Kamis, 04 November 2010

Hamamatsu Drift ~ F-M-D ~Flower Music Devil~ and the City

Sekali lagi, aku kena giliran dinas ke luar negeri. Kota yang jadi target kali ini adalah Hamamatsu. Banyak orang barangkali belum pernah dengar nama itu. Padahal letaknya benar-benar strategis di 'udel' pulau Honshu. Jaraknya cuma 1,5 jam naik shinkansen dari Tokyo. Soal wisata pun kota ini sebenarnya strategis. Mau ke laut? Naik shinkansen aja, cuman 1 jam kurang ke Nagoya. Ke Gunung Fuji pun nggak jauh. 35 menit naik kereta.

Kalau Tokyo bisa dibanding dengan Jakarta, maka Hamamatsu ini ibaratnya Magelang, tapi jauuuuuh lebih gede. Bayangin, luas wilayahnya 1.500 kilometer persegi, tapi penduduknya hanya sekitar 800.000. jiwa Luas wilayahnya dua kali lebih luas wilayah Jakarta, tapi penduduknya cuma sebanyak penduduk Cimahi.
  
 
Wew. Jadi berasa Jakarta ini nggak manusiawi. Masak sepuluh jeti manusia diulek dalam wilayah 670-an kilometer persegi?

Tapi baiklah, masalah kepadatan penduduk bukan porsi saia. Jadi saia serahkan saja pada ahlinya.

Hal kedua yang kuperhatikan dari Hamamatsu selain luasnya adalah kemiripannya dengan Fuuto, kota fiktif yang menjadi setting Kamen Rider Double, tokusatsu favoritku sampai saat ini.

Ya, saia tahu, saia dituduh menjadikan ini tokusatsu favorit karena Suda Masaki yang cantik dan Kinomoto Minehiro yang manis itu. Tapi sama sekali tidak!!! Alasan saia bukan mereka berdua, tapi Kimisawa Yuuki, yang main jadi Sudou/Sonozaki Kirihiko. Asli gantengnya ganteng cowok beneran (bukan ganteng-cantik), dan senyumnya seksi banget. O_O

Plus, karakter yang dia mainin itu ceritanya suami cakep yang sayang berat sama istrinya. Dan... oh ya, ada scene dia tampil tanpa baju beberapa kali. Nyaaaaa~...

Timeout 5 menit untuk sesi 4H: Holy_Hell_He's_HOT!!

Beler selesai, ijinkan aku lanjut bercerita. Hamamatsu ini sumpah mirip abis dengan Fuuto. Dua-duanya sama-sama kota kecil dengan penduduk sedikit. Udaranya segar, bangunan-bangunannya rendah. (Hanya ada 1 pencakar langit di Hamamatsu, itupun cuma 45 tingkat!)

Keduanya juga sama-sama membangun kota dengan berpegang pada prinsip ekologis, meski dengan cara sedikit berbeda. Fuuto menekankan penggunaan clean energy, terutama energi angin. Ini sesuai dengan julukannya, "The Windy City". Jika disandingkan dengan nama Jepangnya, kita akan menemukan permainan kata yang cerdik; nama Fuuto, jika ditulis dengan kanji, menggunakan huruf "fuu" yang berarti "angin," dan "to" yang berarti "kota."

Sementara itu, Hamamatsu lebih menekankan ke arah penghijauan. Kota ini asli rimbun; di setiap sudut pasti ada macam-macam pohon dan macam-macam bunga. Dan kalau aku bilang "di setiap sudut" dan "macam-macam bunga", aku nggak hiperbolis, karena aku tahu sikap hiperbolis ini berdekatan dengan iblis.

Kenapa begitu? Begini ceritanya.

Selama penerbangan 7 jam dari Cengkareng ke Nagoya Chubu, aku mengadakan barter dengan bosku. Aku ngajarin dia bagaimana memesan ramen babi dalam bahasa Jepang. Imbalannya, aku diajari sedikit bahasa Batak. Salah satu kata yang kupelajari adalah "bolis", dan katanya itu berarti "iblis".

