Selasa, 03 Juli 2012

Fantasy Fiesta 2012 ~ Pangeran yang Dikasihi Laut


Mengingat waktu event Fantasy Fiesta 2012 bertepatan banget dengan penugasan saia ke Negeri Singa Muntah, entry babi halal terpaksa disela dulu dengan cerita yang saia ikutsertakan di Fantasy Fiesta 2012. 

Uploadnya terpaksa malam ini, meski aslinya cerita saia tampil besok di Website Kastil Fantasi. Soalnya besok saia kerja rodi lagi seharian. Terlebih lagi, karena Wireless@SG di lobi hotel serta Marina Bay Sands Expo ternyata BYARPET, sudara-sudari. 

Subhanaloooh~! Ternyata bukan inet Indonesia doang yang doyan byarpet~!
  

Tapi itulah Singapura. SPF. Maksudnya bukan Sun Protection Factor yang ada di label-label kosmetik itu, tapi SHOP, PAY, FINE. Mau yang bagus? Gelontorin dulu tuh duit.

(Pantesan orang di sini pada doyan buku gretongan dari booth Jakarta...)

Tapi Balada Gretongan Singapura - Jakarta akan saia tunda sampai minggu depan. Iya, nyela entry babi halal lagi. Mahap sungguh, tapi ada kisah menarik di sini, yang mungkin inspiratif bagi kita yang merasa orang Indonesia, yang sayang kalau gak diceritakan selagi panas. 

(Yang sekaligus mungkin bisa ngasih pengertian sama semua orang, bahwa kita para PNS muda berusaha keras untuk melakukan pembenahan. Gak gampang memang, tapi kami sangat menghargai dukungan serta bantuan dari semua pihak.)

Untuk sekarang, saia ingin berbagi cerita FF 2012 saia saja. 

Ide cerita ini sebetulnya datang dari pengalaman masa kecil saia. Pas masi bocah, saia dilepas sama bokap berenang di Pantai Natsepa, Ambon. Namanya bocah, jadilah saia kegulung ombak dan nyaris tenggelam. Tapi untunglah waktu itu saia pegangan pada kayu. 

Jelang FF 2012 ini saia dapat ide untuk menuliskannya dalam cerpen. Tokohnya saia ganti cowok aja. Pasalnya, saia ditantang sama Noirciel untuk bikin cerpen dengan tema yang "berani". Jadilah saia GAME ON!!

Kebetulan Dalam Budaya Bugis-Makassar juga dikenal lima macam gender, yaitu oroane (laki-laki), makunrai (perempuan), calalai (perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki), calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan), dan bissu (pendeta yang mencakup semua ciri-ciri jender.)

Saia kira mudah untuk memparalelkan calalai dan calabai dengan sebutan denotatif apapun yang kita gunakan untuk menyebut rekan-rekan yang berorientasi kepada sesama jenis. Hal ini tidak sebaiknya dilakukan. Pertama, menyebut calalai dan calabai dengan konotasi denotatif berarti menjelekkan unsur budaya yang lebih tua daripada Indonesia sendiri. Kedua, pemadanan tersebut tidak sepenuhnya tepat; istilah calalai dan calabai mengandung nilai rasa yang menunjukkan peran seseorang di masyarakat, bukan (sekadar) preferensi seksual. 

Sebab itu, saia mencoba untuk sedikit menunjukkan peran sosial seorang calabai disini; dia adalah laki-laki, tapi dia juga harus menjadi ibu pembimbing. Mohon maaf kepada semua sudara-sudari di Makassar jika masih ada kekurangan. Kesalahan ada di saia, bukan di narasumber saia. T_T

Elemen fantasinya saia dapat dari menantang diri sendiri untuk membuat cerita tipikal Hero's Journey--dan mendekonstruksinya--dalam 3000 kata. Soundtrack selama menulis cerita ini adalah OST Beowulf ~ A Hero Comes Home yang dinyanyikan Idina Menzel. Berikut petikan liriknya:

  
Out of the mist of history
He'll come again
Sailing on ships across the sea
To a wounded Nation

Signs of a savior
Like fire on the water
It's what we prayed for
One of our own

Just wait
Though while he may roam
Always
A hero comes home
He goes where no one has gone
But always
A hero comes home

   
  
Baiklah! Tanpa tunda-tunda lagi, silakan nikmati cerita saia. Komen silakan dilakukan di sini, atau di halaman cerita saia di Kastil Fantasi. (Itu akan saia link belakangan; entah kenapa malam ini situs yang bersangkutan lambat banget loadnya dari Spore, dan saia kehilangan e-mail yang memuat HTML code cerita saia.)
  

***

Pangeran yang Dikasihi Laut



Tahun Seribu, Bulan Mendung Perak, Hari Sepuluh.
Karaeng Somba Opu Keduapuluh Dua mati dan dilarung.

*

Itulah kalimat terakhir di dalam buku riwayat Karaeng Somba Opu Keduapuluh Dua. Memang singkat sekali; para Tua-tua telah memutuskan bahwa rakyat tidak perlu tahu banyak tentang kematianku.

