Jumat, 29 April 2011

The Last Failbender ~ Tentang Bule Celup dan Peri Yunani


Entah kenapa, Fantasy Fiesta 2011 ternyata diumumkan lebih cepat dari tahun lalu. (Selengkapnya, lihat di sini.) Selagi para peminat fantasi Indonesia menyiapkan diri dan karya, aku ingin melanjutkan pendapatku beberapa minggu lalu tentang memakai pengaruh asing dalam karya-karya kita.

Sebelumnya aku ingin mengulang apa yang sudah kunyatakan dalam dua tulisanku sebelumnya. Pertama, aku tidak merasa bahwa "unsur lokal" sama dengan "budaya asli indonesia." Unsur lokal bagi seorang penulis adalah apa yang diketahui dan dijalani oleh penulis tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.
  
 
Kalau seorang penulis dibesarkan di satu wilayah dan dia mengangkat budaya wilayah itu dalam karyanya, barulah bisa dikatakan dia mengangkat budaya lokal. Contoh, yang dilakukan Tasaro dalam  Nibiru dan Kesatria Atlantis. Tasaro adalah seorang penulis dari Gunung Kidul, dan dalam Nibiru ia berusaha mengangkat budaya kehidupan pedesaan. Terlepas dari berhasil atau tidaknya, ini bisa disebut upaya mengangkat lokalitas.

Contoh lain, walau bukan fikfan, adalah Jane Austen, penulis Sense and Sensibility. Mbak Austen ini adalah orang Inggris. Namun, karyanya tidak bercerita tentang kehidupan bangsawan dan kaum kelas atas  London. Di dalam S&S Mbak Austen menulis kehidupan dua orang perempuan dari keluarga kelas menengah-atas yang hidup daerah pedesaan Inggris. Premis dan latar ini mencerminkan dengan tepat kehidupan macam apa yang ia jalani.

Oleh karena itu, memakai budaya Indonesia tidak sama dengan memakai budaya lokal. Walaupun sama-sama terletak di Indonesia, bisa saja budaya itu asing bagi si penulis. Mengambil contoh Mbak Austen tadi, mari kita katakan bahwa X adalah orang Jogja yang besar di Jakarta. Kalau X mencoba mengangkat budaya keraton, maka budaya keraton itu adalah budaya yang asing bagi X. Sama asingnya dengan--katakanlah--budaya Belanda. 

"Bentar Mbak!" kata seorang Sape Lo. "Tapi tetep aja akses ke Jogja lebih deket dari ke Belanda! jadi Jogja lebih nggak asing dong dibanding Belanda, karena kita lebih gampang ke sana untuk riset!"

Dan jawab saia pada Mas/Mbak Sape Lo, "Di jaman ini deket atau jauh itu relatif, secara ada internet, gitu."

"Apaan tuh internet? Indomie telor kornet?"

Mmmh... aku speechless deh kalau hari gini pada nggak tahu internet...

Kalau kita melihat dalam bingkai lebih besar, budaya apapun yang kita angkat adalah sama. Tidak ada satu budaya yang secara inheren lebih baik dari pada budaya lain. Mengangkat budaya asing nggak berarti kita lebih rendah/tidak cinta negeri daripada mereka yang mencoba mengangkat budaya Indonesia. 

Sebaliknya, seorang penulis tidak perlu merasa lebih tinggi apabila ia mengangkat budaya Indonesia di dalam karyanya. Ia tetap hanya mengangkat satu budaya. 

Bahkan, aku melihat pilihan budaya yang diangkat itu lebih bergantung pada upaya pengarang menarik pasar. Dasarnya adalah asumsi familiaritas. Penduduk Jakarta akan lebih tertarik pada budaya Jakarta dibanding pada budaya Spanyol, misalnya. Asumsi ini benar. Namun, ada juga orang yang  berpandangan sebaliknya: apa yang mereka tidak tahu justru menarik. Dus, orang-orang macam ini akan lebih tertarik untuk menjelajahi kebudayaan asing dibanding kebudayaan yang mereka alami sendiri. 