Dus, hiper-bolis = hiper-iblis. The moral of the story is, janganlah hiperbolis sudara-sudari, jika kalian tak hendak menjadi hiperiblis!

Anyway, mengesampingkan bolis-bolis yang hiper, sekali lagi kutekankan bahwa aku nggak berlebihan. Maksudku beneran "setiap sudut" dan "macam-macam bunga." Buktinya: aku menemukan bunga matahari tumbuh di pinggir jalan.



Dan entah apa ini, di depan Department Store May One...


Llebih ekstrim lagi, bunga cabe tumbuh di tepi penyeberangan jalan, lengkap dengan buah cabenya!!!


Serius. Foto-foto diatas kuambil dengan kameraku sendiri, di pinggir jalan, disaksikan oleh orang-orang Jepang yang melotot. Pikir mereka barangkali aku bukan manusia, tapi sejenis bolis.

Maka aku berdiri, memberi mereka senyum bolis 100% impor sebelum melanjutkan perjalan memutari kota. Sambil melangkah, di kepalaku mengalun bait pertama theme song Kamen Rider Double, W-B-X ~W Boiled Extreme~ by Aya Kamiki w TAKUYA.

Mata dare ka ga Totsuzen DOOR wo tataku
Once again, someone’s knocking at the door


Jiken no yokan Welcome to Windy City
Got a feeling it’s a case; Welcome to Windy City


Kono machi ni wa Namida wa niawanai ze
Tears do not go well with this city


Yami ni hisomu KEYWORD mitsukedasou!
Find the Keyword that’s concealed in the darkness!


Dan benar saja, aku segera menemukan keyword lain untuk Hamamatsu. Keyword itu adalah "Musik." Selain merupakan sebuah kota bunga, Hamamatsu juga menyandang sebutan lain: Ongaku no Machi, alias Kota Musik. Lihat ini:


Sculpture yang keren, yah? Yup. Benda seni ini terpajang di wilayah ACT City, yang merupakan pusat kota. Dan Hamamatsu tidak hanya memajang status mereka sebagai kota musik. Banyak perusahaan pembuat alat musik, seperti Yamaha, Roland, dan Kawai, bermarkas di sini. Produk mereka yang paling khas adalah harmonika dan piano. Bahkan, kalau diperhatikan, desain landmark mereka yaitu pencakar langit ACT City Hamamatsu, sangat mirip dengan harmonika!



Musik benar-benar amat membudaya di kota ini. Selama bekerja, aku berkesempatan menyaksikan Hamamatsu Jazz Festival...


...dan band dari Uminohoshi High School. Sumpah, mereka lebih mirip orkestra pro daripada band sekolah!


Lebih gila lagi, mereka nggak cuma jago memainkan musik klasik Barat. Setelah sajian mereka yang pertama, mereka menunduk dan...


...memakai happi--alias jaket Jepang yang biasa dipakai kalau ada festival tradisional--dan mulai menyanyikan lagu Jepang dengan iringan alat musik Orkestra Barat. OMG.

Kesenian lain yang sempat kusaksikan adalah pertunjukan taiko. Dari pukulan pertama, aku langsung tahu ini bener-bener beda kelas dari permainan bedug malam takbiran. (No offense buat yang Muslim ya, tapi bedug malam takbiran di Indonesia memang belum menjadi seni, sayangnya.) Tiap pukulan, tiap bunyi, seperti dijalari semangat yang bener-bener bikin penonton gemetar sampai tulang. Daripada main bedug, aku lebih suka menyebut bahwa mereka lagi bikin guntur, dan guntur itu bicara dalam bahasa lintasbangsa.


Begitu mereka selesai main, nggak ada penonton yang nggak tepuk tangan keras-keras. Orang di audiens itu bukan orang Jepang saja. Ada orang India, Jerman, Australia, Cina, Korea, Indonesia, bahkan orang Nepal.