Kulihat dahimu berkerut. Sabarlah, Daeng! Nanti engkau akan tahu alasan mereka memutuskan begitu. Untuk saat ini, tataplah saja pantai Somba Opu. Kaulihat ribuan manusia yang berbaris di pasir putihnya? Mereka rakyatku. Mereka sedang berkabung untukku.

Sekarang amati baik-baik laut dan dermaga di depan pantai. Sebentuk pinisi lamba berlayar tujuh sedang berlabuh di sana. Intiplah bagian dalam kapal itu. Di atas sebuah sekoci berhias, kaubisa melihat tubuhku yang diselimuti cindai laut putih. Kaujuga bisa melihat tangan kananku yang menyandang badik, dan mataku yang tidak akan pernah terbuka lagi.

Engkau terhenyak. “Astaga! Engkau masih begitu muda! Bagaimana bisa?”

Sebetulnya kita tidak usah heran. Langit bisa kikir membagi usia kepada siapa saja. Tapi aku yakin, Daeng, menyalahkan Langit tidak akan membunuh penasaranmu.

***

Sebelum menjadi Karaeng Somba Opu Keduapuluh Dua, aku diberi gelar Andi Pangerang Ningai ri Tamparang. Artinya, Pangeran yang Dikasihi Laut.

Sebutan itu bermula dari suatu upacara adat untuk para pemuda Somba Opu. Saat kami ingin melamar seorang gadis, kami harus membawakan hadiah yang kami ambil sendiri dari kedalaman laut.

Aku tidak suka adat itu. Pasalnya aku bukan penyelam tangguh. Namun, para Tua-tua tidak bersedia mengecualikan siapapun--bahkan seorang pangeran--maka jadilah pada suatu siang, aku berdiri di bibir pantai. Teman-temanku bersorak menyemangati. Hanya kekasihku, Andi Putri Kananga, yang tetap tidak bersuara. Tangannya terkatup dan bibirnya membisikkan doa. Wajahnya pasrah menghadap terang Langit.

Saat tubuhku menyambut pelukan gelombang, takutnya menjadi takutku.

Entah dari mana ombak besar datang. Tubuhku terlilit arus. Napas yang kusimpan terhambur menjadi gelembung. Pandanganku kabur; meski pengawal-pengawalku berjaga di bawah air, aku tidak bisa melihat mereka, apalagi memberi isyarat minta tolong.

Engkau menebak, “Ah! Engkau mati tenggelam!”

Tidak, Daeng. Ketika itu sesuatu menghampiriku dari kedalaman. Kusangka itu seekor nagajene, atau ular air raksasa, karena tubuhnya panjang dan penuh sisik perak. Pun di kepalanya tumbuh rambut berwarna mutiara yang sangat panjang dan berkilau; bagian itulah yang biasa dipangkas para penyelam untuk ditenun menjadi cindai laut.

Tapi kemudian makhluk itu menarik tubuhku dengan tangan-tangan manusia. Juga menyambung napasku dengan napas manusia. Baru setelah menghirup udara di atas laut, kulihat bahwa ia memiliki tubuh bawah ular air, dan tubuh atas seorang pemuda.

Serta-merta aku berkata, “Makhluk apa kau?”

Ia menyahut, “Nagajene.”

Kami berpandangan takjub.

Kemudian ia berkata, “Demi Langit, aku bisa mengerti ucapanmu! Apa kaujuga paham ucapanku?”

Aku mengangguk.

Begitulah awal mulanya, Daeng, hingga aku terikat pada Arung, dan bisa memberi Andi Putri Kananga sembilan kumpar cindai laut terbaik sebagai hadiah lamaran.

***

Arung tidak pernah mempersoalkan mengapa kami bisa saling paham. Tidak juga mengapa bagiku seorang, ia terlihat lain dari nagajene biasa.

“Anggap saja semua ini hadiah Langit,” begitu katanya suatu kali. “Katamu Ia kikir, tapi kataku, Ia murah hati.”

Aku tidak pernah menerima pendapat Arung. Meski demikian, ia mengubah caraku memandang laut. Bagiku tempat itu bukan lagi sekadar genangan raksasa yang menghidupi seluruh rakyat Somba Opu. Jauh di bawah ombak, di mana tidak ada manusia, adat, maupun cakap, Arung menunjukkan padaku suatu tatanan yang dapat kuanandai-andaikan sebagai negeri. Warganya para nagajene; mereka tinggal di gua-gua bawah air, dan menjalani hari dengan menyebar bakal bunga karang ke seluruh penjuru laut.

Mereka juga menggembala ikan dan berburu camar.

“Tunggu,” engkau menyela. “Bagaimana caranya ular air berburu camar?”

Aku pernah menanyakan hal yang sama kepada Arung. Alih-alih menjelaskan, ia menyuruhku naik ke perahu cadik dan mengikutinya ke tengah laut. Ia menyelam tidak jauh dari permukaan air dan mulai bergerak meliuk. Sisiknya berkilau, persis sekawanan ikan baronang.

Selang sebentar seekor camar terpancing turun, tampaknya hendak menyambar makan siang. Begitu si burung melayang cukup rendah, Arung melompat keluar dari permukaan air.

Tangan-tangannya menyambar makhluk itu.

