Rabu, 17 Februari 2010

Cabe User Manual ~ Bagaimana Menggunakan Kritik

Kita semua sering mendengar di berbagai forum dan komunitas penulis setengah mateng bahwa kritik itu baik bagi karya anda. Pertama-tama, biar kutegaskan bahwa ini benar. Lalu kenapa kita kayaknya mau ngomongin ini panjang lebar? Karena, sejenak melanjutkan simile kuliner dari posting sebelumnya, kritik itu bak cabe. Kiri-kanan semua orang ngomong betapa menyehatkannya cabe dengan properti antibiotik dan kandungan capsaicin dan vitamin C-nya. Dan pada satu titik kita barangkali pernah ikut berkampanye menggalakkan diri sendiri maupun orang lain untuk menjadi tahan kritik.

Dus, kredo kita berkenaan dengan kritik adalah, "Pedas tapi Sehat."


Secara tersirat pula kredo ini menempatkan para kritikus sebagai para petani cabe yang budiman, yang berbaik hati meluangkan waktunya untuk menyehatkan anda para penulis setengah mateng yang barangkali masih kurang steril/sehat sebagai akibat dari kesetengahmatengan.

Tapi kenyataannya? Aku lumayan yakin bahwa  mereka yang teguh menyuarakan yel-yel pro-cabe paling fundamentalis sekalipun akan bereaksi seperti berikut ini, baik disuarakan maupun dibatinkan, jika mendengar kritik:

"Berani-beraninya dia ngomong jelek soal karya saya, plot saya, tokoh saya! Puih, kayak dia yang bikin aja! Emang dia tahu apa? Orang saya yang bikin, sayalah yang paling ngerti!"

Siapapun di antara rekan sesama penulis setengah mateng yang haqqul yakin belum pernah mengalami ini, silakan lempar batu pertama (pada saya.)

Lalu? apakah ini keliru? Nope. Pada kenyataannya perasaan semacam ini sangat, sangat normal. Jika kita tidak sedikitpun merasa kesal saat karya kita diserang, barangkali ada bagian otak yang perlu reparasi. Namun, kita juga  selayaknya ingat, para kritikus bukan petani budiman tunapamrih. Petani cabe menanam cabe karena ada pasar untuk cabe, bukan untuk menyehatkan bangsa dan negara. Likewise, kritikus memberi kritik ke buku anda bukan karena mereka budiman, dan bukan karena mereka cinta anda. Mereka mengkritik belaka sebagai pelampiasan nafsu mengubek-ubek, atau, menyitir permainan kata yang disumbangkan seorang rekanku, "karena mereka sastramasochist." Itu aja.

Apa yang bisa kita simpulkan dari sini?

Pertama, Penulis juga Manusia, dan Kesal itu Manusiawi. Karton, (sinonim "Dus," maksudnya,) penulis boleh aja kesal kalau dikritik. Dua cara terbaik yang kutemukan selama ini untuk mengatasi kesal ini adalah:

1) Diam, atau menjawab diplomatis dan legowo meskipun di kepala udah penuh adegan ala Saw atau Hostel yang melibatkan anda dan si kritikus. Lampiaskan badai itu secepat mungkin dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum, misalnya meditasi, makan di kafe dengan uang halal, atau mukulin bantal. Begitu badai Saw/Hostel itu berlalu, mulailah merenungi kata-kata si kritikus...

2) Tanggapi pendapat si kritikus jika mungkin. Ajak ia berdiskusi, ajukan argumen kita mengapa nggak setuju sama kritikannya. Namun, cara ini selayaknya hanya dicoba kalau kita yakin bisa memfokuskan debat hanya pada cerita dan  perkembangan diri selaku penulis. Dengan kata lain, jika tahu diri kita sensitif kayak testpack, cara ini nggak disarankan. Jangan sampai karena kita merasa disindir secara pribadi debat jadi melebar ke kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah, dan tahu-tahu jadi perang makian dan/atau ngebahas kehidupan anda yang bergelimang darah dan air mata dalam dayu-dayu dangdut. Nggak banget dehhh...