Aku juga berkesempatan mengunjungi sebuah tempat yang juga semakin menguatkan julukan Ongaku no Machi: Hamamatsu Museum of Musical Instruments. Satu-satunya museum alat musik di Jepang. Berbagai alat musik, mulai dari yang asal Eropa sampai Oseania dipajang di sini. Museum ini bahkan punya koleksi reed organ, yang beda-beda tipis dari pipe organ gede yang biasa dimainin di katedral dalam film-film vampir jadoel.


Aku juga melihat satu set gendang Korea,


dan alat musik gesek Mongolia,


plus banjo minstrel dari abad 16 (atau 18? Lupa. Duhhhh~!!!)


Alat musik tradisional Jepang, mulai dari koto yang lumayan populer,


Sampai horagai yang agak-agak jarang kedengaran, yaitu semacam terompet yang terbuat dari kerang.


Yang agak mengejutkan, disana aku menemukan ini...


Seperangkat gamelan Jawa lengkap!

Dan di sebelahnya ada ini...


Gamelan versi Bali!!! (Atau apalah namanya... gag merhatiin saking kagetnya.)

Hek. Jadi berasa ketohok. Jauh-jauh pergi ke Jepang, ternyata ada alat musik anak bangsa menyelonongi kenikmatan sotoyku menjadi "orang asing".

Hampir seminggu berada di Hamamatsu, akhinya tiba saat pulang. Untuk itu orang-orang yang mengundang aku dan Bosku mengadakan farewell party di Mein Schloss. Menurut terjemahan yang kudapat dari A dan R, dua temanku yang orang Jerman asli, nama ini berarti "My Castle."


Mein Schloss ini pada dasarnya adalah sebuah restoran yang dibikin bersuasana seperti beer hall Jerman. Dan Beer Hall berarti... meja-meja panjang, dengan kursi di kiri-kanannya, dan jug yang nangkring manis di atas meja berisi... bir.

Yep, bir. Nggak ada air.

Awalnya aku menyangka akan ada performance orkestra lagi, tapi ternyata performance yang diadakan di Mein Schloss adalah... ini.


Samba Brazil. Aku sempat bingung, tapi langsung ngeh ketika dikasih penjelasan. Selain alat musik, di Hamamatsu juga banyak industri motor, diantaranya Yamaha dan Kawasaki. Banyak pekerja industri itu adalah orang-orang asing. Percampuran Timur dan Barat di kota ini sangat terasa karena sekitar 20% penduduk Hamamatsu adalah orang asing dari berbagai negara. Brazil, Australia, Irlandia, dan Indonesia.

Dan kita bukan hanya dikasih sajian penabuh drum yang terdiri dari co(wo)gan(teng)-cogan impor Brazil, tapi juga para penari samba yang sekseh bow. Om Soto(y), nih oleh-olehmu:


Yang mau kukirimin foto hi-res yang ini, silakan tulis nama dan alamat e-mail di komentar yak. Hehehe.

Lucu lagi, setelah itu kita dikasih sajian cemilan berupa ini...


Pizza keju. Yang dimakan dengan sumpit.

Maka bosku berkomentar: "We truly are in the middle of Nowhere; we are sitting in a German beer hall, watching Brazilian Samba dancers, talking in English and eating Italian Pizza using Japanese chopsticks."

Bener-bener Epic Wineird.

Keesokan harinya tibalah waktu bagiku untuk cabut dari Hamamatsu. Awalnya aku mau ke Nagoya Chubu naik bus. Namun, teman-temanku rupanya sudah menyediakan seorang supir. Supir satu ini amat berkesan karena namanya: Seishiro.

Begitu dengar nama ini, banyak yang barangkali langsung terbayang-bayang sama cogan yang satu ini...


Seishiro Sakurazuka. Yeah. Look at the blood, people. He IS a dangerous man!

Tapi Seishiro-san yang jadi supirku nggak bertampang seperti itu, dan nggak berdarah-darah. ini fotonya...


...dari belakang! Hahahaha!

Oke, aku nggak akan ngasih lihat wajahnya. Tapi Seishiro-san asli mukanya alim banget. Pertama kali kami ketemu, dia senyum dalam diam, dan membungkuk santun. 

