Sabtu, 10 November 2012

Critical HIT! ~ Pedoman Sederhana Menjadi KriTikus


Di sela-sela ngerjain tugas kuliah, saia lagi gandrung-gandrungnya latihan nulis sekaligus nontonin adek main Lollipop Chainsaw yang dipinjamkan Oyabun Noirciel


F*ck logic, I have a chainsaw!

"Lollipop, lollipop~! Oooh, lolli-lolli-lollipop~!" Yep, lagu itu udah nempel di kepala saia. Maaf.
  
  
Dengan mood yang rada-rada ringan ini, saia akhirnya siap merangkum rant saia di Twitter beberapa waktu lalu. Pada saat itu saia lagi bete karena disuruh bikin repiu dari sebuah buku tentang penelitian sosial. Jadi yea, hasilnya berupa omelan. Semoga dengan mood yang mendingan ini tulisan saia jadi rada enakan dibaca. 

Saia ingin memulai tulisan dengan menyebut a certain Panda, again. Terima kasih sudah retweet dan merangkum rantwit saia di sini. Terima kasih juga kepada @Khairzen, @miapras, @garirakaisambu, @tukangreview, dan orang-orang lain yang waktu itu menanggapi twit saia dan ngasih pendapat. Pada intinya, kita semua sepakat bahwa kita memerlukan kritik, sekalipun kita nggak selalu suka, atau bisa, mengakui hal itu. 

Akan tetapi, kenyataan tersebut bukan free pass bagi kriTikus untuk ngomong sesuka hati. Alasan pertama, meski pembeli adalah raja, kriTikus belum tentu pembeli. Terutama jika dia nggak membayar penulis yang dia kritik. Hal inilah yang mendasari prinsip saia untuk nggak merepiu novel (fikfan Indonesia) yang nggak saia beli.  

Sejalan dengan ini, saia juga nggak pernah membabat draft orang kalau bukan yang bersangkutan sendiri yang minta. Atau, jika draft itu memang disediakan secara publik untuk dikomentari. Pada banyak kasus pun biasanya saia nanya dulu. Yakin mau? Plus, mau sepedas-pedasnya nih? Kalau ada yang minta gak pedas, saia senang hati ngasih. Buat saia itu nggak menunjukkan kelemahan. Itu cuma pilihan bijak dari orang yang memahami arti manajemen stress.

Hal kedua, kalaupun kriTikus membeli buku si penulis, saia percaya bahwa komen obyektif itu ga ada. Semua komen itu sifatnya subyektif. Semua ditulis menurut pengetahuan satu orang. KriTikus yang beritikad baik akan menyadari ini. Sebab itu dia akan mendukung kritiknya dengan memberikan dasar-dasar yang sedapatnya meyakinkan, atau menimbulkan kesan masuk akal mengapa dia berpikir begitu

Sebaliknya, kriTikus yang itikadnya kurang bagus akan memakai subyektifitas untuk ngeles dari pertanyaan balik. Biasanya mereka bilang, "Yaa, komen saia ini subyektif. Orang mungkin berpendapat lain. (Jadi jangan protes komentar saia dong!)" 

Bagi saia, klausul semacam di atas  bisa diterjemahkan sebagai, "Saia gak bisa ngasih alasan karena memang ga ada yang salah-salah banget. Tapi ngeritik karya orang itu asik dan bisa bikin saia bisa kelihatan pintar! Plus, mumpung ada tuntutan bagi penulis untuk harus terima kritik, saia bisa bebas ngomong dan dia ga boleh marah dong! Kalaupun ditanya balik saia bisa bela diri, 'Eh saia berhak dong ngasih pendapat subyektif?' Asiiik~!"  

Untuk orang-orang yang niatnya begini, saia cuma bisa bilang, "Dude, get a life!" Lakukan sesuatu yang bikin anda benar-benar jadi pintar, bukan cuma kelihatan pintar.

Hal ketiga, saia merasa bahwa kritikus ini semacam 'profesi'. Semua profesi, seberapapun informalnya, memiliki tanggung jawab. Seperti penulis punya tanggung jawab untuk membuat karya bagus, kritikus punya tanggung jawab untuk menulis kritik yang oke. 

