing-nya Joe Vitale. Di salah satu Bab-nya dipaparkan kalo pengen belajar gaya bahasa penulis tertentu, salin aja karyanya, kata per kata. Teorinya, pikiran bawah sadar lebih cepat menyerap pelajaran dengan cara motorik. Tapi kalo pengen niru Tolkien, pengkor euy...

Salam,

Zenas

Anonim mengatakan...

Kalo aku sih nyaris gagal mulu urusan copy meng-copy gaya. Tiap kali mau nyoba sesuatu, mental mulu. Tapi ya cikal bakal mula-mula gaya tulisanku harusnya sih: "Liburan ke Rumah Kakek di Desa" ato "Upacara 17 Agustusan" ato "Si Kancil". Wkwkwk, tema klise pelajaran ngarang anak SD. Tapi entah kenapa nempel terus. Mungkin gara-gara kesan pertama sulit terlupakan. Halah....

@Zenas
Hoalah? Ada juga trik kaya gitu? Disalin kata per kata?
Menarik juga. Menghipnotis diri. Ehm, coba mulai dikumpul-kumpul siapa aja para penulis favorit, kondang, dan tajir...S.Meyer?!

Heinz.

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Oahhh... jadi merasa kesepet... karena gaya bahasa yang kupakai (cenderung) niru salah seorang penulis terkenal.

Tapi berhubung sang penulis ga terlalu terkenal di Indonesia, jadinya aku nggak pernah diprotes atau dibilang mirip ama penulis itu.

Mudah-mudahan sih gaya bahasa yang (asalnya) niru itu udah kuadopsi jadi gaya bahasa originalku sendiri.

@Zenas, ribet amat ya teknik menirunya. Kalau penulis yang mau kita tiru itu memang sering pake kalimat-kalimat pendek, ya ga masalah. Kalau pengen ngikut Tolkien seperti yang kamu bilang? Ahhh, capek duluan bayanginnya -_-

@Heinz, S. Meyer?!!! Sering-seringlah berlatih menulis dengan frase seperti wajahnya seperti malaikat atau tubuhnya bak patung pualam atau mata emasnya yang selalu menghipnotisku. Niscaya kamu pasti cepet muntah!, ups maksudnya, cepet laku dan ngetren kayak Meyer! d(^_^)

Mantoel Toeink mengatakan...

@Adrian: Iya. Nama gw kalo ninggalin komen di blog (Mantoel Toeink) beda ama yg gw pake di forum2 sih (juunishi master). Maaf kalo membingungkan. :D

Ngg, kalo soal mirip2 gitu, berdasarkan perhatian gw sih bisa krn emang gaya nulisnya ATO malah gaya berdasarkan pelajaran yg didapat si penulis. Gw menggolongkan gaya bahasa secara umum berdasarkan negara, belakangan ini: Eropa (Inggris, Irlandia, dst), Amerika, Jepang. Tiga negara itu lah yg gw rasa plg kentara bedanya.

Org Eropa biasanya rajin menyelipkan asosiasi/pengandaian yg ngepas ke dlm kalimat2nya, rajin deskripsi, dan gak byk kalimat terlalu straightforward.

Org Amerika biasanya lbh luwes (gak terlalu terpaku pada bbrp aturan baku), kalimat2nya lbh straightforward drpd org Eropa, pace biasanya lbh mengambang ato cepat dibanding org Eropa.

Org Jepang sangat straightforward, gak sering pake perumpamaan/asosiasi, pace lbh lambat.

Itu hasil kesimpulan pengamatan ala gw aja sih. Sangat mgkn salah. Kalo ditanya suka pake yg mana, aku suka hybrid antara Eropa-Jepang. Gak begitu sreg ama gaya Amerika.

Gaya Indonesia? Hmm, blm byk buku bhs Indonesia yg kurasa pure gaya bahasa Indonesia yg gw baca, jd maaf blm bisa memberikan kesimpulan pengamatan.