Ekornya, dan rambutnya yang telah kembali panjang setelah dulu kupangkas, membentuk sepasang lengkung perak.

Menjelang senja kami kembali ke pantai. Di sana aku belajar bahwa camar bakar ternyata lezat, walau Arung bersikeras daging burung lebih enak mentah. Para nelayan dan penyelam menatap gentar ke arah kami. Wajar saja; bagi orang selain diriku, Arung kelihatan seperti nagajene biasa, seekor ular laut raksasa yang cukup besar untuk melahap orang.

Aku tidak begitu acuh pada mereka. Sampai kemudian datang para tubarani, alias ksatria-ksatria istana, para lelaki dan perempuan tangguh yang menyandang badik dan memakai ikat kepala bersulam ikan pedang. Kulihat cemas pada raut mereka, maka kuberi isyarat agar sang pemimpin tubarani datang mendekat. 

Ia mematuhi; begitu Arung melonggarkan ekornya--yang melingkar longgar di sekitarku--ia berlutut dan mengatupkan tangan di depan kening.

“Andi Pangerang Ningai ri Tamparang,” begitu ia menyapa, “Maafkan kami karena membawa berita buruk. Andi Putri Kananga tiba-tiba tak sadarkan diri. Kembalilah ke istana, sekarang juga!”

***

“Istrimu terkena teluh.”

Demikian kata Dukun Tenri, ahli nujum istana yang juga bibi istriku.

“Sebetulnya, kaulah yang disasar, Andi Pangerang,” ia melanjutkan. “Tapi laut mengasihimu. Laut melindungimu, maka teluh itu tertepis kepada dua orang yang paling dekat denganmu.”

“Dua?”

“Kemenakanku sedang mengandung putramu.”

Pernahkah kaualami apa yang saat itu kualami, Daeng? Kekasih dan darah dagingmu, menyambut maut yang sebetulnya dikirim untukmu? Mungkin tidak. Tapi kalau pernah, kuyakin engkau akan menanyakan hal yang berikutnya kutanyakan, disertai murka yang sama.

“Perbuatan siapa ini?”

“I Manrabbia Karaeng ri Tallo. Pamanmu.”

Ah, seharusnya aku bisa menduga. Karaeng Tallo. Raja Tallo, negeri tetangga Somba Opu. Ia kakak Ayah. Hubungan mereka terlihat baik, tapi Ayah tahu benar bahwa saudaranya itu luar biasa licik.

“Jika engkau dan ayahmu lenyap, Andi Pangerang, Somba Opu akan jadi miliknya,” kata Dukun Tenri lagi. “Apalagi kalau menimbang keadaan kemenakanku dan putramu yang sekarang.”

Selama tiga malam setelah itu, aku tidak beranjak dari sisi Andi Putri Kananga. Pada pagi hari keempat ia sadar. Ia tersenyum, menyentuh wajahku, lalu berbisik lemah, “Teluh ini luar biasa kuat. Kukira Karaeng Tallo melahirkannya dengan menggunakan segenap murkanya kepadamu. Pergilah cari nenek buyut dari nenek buyutku, Tumangissengi I Balangkoa, yang tinggal di Pulau Padengo. Ia tahu cara mematahkan segala teluh.”

Maka aku melaksanakan pesan istriku, dan engkau menerka lagi, “Ah! Engkau mati saat mencari pulau itu! Perahumu tergulung ombak!”

Mana mungkin aku mati tenggelam, Daeng. Lupakah engkau pada Arung?

Satu malam sebelum berangkat, aku merenung di lepas pantai. Arung datang. Ia memanjat ke dalam perahu tempatku duduk. Separuh ekornya melingkar di dalam, separuh lagi menjuntai di air. Matanya terpejam. Sisik dan rambutnya cemerlang di bawah purnama.

“Jangan takut,” begitu ia berkata. “Engkau tidak akan berlayar sendirian. Aku bersamamu.”

“Tak bisa begitu,” bantahku. “Kata Dukun Tenri, Pulau Padengo tidak akan terlihat oleh manusia yang mencoba datang bersama satu atau lebih manusia lain.”

Arung tertawa. “Satu atau lebih manusia,” ujarnya. “Aku bukan manusia, dan kalaupun manusia, hanya separuh.”

***

Telah seminggu lebih kami berlayar ke selatan. Laut tenang dan angin bersahabat, tapi keduanya tidak kunikmati. Bayangan istriku yang pucat terus-menerus hadir mengusik. Aku berusaha mengaburkannya dengan menyibukkan diri. Kadang membaca bintang, kadang mengikat temali, paling sering menangkap ikan.

Tapi tidak ada yang berhasil. Tidak bahkan berlatih badik. Padahal, aku adalah petarung tertangguh di Somba Opu. Biasanya, sekali aku memegang senjata, tidak sesuatupun bisa mengusik untai jurusku.

Mungkin karena itulah, semakin hari, aku semakin tidak menyukai saat-saat Arung naik ke perahu. Aku tahu ia bermaksud baik. Ia giat mengajak bicara agar aku tidak berkubang sedih. Kadang bahkan ia membawakan tiram agar tubuhku tetap kuat, atau mencarikan rumput lawi-lawi lezat yang hanya tumbuh di laut dalam.