"Oke" disini ga sama dengan "manis dan lembut dan sopan." Kritik yang pedas tapi mengandung poin yang relevan, lebih baik daripada komentar manis yang berisi pujian kosong. Atau, komentar yang mengejek dan meremehkan dengan bersembunyi di balik kesopanan

Orang-orang tipe terakhir inilah yang saia sebut vampir emosi, dan bagi saia paling menyedihkan. Untungnya, seumur-umur belajar nulis, saia cuma pernah ketemu dua. Tapi saia akan tetap ngebahas soal mereka. Bagi yang belum pernah ketemu, mereka bisa susah dibedakan dari komentator tulus, dan seringkali nggak kelihatan sampai udah terlambat.

Orang-orang ini biasanya bicara dengan gaya sopan dan pilihan kata-kata manis dan 'intelek.' Tapi 'kritiknya' memberi kesan menyindir, merendahkan, atau menyalahkan tanpa menyatakan dengan jelas apa yang ia yakini sebagai kekeliruan di dalam cerita. Kalau diminta menyatakan maksudnya, mereka biasanya nggak mau menyatakan dengan jelas--kalau bukan ngambek atau balik nuduh. Kalaupun menyatakan, baik kesalahan yang ditunjuk maupun alasan yang dia nyatakan biasanya dicari-cari. 

Bagaimana kita bisa tahu komentar itu dicari-cari atau tidak? Ciri pertama biasanya, pendapat yang bersangkutan terlalu jauh berbeda dari pendapat orang-orang lain, tanpa didasarkan pada alasan yang sedikitnya terasa masuk akal. Dengan kata lain, hanya dia pribadi yang punya masalah tanpa alasan. 

Ini sebabnya penting bagi kita untuk meminta pendapat dari beberapa orang.  

Ciri kedua, apa yang ia tunjuk sebagai kesalahan biasanya berlawanan dengan kelaziman, dengan praktek umum, dengan kenyataan, atau dengan kebiasaan. Dengan kata lain, yang bersangkutan mengkritik berdasarkan isi kepalanya yang sempit, tetapi menolak melihat, apalagi mengakui itu. 

Beberapa tahun lalu saia pernah disalahkan karena tulisan saia "terlalu cewek". Dasarnya, satu kali saia menggunakan satu frase yang menurut yang bersangkutan "biasanya cuma dipakai cewek." Lebih lanjut, yang bersangkutan berkata bahwa seharusnya "gender penulis itu nggak boleh ketahuan dari tulisannya." 

Pertanyaan saia, statistik mana yang bilang bahwa frasa x lebih sering dipakai cewek atau cowok, dan sejak kapan jenis kelamin penulis nggak boleh ketahuan dari tulisannya, jika nama penulis selalu dipampang gede-gedean di sampul buku? (Kecuali tentu, apabila penerbit berniat menyembunyikan gender penulis karena pertimbangan pasar, keamanan, dsb., hingga penulis harus memakai nama palsu.) 

Sebab itu, penting bagi kita untuk melakukan kroscek. Kalau kita tidak yakin sama satu kritik, silakan cari referensi sendiri, apakah kritik itu benar atau tidak. Kalau itu honest mistake, biasanya yang dikritik juga akan menyadari begitu ditunjukkan kalau dia salah. Tapi jika yang bersangkutan malah marah, ngambek, atau berusaha keras dengan segala daya upaya untuk menunjukkan bahwa anda tetap salah dan bahwa posisi anda adalah 'di bawah' dia...

... well, pity!

Pada intinya, apa yang saia yakini sebagai kritik yang oke sedikitnya mengandung tiga elemen penting. Pertama, kritik itu menyatakan apa yang dikomentari secara gamblang, dengan alasan yang jelas. Dua, substansi kritiknya nggak dicari-cari. Ketiga, kritik itu lugas dan tulus, bukan berupa sindiran atau ejekan yang disamarkan di balik diksi sok baik atau sok membina. Jika kritik bisa dituturkan dengan manis atau lucu, maka itu bonus. 

Sepanjang pengalaman saia, kebanyakan penulis lebih menghargai substansi daripada kemanisan. Mereka bisa menerima kritik yang punya substansi--atau setidaknya melihat sisi baiknya--meski disampaikan tidak dengan bermanis-manis. 