@yican: Heinz emang cocok ke gaya Stephanie Meyer, imho, melihat tema cerita yg dia post di forum. :P Mudah2an aja jatuhnya gak jd pembaca guling2 gak tahan menghadapinya ... (gw rasa elu hrs mengasah kemampuan yg itu, Heinz, spy gak ada yg berhenti baca krn gatal2)

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun, kayaknya aku juga pernah baca deh, tapi di mana aku juga lupa. Di sini, di blog lain, apa di Goodreads?

Kalau ga salah, pada saat bersamaan Rie ngomong soal Om RoJo (Robert Jordan).
__

@Roedavan, Numpang promo link cerita yak? Heheheh. Silakan aja. nanti aku mampir-mampir deh.
__

@Adrian, mau mirip banget juga ga masalah. Yang pasti kamu nggak memplagiat karya dia. Cuma meniru gaya bahasa itu masih ga papa, selama gaya itu cocok sama kamu. Kalau gaya itu ga cocok tapi kamu maksa, biasanya bakal gagal karena kesannya dibuat-buat.
__

@Zenas, thanks, sumbangan tips yang bagus. b[>.<]d

Bagi mereka yang punya waktu, trik ini mungkin berhasil.
__

@heinz: Lha, itu Cinderella Romeo jauh tenan dari cerita anak-anak.

Tapi lihat post Rie dan Juun berikutnya aku langsung kepikiran hal aneh: CR itu kayak ditulis sama Smeyer yang habis pake teknik Hypnotic Writing Zenas untuk niru Ayu Utami. O_O

Cuma selintas pikiran aneh aja sih. Nggak ada maksud nyindir atau apa.
__

@Rie, No please. Jangan utarakan Smeyerism disini!

Bicara sedikit soal Om RoJo, memang sih dia nggak banyak dikenal disini. Sedikit penasaran, ada beda signifikan nggak sih antara gaya bahasa om RoJo sama Om GRR Martin?

Anonim mengatakan...

@yican
Sebenernya yang lebih sering kusorot dari gaya SMeyer itu bukan gaya pualam ato mata emasnya itu. (Tapi aku cuma baca twilight doang ya...)
Yang kusorot itu gayanya dia pas lagi cerita, duh komplit banget. Bella turun dari truk-Bella buka pintu-Bella cuci muka-Bella inget Edward-Bella lap muka-de es te.
Jujur belum bisa aku nulis ampe segitunya.

Kalo tentang mata emas dan pualam, sih, aku sudah mulai praktek dikit-dikit. Dan kebetulan udah ada satu korban yang ke-eneg-an. Hehe.

Dan satu hal lagi yang perlu dipelajari dari SMeyer adalah cara dia menemukan simple creamy wet dream dan lalu men-share-nya menjadi mass hysteria dream.

Btw, baru nonton New Moon (bukan Eclipse). Weks. Si Bella ketus n loyo banget. Ga ngerti kenapa semua tokoh cowo harus kegatelan pas ketemu dia. Ga ngerti kenapa bisa box office luar biasa.

@juun
Forum yang mana? Yang baru di kemudian ato yang di pulpen dulu?

@luz
GRR Martin ada hubungan ama JRR Tolkien? Hehe, gak nyambung.

Heinz.

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Luz, kalo ga salah aku tulis itu di Goodreads deh (aku juga lupa).

Perbedaan Om RoJo dan Om Martin: Om RoJo itu bisa dibilang super duper show, ampe detil yang nggak perlu pun ditulis kayak baju tiap karakter (tiap karakter loh, ga cuma karakter utama!), detil minor kayak pertengkaran antar tokoh cewek, sampai-sampai membuat ceritanya jadi panjang tapi ga ada fokus utamanya.

Kalau Om Martin, menurutku dia sih porsi show-nya udah pas, ga kebangetan kayak Om RoJo dan ga minim juga. Kelebihan Om Martin itu ada di penokohan, jadi setiap tokohnya berasa hidup, bahkan tokoh minor sekalipun punya kepribadian yang khas, ga cuma ada di cerita buat tempelan doang. Dan tokoh yang tadinya kita benci bisa berbalik jadi kita suka atau kita jadi simpati sama dia. Segitu hebatnya penokohan Om Martin (kalau menurutku lho).