Tapi begitu Seishiro-san pegang setir, aku langsung ngelihat alasan kenapa dia ditakdirkan berbagi nama dengan Seishiro Sakurazuka: He IS a dangerous man!!! Begitu dibilang kita harus buru-buru ke Nagoya Chubu, dia langsung nancep gas 100km/jam di jalan dalam kota! OMG. Belum lagi teknik belok dan nyalipnya yang nyaingin supir Metromini. Ibaratnya, dia kalau belok bukan ngebentuk huruf L, tapi huruf Z, S, atau, yang paling ekstrim, W, alias Double. Jangan-jangan dia sebenarnya kamen rider juga?

Beberapa kali kami dengar nguing-nguing sirene di belakang, tapi Seishiro-san juga licik, rupanya. Tiap kali ada polisi, dia melanin kendaraan dan memajang tampang alimnya. Begitu udah ga ada, tancep lagi. Begitu keluar dari kota, spidometer yang tadinya 100 terus merangkak naik, sampai akhirnya muncak di 160.

Bosku komat-kamit memanjatkan doa mohon keselamatan kepada Dewa Ramen Babi.

Satu seperempat jam kemudian, kami tiba di Nagoya Chubu. Padahal, waktu naik bus di hari pertama, tiba kami perlu dua jam lebih untuk jalan dari Nagoya Chubu ke downtown Hamamatsu.

Turun dari mobil, aku cuma bisa mengucapkan "Su--sugoi driving desu!!" dalam keadaan setengah mabok kepada Seishiro-san. Driver-ku itu sudah kembali ke muka manisnya dan membungkuk dalam-dalam, mengucapkan selamat tinggal.

But it turns out, bayang-bayang Seishiro-san mengikutiku sampai ke Indonesia. Ketika aku membantu adikku merakit oleh-olehnya--sebuah puramo Kamen Rider Double Master Grade--dan membuatnya berpose bersama sculpture Saber yang sudah nangkring di meja komputer sejak tahun lalu...


...aku jadi teringat lagi pada betapa bolisnya--tidak, hiper-bolisnya, Seishiro-san di balik kemudi. Somehow, aku jadi mengerti apa arti senyum santun Seishiro-san waktu pertama kali kami ketemu. Kira-kira tekukan bibir itu mengandung makna yang sama dengan ucapan Philip, salah satu tokoh utama Kamen Rider Double, sewaktu ia pertama kali mengajak Shotaro Hidari untuk menjadi partnernya:


"Do you have the courage to ride with the devil?"



Luz Balthasaar

18 komentar:

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Wuih, Hamamatsu keren banget! Perpaduan Green City ama Music City. Jadi inget Piano No Mori.

Ada piano kaca nggak ya? Wkwkwkwk

Luz, foto Samba-nya sengaja dikasih yang versi kecil ya? Biar ga kena sensor hihihihihi...

Birnya bir asli Jerman atau bir Jepang?

Aku kebayang gimana keritingnya rambutmu waktu turun dari taksinya Seishiro-san. Ga kebayang tuh gimana caranya belok W wkwkwkwkwkwk

Seishiro-san bisa ikutan Tokyo Drift tuh hiahahahaha

asrina mengatakan...

"We truly are in the middle of Nowhere; we are sitting in a German beer hall, watching Brazilian Samba dancers, talking in English and eating Italian Pizza using Japanese chopsticks."

I love those quote
gyahahahahahahah

NB. klo ketemu seishiro san titip salam yah...........
aku mau belajar nyopir dari dia hahaha

Ninou Hazuki mengatakan...

si Seishiro....
jadi pingin nyoba balapan sama dia
he he he he he

dia pake mobil apa?

MaxMax

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mbak Dewi: Sebetulnya, aku dikasih hadiah gantungan kunci kristal dengan bentuk piano di dalamnya.

Kalau foto samba itu memang ga bisa majang gede2. Ini juga berani masang karena Pak Ka Ha lagi ngintilin Om Soto(y) ke Arab Saudi...