Oleh karena itu kita bisa memandang bahwa budaya apapun yang diangkat akan memiliki pasarannya sendiri. Budaya tertentu akan membuat suatu karya memiliki nilai tambah bagi orang yang memiliki minat atau ikatan pada budaya tersebut. Kalau kita bisa mencocokkan budaya yang kita angkat dengan pasar pembaca yang kita tuju, tentulah itu akan membantu pemasaran karya.

Nah, karena budaya apapun yang kita angkat pada dasarnya sama saja, aku berpendapat bahwa hendaknya kita jangan ngomong, "Anda kok kebule-bulean sekali sih, ngangkat budaya asing? Apakah budaya kita tidak cukup kaya? Apakah anda nggak cinta negeri?" 'Perintah/tuduhan' ini lucu pada sedikitnya dua tataran. Pertama, semua orang yang pernah jatuh cinta pasti tahu bahwa cinta itu nggak bisa disuruh-suruh. Dan kedua, dimanakah wibawa dan martabat sebuah negeri, jika ia tidak bisa mendapatkan cinta selain dengan cara  mengemis, menyuruh dan memaksa?

Mereka yang tinggal di Jakarta pastilah tahu betapa menyebalkannya 'pengemis preman metromini' yang meminta duit dengan maksa.

Langkah yang menurutku lebih baik adalah menyampaikan komentar, kritik (tajam sekalipun), atau masukan, manakala eksekusi si penulis saat mengangkat suatu budaya tidak terasa semulus seharusnya. Daripada mempermasalahkan pilihan budaya si penulis, lebih baik kita mempermasalahkan cara dia mengangkat budaya tersebut.

Aku mempraktekkan kiat ini dalam repiu Nibiru yang kutulis di Goodreads. Kalau ada yang berminat baca dulu, silakan. Barangkali komentarku di repiu Nibiru tersebut akan membantu anda dalam memahami apa yang selanjutnya hendak kusampaikan.

Masalah yang sering dihadapi dalam mengangkat suatu budaya--baik lokal maupun asing--adalah bahwa dalam eksekusinya, pemakaian budaya itu seringkali memiliki rasa bule celup. 

Kamsudnya gimana tuh? Gini. Apabila rambut kita aslinya hitam tapi kita pengen pirang, apa yang kita lakukan? Tentulah, ngecat rambut. (Alternatifnya adalah latihan keras supaya kita bisa jadi Super Saiyan, but that's another story.) 

Sekitar beberapa tahun lalu aku ingat salah satu guruku di SMA punya julukan untuk murid-murid yang doyan ngecat rambut. Bu Y, sebut saja begitu, memanggil mereka "bule celup". Membuat analogi dengan bahasan kita sekarang, seorang penulis bisa 'mengecat' suatu karya dengan suatu budaya. Hasilnya adalah karya yang...well, bule celup.  

Masalahnya, rambut selalu tumbuh. Kalo rambut tumbuh, apa yang terjadi? Bule celupnya ketahuan, karena akar yang tumbuh tetap berwarna hitam. Sama halnya dengan fiksi fantasi. Kalau si penulis nggak hati-hati, budaya yang dia angkat dalam karyanya akan 'kedodoran' seperti warna pirang yang 'kedodoran' begitu rambut asli tumbuh. Budaya itu akan berasa 'cuma kulit doang'. Alias palsu bak emas sepuhan.

Kalau anda membaca repiu Nibiru yang kutulis di atas, pada titik ini hampir pasti anda sudah nangkap maksudku. Seandainya contoh lain diperlukan, silakan klik repiu untuk Futatsu no Nagareboshi karya Yudhi H. yang pernah tayang di Blog Sebelah yang Sumpah Asli Bukan Situs Porno.

Kedua contoh di atas juga membuktikan satu hal lagi. Baik budaya asing (Futatsu) maupun budaya Indonesia (Nibiru) bisa melorot dan terkena efek bule celup. Intinya? Balik ke pernyataanku sebelumnya. Budaya apapun yang kita angkat, resiko kedodoran tetap ada. Hanya karena kita orang Indonesia nggak otomatis kita akan 100% berhasil ngangkat budaya Indonesia. 