Ahh, ada yang alergi akut soal Meyer rupanya hehehe...

@Juun, gaya Jepang terjemahan yang pernah kubaca itu paling kisah Otori. Emang straight to the point banget jadi enak dibaca, tapi pace-nya itu lho, lambat banget. Kalau kamu bisa pake gaya bahasa gitu tapi dengan pace yang proporsional, menurutku jadinya bakal bagus banget.

@Heinz, ati-ati lho, gaya bahasa komplit macam Meyer (seperti yang kamu bilang) bisa jadi pedang bermata dua, karena bisa bikin kamu jadi show berlebihan ampe detil mayor ceritanya ketutupan ama detil minor. Lagian, ga semua pembaca itu mau tahu setiap detil perbuatan yang dilakukan tokoh utama. Mereka lebih peduli untuk ngeliat si tokoh utama melakukan tindakan yang emang jadi fokus cerita.

Daripada baca: bangun tidur-gosok gigi-cuci muka-rapiin tempat-tidur-mandi-pake baju armor-sarapan-ambil pedang-cek ketajaman pedang-baru maju ke medan perang, pembaca lebih milih baca: langsung bangun tidur-pake baju armor-ambil pedang-maju ke medan perang.

Menurutku, Bella di novel lain ama di film, jadi saranku, kalo kamu mau tau kenapa jadi hit banget novelnya, ya baca aja semua novelnya. Jadi box office juga karena kupikir para fans-nya mau melihat wet dream mereka disajikan secara nyata di depan idung mereka. Kyaaaaaaaaaaaaaa......

Aku pernah lihat trailer New Moon. Langsung il-fil pas ngeliat werewolf-nya Jacob yang lebih mirip anjing kampung daripada serigala. Ukhhhh, sakit kepalanya sama kayak waktu ngeliat Phoenix di fil Harry Potter yang lebih mirip ayam -_-

Mantoel Toeink mengatakan...

@Adrian: Di Kemudian rasanya pake juunishi master juga. Di Pulpen mah emang pakenya itu. :D Di VGI, di GI, di GoodReads. Twitter jg pakenya nick itu.

@Luz: Rasanya dulu pernah nulis di komen di blog ini ama di Pulpen kalo soal gaya bahasa gw yg hybrid dari Rowling-Yoshikawa.

@yican: "OBJECTION!!!" *gebrak meja* Trilogi Klan Otori itu BUKAN KARYA ORANG JEPANG ASLI!!! Liat deh nama pengarangnya. Itu yg membuat gw--sejujurnya--muak ama trilogi (yg lama2 kok jadi pancalogi???) itu. :| :| Pengarangnya org Amerika yg pernah ke Jepang, setahu gw bukan org Amerika yg tinggal di Jepang ato org Jepang yg tinggal di Hawaii (pengarang dwilogi Kastel Awan Burung Gereja). Tingkah laku org Jepang yg ada di trilogi Klan Otori itu gak kerasa kyk org Jepang dan yg lbh bkn gw guling2 lg adalah dia mendeskripsikan klan mirip ninja jadi bernama Tribe, mengatakan bahwa shuriken adalah "senjata rahasia berbentuk bintang" dan ... dan ...

...

Yican, apa menurutmu kalo kamu adalah tawanan di sebuah kastil kebakaran krn api yg disulut oleh salah satu org yg ditugaskan menolongmu dan kamu ketemu pria yg kamu sukai (beliau datang menolong ala ninja, sama dgn kyk si penyulut api bkn kebakaran dgn cara ninja juga) dan kamu baru saja membunuh sang pemilik kastil yg mau ngapa2in kamu (mayatnya masih ada di pinggir kamu, masih fresh) dan ...

...