Mein Schloss itu sekaligus brewery kalau aku ga salah. Jadi bikin birnya ya disitu juga.
__

@Asrina: wew, baru muncul!! XD Soal ketemu lagi sama Seishiro, aku akan bilang Amin--dan Mamat, dan Paijo. Wkwkwkwkw...
__

@Maxmax dan semua yang menanyakan mobil Seishiro: Dia pakai Toyota Granvia yang gede kayak Alphard itu. Enak gila, bisa selonjoran di dalam.

Tapi kalau dia yang ngemudi, selonjorannya nunggu kalo udah di jalan luar kota yang ga banyak beloknya.

Jangan ampe aja dia dikasih mobil2 Tokyo Drift. Kalau sampai dia pegang yang gitu, sebelum naik aku harus bener-bener mengulang pertanyaan terakhirku...

"Do you have the courage to ride with the devil?"

Anonim mengatakan...

Ho ho ho. Jadi pengen kenalan dan belajar nyupir sama Seishiro san XD

Btw,

"We truly are in the middle of Nowhere; we are sitting in a German beer hall, watching Brazilian Samba dancers, talking in English and eating Italian Pizza using Japanese chopsticks."

Wew... jadi keinget quote yang mirip soal globalisasi oleh Mark Riebling:

Consider the death of Princess Diana. This accident involved an English citizen, with an Egyptian boyfriend, crashed in a French tunnel, driving a German car with a Dutch engine, driven by a Belgian, who was drunk on Scotch whiskey, followed closely by Italian paparazzi, on Japanese motorcycles, and finally treated with Brazilian medicines by an American doctor. In this case, even leaving aside the fame of the victims, a mere neighborhood canvass would hardly have completed the forensic picture, as it might have a generation before.

(sumber: http://en.wikiquote.org/wiki/Globalization)

:-P

Adrian

Christopher Thomas mengatakan...

Mb' Luz, welkom home! Icylandar ditunggu loh!
dah g sabar soalnya ;)

Luz Balthasaar mengatakan...

@adrian: Jangan-jangan bosku udah baca wikiquote itu... O_O

Begitulah Globalisasi. XD


@Chris: Tapi besok aku ke Tokyo lagi nih, akakaka. Pegel. XD

Ntar Icylandar abis balik dari Tokyo aja yah.

Anonim mengatakan...

Wah...perjalanan yang menarik, ditunggu cerita Tokyo-nya.

Um...Om Pur emang Sukebei?

Zenas

Kencana mengatakan...

Wow, tahu Seishiro di X juga, ya? sayang dia kahirnya, ups... *bisa2 spoiler nih*

Danny mengatakan...

AAPPPAAA????!!!! Puramo Kamen Rider Double Master Grade??? MAAAUUUU!!!

*balik mode normal*

Ehm, ehm, aku lumayan menikmati foto2nya. Kalo yang keliatan di foto, kotanya kayanya sepii... lengaang... banget kaya di desa2. Tinggal di sana mungkin enak ya, apalagi ada sekian banyak pertunjukan musik.

Dan, museumnya bener2 sugoi! Keren banget isinya. Kayanya di sana kalo ada benda masuk museum, kesannya mewah dan keren banget ya.

Beda banget sama di sini. Term "dimuseumkan" aja artinya bisa jadi "dibuang" ato "dihilangkan", ga diinget lagi.

Luck mengatakan...

Menilik luas hamamatsu yang 2 kalinya jakarta dengan penduduk gak nyampe sepersepuluhnya jakarta, harusnya seishiro-san bukan satu-satunya driver bolis di sana. Dengan asumsi yang punya mobil maksimal setengah dari jumlah penduduk, dan mungkin, mungkin lho ya, banyak jalan lurusnya, jadinya rasa-rasanya nyetir dalam kota di sana sama kayak nyetir dalam kota di jakarta jam 2 pagi :D harusnya yang punya jabatan driver di sana bolis semua hehehe. Ga puas kalo ga jalan 100 km/jam :D

missWong mengatakan...