Tetapi sungguh, aku tidak tahan melihat senyumnya. Betapa ia begitu tenang, begitu bebas, begitu bahagia! Bagi Arung, perjalananku adalah petualangan mendebarkan dua orang sahabat. Bukan pertaruhan menyakitkan untuk menolong seorang kekasih.

Pada suatu malam aku hampir meminta Arung agar tidak datang terlalu sering. Tapi belum lagi kata kususun, ia mendongak ke langit dan berseru, “Parakang!

Serta-merta kuhunus badik. Di atas kepala kami, tampak makhluk-makhluk yang disebut Arung. Parakang, mayat-mayat manusia yang dihidupkan lewat kuasa teluh, dengan ekor kalajengking raksasa alih-alih kaki, dan sayap-sayap lebar yang dianyam dari bayangan. Tampaknya Karaeng Tallo mengirim mereka karena teluh biasa tidak mampu mencapaiku di tengah laut.

Makhluk-makhluk itu menukik. Satu kusabet tepat di pinggang. Selagi ia terhuyung, Arung menyambar dan menariknya ke bawah air, membuyarkan napasnya.

Kami melakukan hal yang sama untuk membunuh empat ekor parakang sisanya. Tiga mati mudah sementara satu melawan gigih. Saat hendak ditenggelamkan, ia menyengat bahu Arung. Mereka bergumuk, keluar masuk permukaan air, sementara aku hanya bisa diam. Terlalu cepat, silih ganti ekor perak dan sayap bayangan itu; jika aku menebas, bisa jadi jurusku hanya akan melukai sahabatku.

Lama kemudian baru makhluk itu diam. Arung membiarkannya tenggelam lalu mendekat ke perahu. Di sekitar luka sengat pada bahunya, tampak pembuluh-pembuluh darah yang berdenyut, ungu bersisip racun.

“Kita harus mencari dukun,” aku berkata.

“Ke mana kauhendak mencari, di tengah laut seperti ini?”

“Ke manapun!” balasku sengit. “Engkau teracuni oleh teluh yang lahir dari murka raja. Luka ini kecil, tapi kalau dibiarkan, kaupasti mati. Jangankan engkau; istriku nyaris meninggal karena teluh Karaeng Tallo, padahal di dalam nadinya mengalir darah para dukun terkuat!”

“Tetapi istrimu bukan raja. Padahal, murka seorang raja hanya bisa dilawan dengan kasih seorang raja.”

Aku tidak mengerti. Pun Arung tidak menjelaskan. Ia hanya menyentuh dadanya dengan telapak kanan, lalu memindahkan tangan itu ke dadaku.

Pembuluh ungu di sekitar lukanya pupus seketika. Pagi harinya, luka tersebut sudah hilang tanpa bekas.

Sejak itu malam-malam kami tidak pernah tenang. Menjelang senja parakang selalu datang. Kadang lima. Kadang tujuh. Tapi pernah pula hanya tiga. Arung menjelaskan kalau itu adalah pertanda bahwa kekuatan Karaeng Tallo melemah, karena, “Istri dan dukunmu mencoba memakai kasih ayahmu untuk melawan pamanmu.”

“Apa mereka akan menang?”

“Jika kasih ayahmu lebih kuat daripada murka pamanmu.”

Mendengar itu harapanku naik. Aku menimbang untuk pulang, tapi Arung tidak setuju. “Tetaplah mencari I Balangkoa,” ia berkata. “Dukunmu akan mengirim kabar kalau mereka menang.”

Aku menurut.

Tiga hari kemudian, seekor gagak putih turun ke perahu. Dari hiasan manik-manik pada lehernya, aku tahu bahwa burung itu dikirim oleh Dukun Tenri.

Pada cakarnya tergenggam dua benda.

Yang pertama adalah sehelai ikat kepala merah, bersulam nagajene emas dan bunga karang. Ikat kepala ayahku, Sang Karaeng Somba Opu Keduapuluh Satu.

Yang satu lagi adalah carikan selendang. Aku mengenali bahannya. Cindai laut terbaik, rambut Arung yang kujadikan hadiah saat melamar istriku.

Kedua benda tersebut ditulisi pesan yang sama. Bukan dengan huruf tapi dengan noda darah, hitam dan busuk oleh kemenangan teluh.

***

Jika saat itu engkau kutanya, “Apa yang baiknya kulakukan?” apakah jawabmu, Daeng? Akankah kausuruh aku kembali ke Somba Opu untuk melawan Karaeng Tallo?

Engkau menggeleng.

Benar, Daeng. Kembali adalah perbuatan bodoh. Barangkali aku bisa melawan Karaeng Tallo karena aku dilindungi laut, tetapi itu berarti menepiskan teluh kepada mereka yang kukasihi. Ayah dan istriku telah mati. Mungkin berikutnya Ibu yang kena. Lalu saudara-saudaraku. Lalu pengawal-pengawalku. Dan akhirnya, rakyatku.

