Selasa, 02 Februari 2010

Beginner's Luck ~ Apa itu Fiksi Fantasi, dan Bagaimana Memulai?

Karya yang bagaimanakah yang bisa disebut fiksi fantasi?

Ini pertanyaan yang sumpeh-asli-uber-gak penting untuk seorang penulis pemula. Kenapa? Kalau kita ingin menulis buku, hal pertama yang kita pikirkan pastilah bukan apakah ini fiksi fantasi atau bukan, tapi apa yang ingin kita tulis. Cerita apa yang ingin kita sampaikan? Tokoh macam apa yang ingin kita tampilkan? Elemen apa saja yang akan muncul di cerita? Sihir? Pahlawan berpedang? Cewek yang jago menyembuhkan? Ramalan? Petualangan? Jin? Kuntilanak? Vampir ganteng emo yang barangkali rip-off Edward Cullen versi wet dream kita sendiri?


Whatever. Intinya, pada awal aku menulis cerita, aku nggak akan cemas apakah yang kutulis ini fiksi fantasi atau bukan. Yang kucemaskan adalah dua hal:

1. Apakah gagasan yang kusampaikan di dalam cerita--tokoh, plot, setting, twist, de-es-be--memiliki potensi untuk menjadi bacaan yang menarik, dan;

2. Jika No. 1 bisa dijawab dengan "ya," bagaimana caranya menampilkan potensi menarik itu?

Jadi, dua pertanyaan ini adalah titik awal keberangkatanku. Begitu aku bisa menjawab keduanya dengan yakin, barulah aku mulai menulis cerita. Gampang, 'kan? 

...
...
...

Ya, nggak selalu segampang itu sih. Pertanyaan no. 1, terutama. Jika aku suka sama cerita yang kukonsep, sulit bagiku untuk menjawab jujur apakah tokoh dan cerita dan plot dan setting yang sama akan disukai orang lain. Jadi bagaimana dunk kita tahu itu menarik apa nggak?  Tuliskan beberapa bab awal dari cerita itu, dan minta sekelompok orang lain untuk membaca dan memberi pendapat mereka. 

Dan sebaiknya orang lain yang kita mintai pendapat itu bukan ibu / ayah / saudara dekat / sahabat baik / pacar baik terang maupun gelap / suami / istri (baik pertama, kedua, ketiga, keempat) / simpanan / selingkuhan.

Seriously, jangan minta pendapat sama orang yang terbiasa baik sama kita. Karena mungkin sekali pendapat mereka seperti permen. Manis. Tapi kalau keterusan justru bisa berbahaya. Kita tidak akan tahu apakah gagasan kita sampah atau bukan sampai ada dokter yang datang dan berbaik hati menyadarkan, "Selamat, anda kena diabetes type 3!"

Di lain pihak, jamu, daun pepaya, pare, cabe, dan wasabi, sekalipun pahit / pedas, tentunya sangat berguna bagi kemaslahatan kita.

Sampai disini aku kadang-kadang mendengar sesama pelajar menulis melontarkan alasan, "Tapi nanti ide saya dicolong." Dan jawabanku? Kajilah diri sendiri dengan jujur. Apakah anda bener-bener takut diplagiat, atau cuma takut makan cabe?

Jika anda benar-benar paranoid diplagiat, tanya lagi pada diri anda sendiri: apakah tokoh / setting / plot / dan segala konsep yang anda ciptakan tidak somehow terinspirasi dari sesuatu yang lain? Apakah tokoh anda benar-benar berasal dari anda, bukan tercipta  karena anda melihat anime / game / manga / novel / film? Jujur deh, hehehe...

Aku pribadi nggak segitunya takut diplagiat. Kalaupun ada yang menyambar beberapa bab ceritaku dan mengklaim itu miliknya, silakan saja. Kenapa? Karena dia nggak akan bisa meneruskan cerita itu.

Kalau cerita itu  benar-benar milikku, maka tentunya hanya aku yang tahu konflik apa yang muncul dan bagaimana plot keseluruhannya. Jadi, saran kecil untuk orang yang takut  diplagiat: lepaskan beberapa bab awal, tapi jangan pernah bocorkan kerangka besar cerita anda.

Dan yang kedua, "Bagaimana jika aku takut makan cabe?" Ini perasaan yang manusiawi, tentunya.  Dan bukan sepenuhnya salah anda kalau anda terlahir sensitif bak testpack. Beberapa manusia memang lebih gampang masukin omelan ke hati dibanding manusia lain. Tapi aku lebih suka menyimpan ini untuk menjadi bahasan di lain waktu. Hal yang sama juga berlaku untuk pertanyaan, "Bagaimana menampilkan gagasanku dengan menarik?"