"Maka bosku berkomentar: "We truly are in the middle of Nowhere; we are sitting in a German beer hall, watching Brazilian Samba dancers, talking in English and eating Italian Pizza using Japanese chopsticks."

ahahHAHAHAHhahahaha ini bagus banget :p :p Tapi kalo soal nyopir ga ada yang bisa ngalahin di Cina dah,, bener itu taksi ampe naek-naek trotoar *tepok jidat*

akhirnya bisa duduk dan buka komputer lagi. nice post! makes me wanna go to japan again. :((

Luz Balthasaar mengatakan...

@Zenas: Kalau Tokyo kali ini, entahlah apa akan kubuat liputan khusus. Soalnya aku ke sini untuk urusan dinas sama orang2 di Tokyo Metropolitan Government. Paling main2 di Shinjuku selepas urusan-urusanku kelar, jam 5-an gitu. Tapi memang sih banyak potensi bikin foto aneh di Shinjuku waktu malam... ^^
___

@Kencana: Hai, welcome. Iyah, baca X dah lama bgd. Dan ga usa takut spoiler... aku dah baca bagian itu, wkwkwkw ^^
___

@Danny: Huehehehe... kalau baru itu aja udah berserk, ntar lihat apa yang kubawa pulang dari Tokyo, huahahahahahaha!!!

Memang sayang, museum di indonesia identik dengan sesuatu yang tua dan terlupakan. Kmarin aku juga sempat jalan ke Kota Tua dan ketemu temen2 yang kerja di sana. Kdg2 kasian liat orang lapangan. Mereka kerja mati2an, sampai nginap di kantor, (ini serius lho, sapa bilang PNS kerjanya males2an doang?) tp untuk urusan dana perawatan koleksi museum diterbelakangin.

Tapi kalau suka museum, aku rekomen jalan ke museum batik deh, di tanah abang. Tempatnya bagus banget (karena donasi orang yang concern, yeah.)
___

@Luck: barangkali! Aku lom pernah nyurvei atau nanya apa mereka bolis semua. Tapi klo lihat mobil dalam kota kayaknya mereka rapi dan ramah. Bayangin, kalau kita mau nyebrang jalan kecil yang ga ada zebra cross, mereka dengan kesadaran sendiri berhenti buat ngasih jalan pejalan kaki nyeberang. Coba di Jakarta. Mana ada yang gitu...?

Kayaknya yang beneran bolis itu sebenernya pengemudi Jakarta.

___

O_O

wew, bolis!

Itu di Beijing apa di tempat lain? Kalau Beijing memang banyak bolis. Belanja di sana, harga harus tawar 1/10. Kedua, jangan pernah beli barang elektronik. ketiga, kalau barang harga murah, pasti dua minggu rusak.

Bukan ngejelekin Cina, ya. Tapi begitulah Beijing. Temenku dah pengalaman soalnya.

Kalu mau barang elektronik Cina harga pantas kualitas top, aku sarankan cari buatan Taiwan. Alternatif kalau ga bisa beli barang Jepang/Korea.

miss bibliophile (Fca) mengatakan...

halo....salam knal ya :)

Luz Balthasaar mengatakan...

Salam Kenal Juga ^^

Christopher Thomas mengatakan...

wuiiiihhhh mantab amat mbak liburannya.... :) belon sempet nge post tulisan baru yah? yowesss... tetep ta tungguin huehehehe

Luz Balthasaar mengatakan...

@chris: Hehe, itu mah bukan liburan Om. Itu Dinas. Ini yang kucantumkan cuma bagian2 Cultural experience-nya aja. Kalau ditulis sama konferensi dan business reportnya, bisa makan berhalaman-halaman.

Post berikutnya selasa depan aj kli ya. Memang aku perlu sedikit waktu untuk menormalkan postku lagi.

Thanks mau nunggu ^^

Argim Aegiza Arkananta mengatakan...

Begitu sampai di kata "Bolis", ini yang ada di pikiranku:

1. Diabolis
2. Deabolis

Berkesan sepeti nama fantasi-condong ke bahasa Latin-untuk menyebut iblis.

Muehehe~

#Baru pertama komen setelah sebelumnya cuman jadi SR