Tetapi pada saat itu akalku sudah hilang. Sambil berteriak-teriak aku mengayuh ke arah darat. Arung mencegah; ia menggerakkan tabir awan menutup Langit, membuatku tidak bisa membaca bintang. Ia juga menyuruh arus merampas dayungku, dan memerintah kawanan nagajene untuk mendorong perahuku menjauhi Somba Opu.

Pada akhirnya ia menang. Perahuku merapat di Pulau Padengo. Aku merangkak keluar, dan berteriak mengutuki Arung sampai sadarku hilang.

Saat bangun aku telah berada di sebuah kuil pualam. Penghuninya para gadis dan pemuda berbaju putih. Mereka merawatku selama dua hari, lalu membawaku menemui Tumangissengi I Balangkoa yang cantik tapi mengerikan, yang memakai gaun dari bulu-bulu gagak putih.

“Karaeng Somba Opu,” demikian ia menyapa, sama sekali tidak lalai bahwa kematian Ayah telah menjadikanku raja. “Engkau kemari untuk membalas Karaeng Tallo. Benarkah?”

Aku mengangguk. Kepalanku erat, menggenggam ikat kepala ayah dan selendang istriku.

“Ini perkara pelik, Karaeng. Teluh semakin kuat seiring bertambahnya jiwa yang ia renggut. Karaeng Tallo telah membunuh cicit dari cicitku, juga ayahmu. Satu berdarah dukun, satu seorang raja. Jika kita hendak mematahkan teluhnya, kita juga harus mengorbankan darah dukun dan seorang raja.”

I Balangkoa berhenti sejenak.

“Aku bisa membayar syarat pertama dengan darahku. Tetapi yang kedua—”

Aku lekas memotong, “Engkau menginginkan jiwaku.”

I Balangkoa menggeleng.

“Jika engkau mati, Karaeng, murka siapa yang harus kupakai untuk melahirkan teluh balasan?”

Setelah itu ia tersenyum pahit dan mengajukan satu pertanyaan kejam.

“Ribuan tahun lalu, kami, para penghuni Pulau Padengo, memberi gelar karaeng kepada raja-raja yang lahir di atas tanah. Tapi tahukah kau, gelar apa yang kami berikan kepada raja-raja yang menjelma dari kasih laut?”

***

“Arung.”

Makhluk yang kupanggil muncul dari antara lipatan ombak. Ia melata di atas pasir pantai dan menghampiriku.

“Ada apa, Karaeng?”

Saat itu adalah kali pertama Arung menyebut gelarku. Harusnya aku sadar bahwa hal tersebut adalah suatu pertanda. Ia sudah tahu mengapa aku ingin bertemu dengannya, dan juga niat apa yang bermain di benakku.

“Maaf aku mengumpatmu kemarin.”

Tapi ia tidak lari.

“Tidak mengapa.”

Aku melanjutkan, “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

“Dan itu adalah?”

“Jika raja Somba Opu bertitah, semua yang ada di Somba Opu, baik itu nelayan, prajurit, maupun dukun, patuh kepadanya. Bukan begitu?”

“Benar.”

“Seperti halnya jika raja laut bertitah, semua yang ada di laut, baik arus, awan, dan para nagajene, patuh kepadanya.”

Arung mengangguk lemah.

Dulu, ia pernah berkata bahwa Langit murah hati. Jika itu benar, tentu Langit akan mencegah hal-hal yang berikutnya terjadi di antara kami. Langit akan memutar balik waktu. Langit akan mengembalikan masa-masa ketika aku masih menjadi Pangeran yang Dikasihi Laut, ketika aku tidak tahu bahwa arung bukanlah nama, tetapi gelar.

Kami berhadapan.

Arung menutup mata.

Napasnya, yang dulu pernah menyambung napasku, berubah menjadi dangkal dan putus-putus.

***

Aku yakin Daeng, engkau bisa membayangkan apa yang berikutnya kulakukan.

Engkau bisa merasai getar tanganku saat menghunjam badik.

Engkau bisa mendengar raunganku, saat tertunai syarat I Balangkoa untuk membalas Karaeng Tallo; saat degup-degup terakhir jantung Arung merambat pada kale badikku, dan menjerit, dari tubuhnya ke jiwaku.

Engkau diam, Daeng. Langit juga. Tetapi berbeda darimu, Ia diam bukan karena kaget atau muak.

Ia tidak peduli.

Ia membiarkan aku mencicipi kematian.

Ia juga tidak mencegah Arung menunjukkan kepada siapa kasihnya tertuju. Begitu singkat, dengan ketulusan yang membunuhku pelan-pelan, tidak ubahnya luka yang terus berdarah.

***

Ketika aku pulang, para Tua-tua telah menulis beberapa catatan baru di dalam buku riwayatku. Bunyinya seperti ini:

Tahun Sembilan Ratus Sembilan Puluh Empat, Bulan Karang Surut, Hari Delapan.

Karaeng Tallo berupaya merebut Somba Opu dengan teluh. Andi Pangerang Ningai ri Tamparang menghalangi niatnya, dengan berlayar ke Pulau Padengo . . . .

*

Tahun Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan, Bulan Badai Kelana, Hari Tiga.