Seorang kritikus juga sebaiknya siap untuk digugat. Kalau kritikus menuntut penulis untuk siap dikritik, maka sebaliknya, penulis juga bisa menuntut kritikus untuk siap ditanya balik. Ini konsekuensi alamiah kalau kita bicara keadilan. Lagipula, nggak ada posisi yang bebas dari tanggungjawab. Jika kita berpikir sebaliknya, mungkin kita harus bertanya pada diri sendiri, sudah seberapa siapkah kita untuk menyandang sebutan sebagai individu yang dewasa?
  
  
  
  
Luz Balthasaar

22 komentar:

Rickman Roedavan mengatakan...

PERTAMAAAX! Yes, akhirnya berhasil jadi yang pertama komen di blog sista Luz.

Luz Balthasaar mengatakan...

Hooo~ selamat dan terima kasih dah mampir~! *Menyerahkan no-prize*

Ivan Z. mengatakan...

Terus kalau pas Hissatsu... lagunya "Hey, Mickey!
You've been around all night
And that's a little long
You think you've got it right
And I think you got it wrong
But can't you say goodnight
So you can take me home Mickey"

Lah ngomongin lagu...

Nanya dong.

cc Luz pernah gak diminta kritik Draft orang. eh setelah dikritik ujung-ujung-ujung punya ujung dia bilang "lah cerita gwa kan. terserah gwa nulisnya gimana!"

tapi udah tahu gitu orangnya, dia masih aja bagi-bagi draft ke orang lain.

*KaburGegaraCurcolGkJelas*

Luz Balthasaar mengatakan...

Mickeyyyyyy~~~<3

Pernah-pernah aja sih saia diminta kritik dan terakhirnya seperti yang dikau bilang.

Saia sih nggak sakit hati sama yang seperti ini. Toh posisi kita sebagai pemberi saran. Mau dipake sukur, nggak pun kita nggak punya hak untuk maksa. Yang penting kita sudah menyampaikan dengan sebaik-baiknya, dan kalau ditanya balik, sudah kita jelaskan sebisa mungkin.

Kalau setelahnya dia kasi draft ke orang lain, barangkali dia melakukannya dalam rangka kroscek. Which is perfectly fine.

Bisa juga dia melakukannya dalam rangka pengen mencari komen yang "dia inginkan," dalam arti komentar yang menyanjung poin-poin di mana ia ingin disanjung. Kalau kasusnya begini, sama saja. Kita nggak perlu menghalangi orang yang pengen mencari gratifikasi, selama itu nggak mencelakai kita pribadi.

T. Andrew mengatakan...

Saya sudah menanti beribu-ribu tahun. Selalu saya sempatkan melihat fikfanindo sama Loresketcher. Dimana review yang pernah dijanjikan.

Tolong jangan lempar saya pake sendal. Saya bukan siapa-siapa. Cuman pengen baca sajah review buku yang sudah terbit ke empat-empatnya itu.

Diharapkan tidak tersinggung. Kalau terlanjur tersinggung ya sudah gapapa. Tapi saya kabur dulu. makasi.

PS: Kalau emang lagi sibuk ya saya ga bisa komentar apa-apa lagi. Saya berharap dirimu ga sibuk-sibuk amat biar sempet nulis reviewnya.

Anonim mengatakan...

Wuoo ada yg baru <3
(gagal pertamax)><

Cc Luz, gimana kalo yg ngritik enggak bermaksud menyindir ato merendahkan, tapi yg dikritik yg ngerasa begitu?
(soalnya saia selalu lemot sampe lawan bicara beneran meledak ><)

Terus yg berlawanan dengan kelaziman ato praktek umum contohnya gimana ya?
(masih bingung)

Thanksss <3

yin

Anggra mengatakan...

KLIMAX!
~better than pertamax~

Sejalan dengan Yin. IMHO, tiap orang punya ambang batas berbeda mengenai kritik sok pintar dan tidak sok pintar. Setiap karya itu seperti anak bagi penulis. Sudah pasti ada keterkaitan emosional. Ortu mana yang senang, dengar anaknya dikritik macam-macam dengan orang lain? Ga peduli niatan si orang lain itu.

Sebagai contoh, saia sendiri pernah nemu penulis yang sotoy dan ngejudge maksud kritikan saia. Niatan baik, dianggap sok pamer kepintaran. #iyainicurcolan

Saia rasa, ini emang konsekuensi jadi kritikus. Jadi perlu juga ada pedoman sendiri buat kritikus untuk menanggapi feed back penulis atas kritikannya. Saia sih malas nanggapi penulis yang berniat ngetroll.