Dan hal kedua, kritikus bukan malaikat. Mereka sastramasochist. Mereka mengkritik bukan tanpa pamrih, tapi karena pengen melampiaskan napsu untuk menunjukkan apa yang menurut mereka kurang atau tidak memuaskan di dalam suatu karya. Perhatikan, aku menyebut menurut. Seorang kritikus, seberapapun dia berusaha objektif, pada akhirnya akan selalu mencampurkan sudut pandangnya.

Namun, disini kita bisa bertanya, jika semua kritikus itu subjektif, berarti balik dunk ke adagium to each his own.  Untukmu ceritaku dan untukku ceritaku. Lakum dinukum waliyadin. Maka, jika semua hal hanya bisa dinilai secara relatif, berarti kritik nggak berguna, kan? Fair point. Jika anda adalah penganut fundamentalis relativisme, nggak usah latah minta kritik. Secara ideologis anda tidak memerlukannya, dan apa gunanya panjang lebar mengkritik kalau akhirnya semua anda tuntaskan dengan kalimat pamungkas sakti, "Semua dikembalikan pada diri masing-masing?"

Tapi jika kita nggak segitunya memuja relativisme, bagaimana menyikapi kritik, jika kita percaya semua kritikus subjektif? Aku akan menjawab, subjektivitas seorang kritikus tidak lantas menyebabkan pandangannya nggak bisa diterapkan. Jika seorang kritikus mengatakan "ada sesuatu," maka sesuatu itu mungkin memang ada. Tetapi cara dia menyampaikan "apakah sesuatu itu" pastilah terpengaruh oleh sudut pandangnya.

Jadi, eksistensi masalah itu, objektif. Tapi cara si kritikus menyampaikannya, subjektif. "Apa yang menjadi masalah" belum tentu tercermin 100% pada "apa yang dikatakan kritikus". Inilah yang bikin sebuah kritik kadang terasa aneh atau mengada-ada; kritikus, selaku pembaca, bisa 'merasakan' sesuatu yang 'terlewatkan' oleh pengarang, walaupun kadang mereka kurang bisa, atau kurang spesifik menuangkannya dalam kata-kata. Persis orang jatuh cinta--perasaan itu ada, nyata. Tapi begitu disuruh bikin surat cinta susahnya setengah mampus.

Maka, jangan fokus pada kritiknya, tapi galilah alasan di balik kritik itu.

Kembali ke dua cara untuk mengatasi kesal, renungkanlah, atau diskusikanlah kritik itu untuk tahu alasannya.

Ambil contoh, seseorang bilang "Cara bercerita kamu kurang ngalir." Selidikilah, mengapa aliran itu kurang? Barangkali kalimat-kalimatnya terlalu panjang. Barangkali karena deskripsinya terlalu banyak menyelinapkan kata-kata puitis yang bikin muntah. Atau subplotnya terlalu banyak. 

Dengan kata lain, begitu menerima kritik yang bagi anda terdengar nggak mengena atau bahkan sotoy, atau mengada-ada, olah dulu kritik itu agar maksud si kritikus spesifik dan jelas, agar anda melihat apa masalah obyektif yang melandasi kritik subyektif itu. Coba renungi, atau ajak si kritikus berdiskusi dan berdebat.

Satu hal kecil lagi yang kuamati, jika kita memang termasuk manusia testpack yang mudah memasukkan segalanya ke hati, jangan berlagak kuat. Ibaratnya kalau cuma sanggup makan paprika, jangan sekali-kali nyambar rawit, jalapeno, apalagi naga jolokia!

Kalau memang nggak kuat sama kritik pedas, silakan katakan "Beri saya masukan yang mengena tapi jangan terlalu pedas." Jangan karena semua orang bilang "kritiklah saya sepedas-pedasnya" anda juga harus ikutan. Sama sekali nggak. Seorang yang mengenali dan mengakui kelemahannya barangkali tidak kelihatan kuat atau keren, tetapi jelas memiliki pertimbangan yang bijak. Dan kebanyakan petani cabe yang kukenal cukup perhatian untuk memberikan cabe yang sesuai dengan tingkat keketahanan si peminta.