Andi Pangerang Ningai ri Tamparang kembali. Nyaris seluruh keluarganya telah mangkat, tetapi perjalanannya tidak percuma. Ia berhasil mengajukan pinta kepada Tumangissengi I Balangkoa, yang melahirkan teluh balasan dan membunuh Karaeng Tallo . . . .

*

Tetapi lihatlah, Daeng! Tidak mereka sebut mengapa kuperlu lima tahun untuk kembali. Sesungguhnya, I Balangkoa menahanku, dan mencoba segala cara untuk memulihkan jiwaku setelah apa yang kuperbuat.

Ia gagal.

Maka pulanglah aku sebagai jasad bernapas yang dihantui kenangan. Setiap hari aku meracau tentang ikat kepala nagajene. Atau selendang putih. Tapi paling sering, tentang laut yang mengasihiku, dan kubunuh dengan tangan sendiri.

Puncak kegilaanku terjadi pada suatu senja. Ketika itu aku dikunjungi oleh Patarai, anakku lelaki, hadiah terakhir dari Andi Putri Kananga. Dukun Tenri telah menyelamatkannya, dengan memohon pada Langit, agar ia boleh tumbuh dan lahir dari dalam anyaman daun lontara bertulis doa. Seharusnya ia kujaga dan kukasihi. Tetapi apa yang kuperbuat?

Aku mencekiknya.

Padahal apakah dosanya, selain bahwa ia memberiku pelukan, dan berkata bahwa ia mengasihiku? Selain bahwa ia kebetulan mengulangi apa yang diperbuat Arung sebelum mati?

Maka para Tua-tua membuat keputusan. Hal terbaik untuk Somba Opu adalah meracuniku, dan tidak membiarkan rakyat tahu terlalu banyak tentang kematianku.

Engkau tidak menyalahkan mereka. Aku tahu itu.

***

Nah, Daeng, telah kupenuhi janjiku. Kautahu kini bagaimana aku mati. Kaujuga paham tentu, mengapa Langit mengembalikan warasku, sekaligus mengutukku menjadi arwah kelana: Ia ingin aku meratapi semua perbuatanku untuk selamanya.

Apa kau ingin mengatakan sesuatu?

Engkau menggeleng dan menatap iba. Pertama kepadaku, lalu ke arah pinisi pelarunganku. Tambatan kapal itu baru saja dilepas. Angin dan ombak mendorongnya ke tengah laut, menuju titik di mana jasadku akan meninggalkan geladaknya.

Saat itu tak akan lama lagi, Daeng. Maukah engkau menemaniku sampai semuanya selesai?

Engkau mengangguk.

Maka ijinkanlah aku pamit sejenak untuk berbaring di dalam jasadku. Para pengawal istana telah menurunkan sekoci berhias ke permukaan laut, Dukun Tenri mengawasi mereka. Di sebelahnya Patarai berdiri, memakai ikat kepala bersulam nagajene dan bunga karang. Bekas-bekas jemariku di lehernya belum hilang. Namun, ia masih bisa menangis untukku.

Begitu sekoci berada di atas air, Dukun Tenri membaca doa agar laut menerima tubuhku dan Langit menerima jiwaku. Tetapi entah dari mana, ombak besar menggulung sekociku. Sama seperti ketika aku dulu menyelam demi mencari hadiah lamaran. Dan seperti dulu juga, tangan-tangan manusia menarik tubuhku.

Seseorang menyapaku.

Selamat datang, Karaeng.

Arung?

Mustahil.

Apa begitu mustahil, jika kukata Langit mengijinkanku menunggumu?

Tidak mungkin. Tidak mungkin Arung menolak ketenangan abadi, hanya demi menunggu aku, arwah kelana yang dikutuk Langit.

Engkau tidak dikutuk, Karaeng. Dulu engkau merampas seorang raja dari laut. Tetapi baru saja, rakyatmu menyerahkan seorang raja kepada laut. Bagi Langit, engkau sekedar berhutang, dan sekarang, Ia memberimu kesempatan membayar.

Ah, Arung! Bagaimana aku harus membayar?

Ia menjawab, seketika, dengan memberiku napas untuk kali kedua. Desir-desir tenaga memasuki relung-relung jasadku dan mengisi kekosongan yang dahulu pernah ditempati hidup. Pelan-pelan jemariku bergerak. Mataku mengerjap, lalu terbuka lebar.

Adakah kaulihat apa yang kulihat, Daeng? Negeri di bawah laut, menampakkan diri tanpa aku perlu berandai-andai. Bunga-bunga karang, dalam kecerahan yang tidak pernah terindra mata manusia, menari di bawah jejaring sinar matahari dan buih ombak. Arus, awan, serta angin bergulung sepintalan, Ketiganya berbisik kepadaku, mengajariku bercakap dalam bahasa mereka.

Dan para nagajene, semua nagajene, kini tampak separuh manusia. Tangan mereka terkatup di depan dada. Serempak mereka memanggil aku sekaligus memanggil laut yang mengasihiku. Tunduk menghormat, kepada kami yang telah satu.

Selamat datang kembali, Arung.

***

Adakah kauduga ceritaku berakhir begini?

Jika kaubalikkan pertanyaan tersebut kepadaku, akan kujawab, “Tidak.”

