Jumat, 20 Mei 2011

Indeks Harga Emosi Gabungan ~ Rating Buku Seorang Pialang Harapan



Aku doyan baca buku, doyan ngerepiu, dan cukup sering diminta untuk beta reading. Tiap kali melakukan ini biasanya aku ngasih pendapat apakah buku itu bagus atau nggak atau biasa aja. Untuk menentukan itu aku punya dua patokan utama:

1. Apakah aku bisa beli saham harapan di cerita ini atau nggak?

2. Nanti pas tutup buku, apakah aku akan mendapat return investasi harapanku dengan berlipat ganda, atau sebaliknya, malah bangkrut?
  
 
Seperti aku beli saham di suatu perusahaan dengan duit, aku 'beli saham' pada sebuah buku dengan emosi. Dengan kata lain, aku akan menyerahkan sebagian harapanku kepada naskah tersebut.

Pertanyaannya, tentu, apa yang membuat aku memutuskan untuk beli saham di satu buku?

Faktor pertama biasanya adalah blurb dan sampul, kalau buku itu sama sekali belum pernah kudengar. Desan sampul yang keren adalah modal yang sudah pasti membuatku tertarik.

Memang ada adagium don't judge a book by its cover, tapi sampul bagus biasanya menunjukkan bahwa buku itu paling tidak dikerjakan dengan serius.

Kedua, rumor/hype yang beredar di kalangan teman-temanku sesama pembaca buku. Rumor tentang sebuah buku, baik bagus atau jelek, selalu layak dibuktikan. Kalau aku dengar suatu buku bagus, aku nggak akan percaya sampai aku baca sendiri dan menemukan bahwa buku itu memang bagus. Sama halnya kalau aku denger suatu buku jelek. Nggak akan percaya buku itu jelek sampai aku baca sendiri.

Selain dua hal tersebut, faktor ketiga yang mementukan investasi harapanku pada sebuah buku adalah beberapa halaman pertamanya. Di sinilah aku akan melihat, apakah ada kalimat atau gaya bahasa yang membuatku tertarik? Apakah ada ide yang kayaknya keren? Apakah ada karakter yang bikin aku jatuh cinta? Apakah settingnya menarik? Kalau salah satunya saja ada, tentulah aku akan berinvestasi segera.

Seperti profil perusahaan, tiga hal di atas adalah penentu awal apakah aku mau beli saham harapan di sebuah buku atau nggak. (Dan kalau membeli, tentunya, seberapa banyak yang kubeli.) 

Pernyataan ini kedengaran menuntut banget, tapi sebetulnya nggak. Mengapa? Karena kebanyakan buku paling sedikit memiliki satu di antara ketiga faktor ini. Jangankan buku yang udah final; sekitar dua pertiga dari semua naskah setengah jadi yang kubaca pun memiliki sesuatu yang membuatku tertarik.

Tentu saja, aku  tidak membeli saham naskah setengah jadi sebanyak aku membeli saham buku yang sudah jadi. Permasalahannya teknis--belum diedit, banyak typo, and so on

Nah, jika persyaratan untuk membuatku menginvestasikan harapan tidak segitu susahnya, mengapa nggak semua buku aku anggap bagus? Alasannya adalah, semua orang yang melakukan investasi pasti mengharapkan keuntungan. Kalau aku menanam duit di perusahaan, aku berharap perusahaan itu menjalankan bidang usahanya dengan baik, dan dapat untung. Kalau mereka untung, duit itu akan kembali padaku, sang pemegang saham, sebagai dividen. 

Sama halnya dengan baca buku. Aku menginvestasikan harapan, dan berharap emosi baik itu akan kuterima kembali secara berlipat ganda. Aku ingin selama membaca, emosi yang kutanam akan tumbuh, berkembang, dan akhirnya berujung pada keuntungan besar. Begitu halaman terakhir satu buku ditutup, disitulah aku ngitung-ngitung apakah aku dapat dividen atau tidak. Kalau mendapat, seberapa besar yang kudapat; dan kalau tidak, seberapa besar aku kehilangan.

Bagaimana cara menentukan seberapa besar keuntungan emosiku? Aku merenungi seberapa banyak harapan yang kutanamkan di buku itu saat pertama membuka, dan seberapa banyak kesenangan yang kudapat di akhir cerita.

Ada naskah yang pada awalnya nggak membuat aku ga terlalu pengen beli saham /hampir ga beli, tapi akhirnya bikin aku puas banget selesai baca.

Ada juga yang pas ngebaca pertama bikin aku beli saham gede banget. Biasanya ini terjadi sama buku-buku dari pengarang yang punya 'nama', atau yang hype/promonya gede-gedean, atau yang endorsemennya bombastis.

Tapi untuk urusan endorsemen bombastis itu aku sudah belajar untuk tidak berharap banyak.

Dan ada lagi buku yang akan kugolongkan "tidak mengecewakan". Ini buku yang awalnya membuat aku menanamkan harapan sejumlah x, dan pada akhirnya mendapat jumlah yang sama. Break even point alias balik modal, gitu.