Oleh karena itu, mari kita kembali ke pertanyaan gag penting diatas: Apa itu fiksi fantasi? Aku kasih jawaban belingku disini: fiksi fantasi adalah genre, atau pengelompokan, yang diberikan oleh para pekerja penerbitan untuk memudahkan toko buku menaruh buku di rak pajang yang tepat, agar ditemukan oleh pembeli yang tepat. Dan pembeli yang tepat ini bisa didefinisikan secara awam sebagai "mereka yang suka cerita-cerita ngeyel yang mengandung elemen-elemen yang gag mungkin terjadi di alam nyata." Itu aja, gag lebih.

Dengan kata lain, nggak ada gunanya kita memikirkan apakah karya kita itu fiksi fantasi atau bukan sebelum kita selesai membuat karya itu. Sama kayak kita berkhotbah berlarik-larik apa yang dimaksud dengan sembahyang sementara kita sendiri gag sembahyang.

Jadi, untuk memulai perjalanan, aku belajar bahwa yang penting adalah: 1. Cari ide awal yang berpotensi menjadi menarik, 2. Mulai tuliskan sebagai cerita, dan 3. Cari kelompok orang yang bersedia memberi penilaian jujur. Aku akan berhenti sampai di sini karena sudah waktunya bagiku berangkat lagi ke tempat lain untuk belajar hal lain. 

Sampai lain waktu,


Luz Balthasaar

12 komentar:

Cheppy mengatakan...

Welcome into the blogging universe! hehehe

FA Pur

Luz Balthasaar mengatakan...

Thanks Om. Mohon ijin taruh link blog ini di Fikfanindo dunk!

Heinz mengatakan...

Heinz turut hadir dalam upacara pembukaan.
Plok! Plok! Plok!

Dan tak lupa turut menyumbang bunga-bunga sebagai tanda selamat dan semoga sukses.

Luz Balthasaar mengatakan...

Yup, TQ Heinz. Aku mutusin buat mulai karena naskahku sendiri udah memasuki 2 story arc terakhir. Moga-moga bisa cepat beres!

Kuro Myswalk mengatakan...

*numpang lewat*

setuju dengan idealisme Anda, hahaha...

*balik lagi ke MS Word*

Luz Balthasaar mengatakan...

Awkwakwakwa... Thanks Kuro.

BTW aku taruh link blog kamu sini ya? Biar aku bisa sering2 ngunjungin? Thanks sebelumnya.

Afandi M. mengatakan...

Wah akhirnya, setelah lama mencari blog mba sekarang bru dapet... hahahaha...

wah wah wah... sekuel novelnya mau d posting di blog ini jugakah?

ABC

Luz Balthasaar mengatakan...

Hai Afandi...

Aku buka blog ini karena aku sendiri kan punya proyek novel. Novelnya sih nggak akan tampil di sini. Kalaupun tampil ya cuplikan saja.

Rencananya blog ini akan diisi oleh catatan-catatanku mengenai apa yang kupelajari selama membuat novel... tentu saja, semuanya adalah catatan sinis dan seenak jidat yang kadang nabrak pakem penulisan.

Selain catatanku, nanti blog ini mau kuisi ilustrasi karakter dari novelku juga, yang kubuat sendiri. Tapi ilustrasi masih lama sih. Rencananya mau nyelesein 2 story arc terakhir naskahku dulu. Doain cepat kelar dan bisa dikirim ke penerbit yah!

Mari kita lihat sama-sama apakah makhluk sinis ini bisa menerapkan sendiri semua kritikan pedasnya apa nggak!

Afandi M. mengatakan...

hahaha... oke oke mba'

but wait... What!! selain bisa ngeritik, ternyata mba bisa bikin ilustrasi karakter juga? wah banyak bakat ya mba...

apa ilustrasinya nanti hanya berupa tampang para tokoh atau disertai adengannya macam di tunnels or deeper mba?

Wah bakal ditunggu deh mba novelnya... dan didoain diterima penerbit. apa udh ada rencana ke penerbit mana? apa penerbitnya sama seperti mas villam?

ciayo... ^ ^

Luz Balthasaar mengatakan...

@ afandi...

cuma konsep karakter kok. Pakaian mereka terutama. Aku suka bikin desain baju. Dan itu juga nggak kurencanain untuk dipakai di cerita. Cuma buat tampil disini aja.

Mungkin nanti coba kirim ke penerbitnya Akkadia juga, tapi urusan diterima pa nggak, ya terserah mereka. Namanya juga jajal ^^

Anonim mengatakan...

Belum ada posting lagi ya sis?
Soalnya kan udah selasa.
Hehe.

Heinz.

Luz Balthasaar mengatakan...

Telat dikit Heinz... tadi disuruh bokap benerin printer, jadinya kelamaaaan, hehe... tapi dah ada tuh!

Enjoy...!