Pun tak kusangka, bahwa ketika aku menengadah, terjadi sesuatu yang luar biasa.

Dari bawah permukaan laut, kulihat seekor camar terbang di Langit. Aku melompat ke luar air untuk menyambar burung tersebut. Tidak kusangka, tubuhku rupanya melonjak tepat di depan pinisi pelarunganku sendiri.

Para tubarani berseru takjub, “Nagajene! Nagajene!”

Dukun Tenri mengucap doa puji. Setelahnya ia berseru lantang, “Ini suatu pertanda! I Malombassi Karaeng ri Somba Opu telah damai!”

Sorak bergemuruh sorai. Di tengahnya Patarai menengadah. Takjub ia menatap sepasang lengkung perak, tubuh dan rambutku yang berkilau di bawah matahari.

Senyumnya berubah menjadi satu kata indah.

Engkau tertawa. “Apa ia bilang, ‘Ayah’?”

Ah, Daeng! Akhirnya ada juga tebakanmu yang tepat!

~fin






21 komentar:

Chwilyswr mengatakan...

Padat kenyal, setiap katanya bergizi ... susah kalo memaksakan diri untuk mencari bagian mana yang pantas untuk diskip.

H O W ??!!?!

Maryos mengatakan...

Rada kurang berasa 'feel'nya ya. Apa karena cuma 3000 kata? Hehehehe.
Menurut saya, endingnya sampe si Karaeng 'dibuang' ke laut juga oke kok. Justru cerita ini (lagi-lagi menurut saya) lebih cocok kalo sad ending. ._.

Terus ada beberapa narasi kurang sreg gitu. Misalnya:
Napasnya, yang dulu pernah menyambung napasku, berubah menjadi dangkal dan pendek-pendek.

Saya paham itu maksudnya dia mau mati, tapi kayaknya penggunaan 'pendek-pendek' kurang tepat deh (kurang cantik juga). Lebih baik kalau misalnya 'terputus-putus' atau 'kian lama kian luntur' *sok tahu banget sih saya*

Oh iya. Karena saya baca di blog, makanya saya tahu ini berhubungan dengan Makassar dan gak terlalu terganggu dengan pengunaan istilahnya. Tapi... misalnya saya baca di KasFan (tanpa keterangan), apa saya bakal gak bingung? ...Entahlah.

Satu lagi, penulisan 'siapapun' (termasuk apapun, kapanpun, dan di manapun) itu dipisah. Jadinya 'siapa pun' :)

Segitu aja deh. Saya gak mau dikatain sok tahu. *huahahahaha*

NB: Saya lebih suka Dongeng Kanvas. :(

Shelly Fw mengatakan...

Terbukti, tantangannya sudah terealisasikan dengan baik bbbbbbuaaaaaaaangettttttttt *uhuk

Apakah cerita ini ada extended versionnya? Oya, ilustrasinya juga bagus. Pun sempurnanya hingga pada titik komanya.
=D

Luz Balthasaar mengatakan...

Ah, thanks! Saia mikir lama untuk bikin cerita ini. Glad you enjoyed everything. ^^

Luz Balthasaar mengatakan...

Sebetulnya, gak semua partikel "pun" harus terpisah. Saia liat di wikisource versi mobile ini...

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_ejaan_dan_penulisan_kata#section_1

Tapi yang dianggap yang lazim diserangkaikan bagaimana, saia belum bisa cari resource. :(

Dan saia pikir kian lama kian luntur itu malah... Lebai max. Hehehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

Extended? Ga ada rencana si. Tapi kalau mau dibikin cerita pakai dunia ini, kayaknya bisa banget.

Makasih da mampir n baca~

Anggra mengatakan...

All hail Spork!
Akhirnya, ada juga cerita fantasi bertema lokal yang dibawakan dengan gaya gak sotoy, ramah awam dan terasa keindahannya. Komen? Akhir cerita ini membuatku sedih. Sedih karena nagih... T_T

Luz Balthasaar mengatakan...

Makaci Bu Phantabib, Oink~

Moga2 ramah awamnya masi dapet pas di Kasfan. Nyderhanain nama2 nya sulit soale. (Iya, yang di atas itu dah sederhana. Nama raja Bugis atau Makassar itu bisa sampe 9 kata...T_T)

Kalaupun yang baca ga tau itu dari Makassar (seperti yang dicemaskan Maryos di atas), saia ngebidik asal suasana lautnya dapet, aja...

Dan saia gumbira karena ternyata Pemda Makassar bikin proyek transplantasi terumbu karang di Somba Opu~ yay! #OOT

Makasih dah baca~ dan buat Maryos--maap saia kecepetan ngetik posting reply dikau sebelum inet byarpet lagi--thanks komennya. Minta resource digital/online tata bahasa yang bagus dong, kalau ada~

Anggra mengatakan...

Hum.. Tambahan ikutan sotoy nanggapin Maryos.

Fyi. Aku buta sama sekali sama daerah Makasar. Dan tahu ini Makasar karena dikasih tahu penulisnya sendiri.