Dan apa kamu akan sempat bermesraan dulu dengan si lelaki yg kamu cintai mati2an itu ...? Lagi kebakaran tuh di luar ...

(fyi, krn di buku kedua diceritain si pemeran utama ce hamil, berarti mesranya agak kelewat batas kan ...?)

Itu--buat gw--membuat gw ilfil. :| Org Jepang seeksentrik dan semesum apapun, di jaman itu, apalagi di situasi itu, gak akan melakukan perbuatan tersebut, gw rasa. :| :|

Hehe.

Roedavan mengatakan...

Yoi bu! Secara si gue ini adalah penulis propesional geetoh. Sangking propesionalnya nih, editornya aja sampe muji2 gue melulu, katanya gini, "baru kali ini saya lihat ada orang yang tiap naskahnya di tolak malah cengengesan..." wkwkwkwkwkw

Danny mengatakan...

*Nrima kiriman kopi yang dilempar diatas meja*

Juu, bagian yang ga kita sukai di Klan Otori ternyata sama.

*Minum dua teguk*

Anonim mengatakan...

@luz
Ayu Utami? Kebetulan ga pernah baca satu pun novelnya. So aku masih pure belum coba menghipnotis diri. Hehe.

Tapi kalo SMeyer sih-uhuk-uhuk....
Mungkin merasuk alam bawah sadar dari label happily ever after yang overdosis semasa kecil. Halah....

@yican
Hm....Ya itulah, kupikir juga tulis panjang lebar seperti itu....
(Baca link yang ditinggalin Kuro di GR pada saat bersamaan)
HAHAHA. Cukup ah.

@juun
Klan Otori? Hm, Lian Hearns ya?
Dulu pernah di kemudian ada yang gila buku ini. Katanya, bagus banget. Berkali-kali dia nyaranin buat baca tuh buku....
Tapi ya aku kepentok tebel dan pandangan pertama.

Heinz.

Mantoel Toeink mengatakan...

@Danny: Satu kasus gw ketemu Godot, gw udah hampir teriak krn ngeliatin tingkahnya di ruang sidang ...

@Heinz: Yee, ente mah kalo baca kyknya kepentok tebel mulu. Sibuk bener ya makanya menghindari yg tebal2?

Hehe.

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Juun, ampun DJ X( kan udah kubilang aku cuma baca itu. EH, ada satu lagi ding yang pernah kubaca, lupa judulnya, ceritanya tentang cowok yang nerusin pertanian tomat dari ortunya, padahal orang-orang sekitarnya udah pada jual tanah mereka, tapi cuma dia yang bertahan. Mungkin kamu tahu?

Emang bener sih, adegan yang itu bikin dahi ngerut. Dan di buku seterusnya makin banyak cerita yang bikin dahi tambah ngerut ampe setengah mual juga...

Anonim mengatakan...

@juun
Yah, kepentok tebel, waktu dan terutama niat sih...
Dan punya kecenderungan single tasker. Kalo udah baca, baca mulu. Jadi kaga nulis-nulis. Dan kalo udah keburu dingin, suka susah start-nya lagi.

Heinz

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun, benernya, orang Jepang jaman dulu itu mesum juga loh. Tapi soal mereka ber bip-bip dan tut-tut di tengah kebakaran memang Holiwut sekali.
__

@Rie, thanks infonya. Aku lom pernah baca WoT atau SoIaF, (and don't plan to do so) so this helps a bit.

Mantoel Toeink mengatakan...

@Luz: Kalo ngebaca dari sankaku sih, emang rasanya org Jepang dari dulu mesum dan agak2 gimanaaa gitu kalo urusan xxx (terlalu byk variasi?).

Tapi, yah, itu deh yg terjadi di buku pertama Otori. Untung gw cuma pinjem bukunya bukan beli. Bisa kecewa gw kalo beli. Ternyata bukunya gak sekedar trilogi lagi tapi ada lima, dgn timeline yg berbeda utk dua buku terakhir.

Hehe.