Luz Balthasaar mengatakan...

@andrew: Gpp, Om. Makasih sudah diingetin soal repiu itu ^^. Sabar yah, sedang saia kerjakan. Bau lewat midtest soalnya, jadi kesibukannya baru agak reda. ^^
___

@Yin dan Bu Dokter: Kalau ini harus dibedain kali ya masalahnya, apakah bete karena apa yang disebut Yin 'lemot' atau karena emang orangnya tipe testpack (yang super sensi).

Kalau saia pikir masalahnya kerap bukan lemot, tapi beda sudut pandang. Atau, baik kriTikus maupun penulis susah ngungkapin apa yang dia pikirkan dengan kata-kata, atau sulit memahami esensi komentar dan tanggapan. Jadinya ga ketemu-ketemu.

Ini bisa bikin frustrasi. Tapi kalau memang niatnya mau saling memahami, ga ada jalan selain sabar dan berdialog. Saia pribadi sering fail di bagian sabarnya. Makanya kalau orang ngomong sama saia kesannya saia merepet dan maksa banget. XD

Alternatifnya, persilakan si penulis nyari kriTikus lain yang lebih nyambung. Bukan yang lebih memuji, tapi yang lebih bisa memahami dia maunya apa, sekaligus lebih mudah menuturkan masukan dengan cara yang lebih dia pahami.

Kalau emang penulisnya testpack, saia cuma pake SOP yang udah saia uraikan di atas. Biasanya saia kasi peringatan awal dulu. Serius nih, mau saia komenin?

Kalau dia oke, ya udah. Saia tanya lagi. Sepedas-pedasnya nih?

Kalau dia oke juga, garis saia tinggal satu. Selama saia sudah bisa kasi argumen dengan jelas dan semaksimalnya pengetahuan saia, udah. Kalau dia mau nanggepin, selama itu bukan trolling, saia selalu bersedia.

Kalau jelas-jelas trolling, dalam arti debat kusir yang nggak nyari substansi dan "cuma nyari menang," biasanya saia biarin orang lain yang nanggepin si troller.

Cara ini tentu sulit kalau kejadiannya lewat jalur PM. Saia pernah sih dapat yang kayak gini. Waktu itu saia bilang sama ybs, "Anda cenayang gitu, bisa baca niat dan pikiran saia?"

Setelahnya saia akan mencoba ngasih tahu kalau, "Woi, loe salah paham, Om/Mbak!" Kalau ybs masih susah paham juga, saia akan tegaskan pendapat saia ntuk kali terakhir, persilakan dia untuk cari orang/referensi lain, dan bikin mental note untuk nggak merepiu karyanya lagi--sedikitnya sampai ada perubahan keadaan.

Luz Balthasaar mengatakan...

Ah ya, lupa ngasih jawaban pertanyaan Yin tentang contoh yang berlawanan dengan kebiasaan umum... saia udah contohkan di atas sih sebetulnya.

Sejak kapan coba, tulisan orang nggak boleh menunjukkan dia cewek apa cowok? Kelaziman yang saia temui, banyak nama pengarang tertulis jelas di sampulnya. Yang berarti, pembaca udah tahu jenis kelamin si penulis sebelum dia buka buku.

Saia juga pernah punya pengalaman berdiskusi dengan seseorang yang menyalahkan saia karena saia memakai pedoman kapitalisasi yang biasa dipakai sebuah penerbit besar.

Alasannya, karena orang ybs bersikeras itu salah menurut KBBI.

Padahal, penerbit ybs udah make kapitalisasi seperti itu dari jaman Animorphs sampe sekarang. Dan setelah dikroscek sama seorang editor, ternyata memang apa yang saia katakan adalah praktek lazim.

Kira-kira seperti itu. ^^

Anonim mengatakan...

Oo begitu toh maksudnya yg di luar kelaziman.

Hmm kalo cc luz aja enggak sabar berarti saia enggak sabaran tingkat akut ya :))

Jadi inget pas FF10 pernah ditanyain 2 pertanyaan tes itu
Terus cabenya keren... dangdut koplo <3 <3

Makasih

Yin

Anggra mengatakan...