Sebagai penutup sebetulnya aku mau ngasih contoh karyaku before and after dibumbu cabe, tapi sekarang udah tengah malam dan aku terlanjur ngantuk berat. Oleh karena itu, dengan sangat menyesal, contoh kasus itu harus disimpan untuk minggu depan...



Luz Balthasaar

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Hehe. Petani cabe dan sastramasochist.
Iya nih ditunggu trailer karya sis yang udah pake pedes ama yang masih natural ga pedes.
Tapi minggu depan lagi ya?
Aaaaaaaah.....

Oya satu tips lagi untuk mengatasi cabe yang super pedes: jangan langsung minum air dingin. (halah apa pula artinya ini? Gak penting bangetz deh.)

Salam. Heinz.

Luz Balthasaar mengatakan...

Aku malah denger dari pacarku bahwa untuk mengatasi kepedesan lebih baik kita minum susu, hahaha...

Tapi bener nggaknya aku belum membuktikan sih.

Sabar yah, minggu depan aku post seluruh Bab 1 cerita, kuusahakan lengkap dengan kritiknya.

Mantoel Toeink mengatakan...

Sastramasochist, eh? Istilah yg keren. :D

OT: Kalo mau mengatasi pedasnya cabe, minumnya susu, katanya krn sumber rasa pedas (iritasi pada lidah tuh sebenernya) berasal dari minyak yg gak bisa larut dgn air saja.

Hmmh, gak pny byk komentar utk posting ini krn rata2 gw setuju, terutama soal "kritik tersirat". Itu sesuatu yg sering gw lupakan meskipun seringkali gw sadari. Alhasil gw terdiam mikirin kritik itu, kelamaan, gak nulis2 lagi, malah jadi berubah lg gaya bahasanya. orz

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@ Juun... itu sebabnya aku lebih suka ngedebat dan gencar nanya balik kritik daripada merenunginya sendiri.

Baik debat maupun merenung bisa dipakai. Cuma, kalau merenung, kita lebih mungkin buntu karena masalah dipandang dan ditelaah hanya oleh satu kepala.

Postifnya merenung, ya nggak akan sakit hati menerima cercaan.

Soal gaya bahasa nanti juga akan kubahas, mungkin 2 minggu kedepan.

Dan BTW, mau tukeran link blog nggak?

missWong mengatakan...

Justru karena menurutku pendapat setiap orang beda-beda, aku cenderung terima semuanya seadanya, dan bingung mau mendebat apa. Karena bukannya pendapat orang tuh beda-beda... lalu apa aku jadi salah satu penganut relativisme? :)

Luz Balthasaar mengatakan...

@Wong... aku yakin kalau kritik itu lebih baik tidak ditelan mentah. Kecuali typo atau kekeliruan data, lebih baik renungkan dulu, atau tanya si kritkuswan.

Bahkan kalau udah mengerti kritiknya dia, biasanya aku mikir dulu bagaimana cara terbaik untuk memperbaikinya, bukan belaka nurut. Kita perlu menjaga kekhasan cerita kita, dan itu sulit kita lakukan kalau semua kritik dituruti apa adanya.

Mantoel Toeink mengatakan...

@Bone: Dan gw rasa utk org2 tertentu, merenung jeleknya membuat dia malah jd merenungi yg udah jadi, gak maju2. Payah deh kalo tiap update satu bab dikasih, dikritik, dan direnungi. Metode direnungi kyknya lbh pantas kalo udah beres satu draft atau 80%-an, gw rasa.

Tukeran link blog, boleh aja. Gw punya dua, yg satu blog utama, yg satu lbh kyk photoblogging. Gw kasih dua2nya deh.

Blog utama (isinya garingan gw dan nyokap gw, resensi, dan baru2 ini ketambahan entery bernama resep ngasal): http://distrik12.blogspot.com
Photoblogging (isi foto dan keterangan mengenai foto itu, posting via hape): http://gang12.blogspot.com

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun... itu makanya aku milih berdebat, karena lebih cepat. XD Tapi ya itu dia, kalau ada yang sensi pasti jadinya mendayu dangdut. Udah beberapa kali kita lihat yang kayak gitu kan?

Thanks linknya. Aku masukin yang distrik 12 dulu ya.