Persoalan yang selalu jadi halanganku menikmati fantasi tema lokal bukan soal tahu nggaknya ini dari daerah mana, tapi penggunaan-penggunaan istilah daerah dalam cerita. Yang mana, bahasa keren high-fantasinya: Babi.

Saya ada turunan Jawa. Seumur hidup tinggal di Pulau Jawa. Masa sih, saya ga familiar dengan nuansa Jawa? Tapi tetap aja, beberapa cerita fikfan yang angkat budaya Jawa membuat saya ngos-ngosan karena istilah-istilah yang dipakai penulisnya. Maklumlah. Saya ndak fasih basa jawa. XD

Jadi, walaupun cerita ini ditaruh di kasfan tanpa intro dan daftar istilah, saya yakin, saya masih bisa menikmatinya. Hohoho~

Anggra mengatakan...

Grao~
Ada yang kehapus di tengah >.<;;;

*Tetapi cerita yang ini. Kendati banyak istilah-istilah yang saya ga tau pada awalnya, namun berhasil dijelaskan Luz melalui jalannya cerita. Sehingga dengan sendirinya, pembaca bisa memahaminya tanpa daftar istilah*

#blame on tab +__+;;;

UniversalNikko+Mayoko Aiko mengatakan...

Ah. Apa pun itu, aku selalu tertarik dengan Fantasy. Walau sama sekali tidak tahu penulis-penulis fantasy ternama lain. Apa lagi Fantasy ini mengangkat tema lokalitas. Sangat menarik, sangat perfect menurutku. Go go go. Suka dengan nama-nama tokohnya. :)

Maryos mengatakan...

Perihal partikel pun: saya mengacu pada buku EYD yang ada di kamar saya dan guru Bahasa Indonesia saya. XD
Soalnya waktu itu juga saya pernah buat kesalahan yang sama, dan Beliau membetulkannya. Partikel pun yang digabung itu (setahu saya) cuma: walaupun, meskipun, bagaimanapun, sekalipun, dsb (lupa+males mikir). Nah, partikel pun pada apapun, siapapun, dsb dsb itu setahu saya dipisah. ._.
Nanti deh saya cari kalo ada sumber yang online kalo udah on pake komputer. Hehehehe. Kalo gak salah waktu itu di Wikipedia saya pernah lihat deh.

Perihal lebai max: o...TL
Itu saya mikirnya sambil ngapain ya? Kok bisa muncul kata-kata begitu? Myahahahahah ~
Ya sudah, 'terputus-putus' saja. *maksa banget sih*

Maryos mengatakan...

Ini cuma tentang partikel pun sih:
http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=6277

._.

Luz Balthasaar mengatakan...

Hmm... Cuman beberapa tuh contohnya. Gak semua. Yang dipisah juga contohnya semua kata ganti, atau subyek. Saia sepertinya sudah memisah kata ganti dan subyek.

Dan bagaimana dengan "kaupun"? "Kau" itu harus disambung. "Pun" katanya harus terpisah. Jadi yang benar gimana dunk~?

Xixixi~ anyway, makasih resource-nya. ^^ Akan digunakan semaksimal mungkin saat mengedit~

Luz Balthasaar mengatakan...

Hoho~ thanks Mas. Saia akan berusaha untuk terus mengembangkan kemampuan. Sudah waktunya kita punya literatur fantasi yang bisa kita katakan sebagai "milik kita" dengan rasa bangga. Let's go~!

Maryos mengatakan...

Seingat saya (ini kalo saya gak salah ingat omongan guru saya dulu), memang cuma ada 12 kata yang menggunakan partikel pun tanpa pemisahan. Di artikel itu pas ada 12 kan? Berarti, (gampangnya) kata lain selain yang 12 itu ... dipisah.

Betewe kenapa kita jadi ngeributin partikel pun yak? xD

Luz Balthasaar mengatakan...

Gak ngerasa ngeributin si saia...~

Kenapa cuma 12, BTW?

Dan saia juga nggak pernah dengar aturan cuma 12 itu. Kalau memang cuma 12, kenapa Wikisource tidak memuat?

Bahkan penulis blognya sendiri bilang "beberapa," yang berarti sepengetahuan dia, itu nggak lengkap.

Saia juga pernah ngambil kelas tata Bahasa Indonesia sama seorang profesor Bahasa Indonesia, dan yang bersangkutan nggak menyebut apa-apa soal itu. Mungkin beliau kelupaan ya?

Anonim mengatakan...

Well this story is good, cuma aku kurang bisa mbayangin seperti apa bentuk istana di sana, atau sesuatu yang bisa mengingat tempat itu? But overall cerpennya bagus dengan twist ending menarik

Salam,
Fadhilol

Luz Balthasaar mengatakan...

Yesh, saia setujuh!

Deskripsinya sengaja minim karena batas kata. Walau memang, saia memahami sekali kalau untuk cerita ini, orang kepengen lebih banyak deskripsi.

Doakan saia biar suatu hari saia bisa kembangkan cerita ini novel laris yak... :D Thanks kunjungannya!

Soul Violet mengatakan...

K izin cerita kk mau bikin drama dari guru, boleh?

Soul Violet mengatakan...

Eettt, tugas drama dari guru maksudnya k.