Yep. Suruh nyari kritikus lain is the best idea. Dan emang itu yang saia lakukan.

Yaa... saia rasa beda sudut pandang adalah penyebab paling sering miskonek penulis dan kritikus. Sama-sama punya ego ingin saling menyetir satu sama lain. :))

bdw... uhuk. That chainsaw... cool. But gross... euh~
*yang abis baca battle royale*

aninalf mengatakan...

Baru baca.

Sedang banyak introspeksi belakangan.

Makasi banyak buat share ilmunya.

Luz Balthasaar mengatakan...

Oho, sama-sama Bang Alfare. Makasih dah mampir.

Kenapa introsapiksi? :( Ada masalahkah? Semoga cepat selesai kalau begitu. Gimana naskahnya yang kemarin? ^^

Art of Arc mengatakan...

Uwoooo, makasih buat referensinya, cc Luz >.< Saia boleh menggunakan ini untuk membela diri, kah?

Luz Balthasaar mengatakan...

Sebetulnya, jangan.

Tulisan ini bukan nyuruh orang bela diri, tapi mengajak berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, penulis akan tahu bagaimana mendapatkan keterangan serta cara yang jelas untuk membenahi karya, sementara kriTikus akan meningkatkan kualitas pendapatnya dan nggak asal bunyi.

Di lain pihak, bela diri itu cuma nyelamatin ego, bukan mencari cara untuk menjadi lebih baik. Kalau kita bela diri dari kritik yang mengena, malah kesannya kita nggak bisa menerima kritik.

Pada akhirnya, kalau kita dikritik dan mengkritik, renungi baik-baik dulu. Apa memang kita balas untuk nyari tahu lebih? Apa kita cuma bela ego? Apa kita cuma doyan ngejek orang, atau kita memang punya pendapat yang berisi untuk disampaikan sehuubungan dengan suatu karya?

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Baru sempet mampir lagi setelah (akhirnya) dapet koneksi internet yang nggak putus-nyambung-putus-nyambung

*belum2 dah curcol*

Anyway, thanks for sharing Luz. Jadi kritikus itu susah ya hahahaha

Manusia testpack (super sensi) <-- like this very much! XD

Oh, nanya dong. Bedanya kritikus ama reviewer apa ya? Apa sama-sama aja?

Luz Balthasaar mengatakan...

Bedanya kritikus ama reviewer apa ya? Apa sama-sama aja?

Pertama-tama, kepentingan apa yang mendasari pertanyaan "apa bedanya" mereka? :?

KriTikus itu tikus yang meng-kri(tik). Repiuer itu orang yang merepiu. Kalau KriTikus menuangkan kriTiknya dalam bentuk repiu, jadilah repiu yang kritis. Tapi perkara tikusnya berubah jadi orang pa nggak, saia gak tau...

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Pertama-tama, kepentingan apa yang mendasari pertanyaan "apa bedanya" mereka? :?

Nggak ada kepentingan apa-apa kok, cuma pengen tahu aja hehehe :)

Luz Balthasaar mengatakan...

AFAIK, nggak ada tindakan yang nggak ada kepentingan dibaliknya. Terutama kalau jawaban eksplisitnya adalah. "nggak ada."

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Ah,kalo gitu buat kepentingan pribadi, buat nambah pengetahuanku ;)

Luz Balthasaar mengatakan...

AFAIK again, we do not usually try to increase our knowledge by asking something (almost painfully) obvious. But I digress. :3

Abyssshark mengatakan...

Dulu gua pikir komentar objektif itu yang bisa dibuktikan antara apa yang gua pikirkan, dengan apa yang ada.
sedangkan komentar subjektif itu yang "gua doang yang ngerasa begitu".

tapi belakangan, sepertinya gua setuju bahwa emang ga ada komentar objektif kecuali : "ini buku halamannya sekian, yang nulis orang ini, yang bikin cover ini, pada halaman sekian ada kejadian ini .." yang seperti itu.

jadi menurutku komentar memang harus subjektif.

(kalau setelah ini ada yang ngatain gua berubah2 pikiran, terserah deh. gua lebih suka menyebut diri gua gak terpaku pada 1 pendapat saja, bahwa gua tau kalau gw jg bisa salah ^_^)
I mean ... hey, scientist doing trials and errors to looking for the TRUTH, not become the truth, right?