Jenis terakhir, dan ini langka banget, naskah yang bikin aku sama sekali ga pengen beli saham. Bukan karena naskah itu jelek sekali. Naskah semacam ini bisa jadi nggak jelek, tapi saat melihatnya, nggak ada satupun faktor di dalamnya yang membuatku tertarik.

Naskah macam ini seringkali susah kutentukan bagus tidaknya. Mau dibaca, malas. Kalau ga dibaca, rasanya aku yang jahat; masa sih Mbak, di dalam satu naskah, loe sama sekali ga bisa nyari satupun poin yang menarik?

Udah kebiasaan jadi repiuer penjahat kali ya?

Tapi biasanya, hal terakhir itulah yang terjadi. Aku sangat kesulitan menemukan satu saja poin menarik dari naskah itu. Atau, kalau menemukan, rasanya kurang terolah hingga nggak ngasih keuntungan emosi yang signifikan. Istilahnya barangkali, so okay it's average.

Keuntungan emosi itu lalu kuterjemahkan dalam rating, yang penjabarannya adalah sbb:

1. Bagus banget/bintang 5 (kalau dividen emosiku gede),

2. Bagus/bintang 4 (kalau cukup besar),

3. Lumayan/bintang 3 (kalau dividen tipis, atau break even, atau rugi dikit, atau kalau naskah ini rasa-rasanya masuk tipe so okay it's average),

4. Biasa/bintang 2 (kalau aku rugi lumayan),

5. Kurang/bintang 1 (kalau aku rugi gede-gedean),

6. Speechless/Ga ada bintang (Kalau selesai baca naskah itu bikin aku bangkrut total),

7. WTF Shameless/Bintang 10+ (Kalau naskah itu kutulis sendiri, wkwkwkw XD)

Untuk update berikutnya aku mau mencoba nulis, dari sudut mata seorang pialang emosi, faktor apa saja yang membuat aku merasa dapat untung setelah melakukan investasi emosi dalam suatu naskah.

Sementara ini, aku pamit dulu. Pengen mengerjakan ilustrasi untuk karya yang rencananya akan kuikutsertakan dalam Fantasy Fiesta 2011, sekaligus menyelesaikan satu naskah yang kuharapkan siap untuk beta-reading sekitar Agustus.




Luz Balthasaar

7 komentar:

Anonim mengatakan...

Hue he he. Kalo ga dapet dividen, jual aja lagi biar minimal dapet capital gain :))

Nice article :-)

Adrian

Luz Balthasaar mengatakan...

Wuahaha, susah tuh Mas. Saia biasanya ggak akan jual satu buku kalau dah beli/dapet. Sejelek apapuin bukunya.

Buat bacaan anak saia nanti niatnya, hehehe. ^_^

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Hmm, beli sahamnya pake emosi doang? Ga pake logika juga?

Ivon mengatakan...

wkwkwk, bisa2nya gabungin antara artikel saham dengan penilaian bintang sebuah buku :))

*jatuh gubrak pada poin ke 7, XD*

ah, akhirnya terkonfirm juga klo Luz juga ikut Fantasy Fiesta tahun ini ^^ karena udah lama enggak ada kabarny, kukira Luz terlalu sibuk sampai2 enggak bakalan sempat ikut nantiny, wkwkwk

Luz Balthasaar mengatakan...

@Dewi: Kalau buatku, buku itu 'suka atau tidak'. Jadi itu cuma investasi emosi.

Logika baru berperan nanti, ketika aku membaca. Ada atau nggaknya logika, atau alasan bagus yang menjustifikasi pilihan penulis untuk memakai atau meninggalkan suatu logika, merupakan salah satu faktor yang menentukan naik turun harga saham waktu membaca.

***

@Ivon: Ikutlah. Cuma sekarang lagi kekurangan waktu untuk ke forum. Lagi ada ide bagus untuk novel yang mau kuselesaikan secepatnya.

Plus aku kayaknya didaulat ke Seoul bulan depan, dan disuruh ngambil semacam tes kompetensi pada minggu terakhir Mei. Plus Fantasy Fiesta. Makanya belum ke FFDN atau milisan.

Tapi ceritaku sudah selesai. Aku cuma pengen bikin ilustrasinya dulu baru kirim. Biar sekalian maksudnya... XD

Dan memang itu alasannya aku nggak akan ngasi bintang ke karyaku sendiri. Rating Goodreads bisa jebulz. XD XD XD

Anggra T mengatakan...

Hoalah! Pelajaran tentang saham! XD

Hmmm... Aku banyak belajar dari pengalaman supaya ndak tertipu lagi waktu beli saham eh... buku maksudnya XD
Jadi aku ndak rugi beli buku jelek, karena dari situ jadi pengalaman untuk hati2. XD

Luz Balthasaar mengatakan...

Kayaknya sama sih dengan kamu. Nggak akan ngerasa rugi beli buku jelek.

Tapi sekali dua kali aku tetep saja beli buku jelek, cuma karena ingin tahu apa benar itu jelek pa ngga.

Lagian aku punya kebijakan, kalau aku mau ngomentarin/ngerepiu buku, aku harus beli bukunya dulu. Itu ngasih sumbangan konkrit ke si penulis, daripada komen manis, muji-muji setinggi langit, tapi ga beli bukunya.