On the flip side, itu berarti budaya apapun yang kita pakai, resiko untuk tidak kedodoran juga ada. Kalaupun kita bukan orang Jepang, nggak berarti kita pasti 100% gagal mengangkat budaya Jepang. contoh kasus, Avatar: The Last Airbender atawa ATLAB. Seri animasi, maksudku. Bukan filmnya. (Meski menurutku TLA nggak jelek banget, cowokku dan banyak fans ATLAB menyebutnya sebagai The Last Failbender, hingga validitasnya sebagai contoh agak diragukan.) 

ATLAB adalah serial animasi yang mengangkat budaya Asia. Namun, kreator seri itu sendiri adalah orang Amerika. Apakah ini menunjukkan orang Amerika nggak cinta negeri mereka? Jelas tidak. Satu-satunya yang ditunjukkan ATLAB adalah bahwa seseorang bisa mengangkat budaya yang bukan budaya lokal mereka, dan berhasil dengan sangat baik pada saat melakukan itu. 

Satu contoh lain adalah A Midsummer Night's Dream karya William Shakespeare. Contoh ini sebenarnya agak unik, karena di dalam karya ini Sang Mbah mencomot folklor Inggris-Irlandia (yang demi kesederhanaan kita posisikan sebagai lokalitas Sang Mbah,) dan mengecatnya dengan setting 'asing' berupa sebuah kota di Yunani

Hasilnya adalah kisah dunia peri yang terjadi bukan di latar Inggris atau Irlandia, tapi di Athena. Raja dan ratu  peri dalam kisah ini pun memakai nama berbau Yunani (Oberon dan Titania.) Kesimpulannya? Shakespeare dengan cerdik menggabungkan dua budaya dan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal: peri Yunani

Apa yang menyebabkan seseorang berhasil mengangkat suatu budaya, dan orang lain tidak? Aku belum bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, untuk sementara aku punya resep sendiri. 

Pertama adalah ketulusan. Saat menulis, yang ada di kepalaku bukan, "Hei, saia bisa loh ngangkat budaya Indonesia!" atau, "Hei, saia bisa loh ngangkat budaya asing ini!" Yang ada di kepalaku selayaknya adalah, "Saia tahu beberapa hal soal budaya ini, dan menurut saia budaya ini indah/keren. Saia menyukainya dan saia ingin membagi keindahan/kekerenan itu dengan anda di dalam cerita saia."

Kedua adalah konsistensi. Ini nggak berarti budaya tersebut harus realistis sampai detail terkecil. Kembali ke contoh ATLAB, kita lihat penamaan karakter. Katara, Iroh, dan Azula, misalnya, bukan nama Asia. Namun, bunyinya cukup mudah diucapkan oleh lidah Asia, dan cocok dengan latarnya yang didasarkan pada berbagai tempat di Asia (tapi bukan Asia beneran). Oleh sebab itu ATLAB nggak kedodoran.

Bandingkan dengan Futatsu no Nagareboshi. Penamaan karakter di sini nggak otentik Jepang, padahal latarnya adalah Jepang sungguhan di masa lalu. Dengan kata lain, inkonsisten. Akibatnya? Seperti yang kusebut di repiuku, kesan Jepang celupnya jadi kelihatan banget.

Dan ketiga? Latihan dan berdiskusi. Kata Sifu Aang, semakin sering kita menulis, dan semakin banyak kita beradu pendapat dengan orang-orang yang tulus memberi umpan dan masukan, kita akan makin paham bagaimana caranya menciptakan peri Yunani dan menghindari bule celup. 

"Dan bagaimana cara kita berlatih, Sifu Aang?"

"Bagaimana? Tentu saja dengan mengikuti Fantasy Fiesta 2011! HEEAAAAAAAAH!"




Blatant promotion intended.




Luz Balthasaar

20 komentar:

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Pertamax! XD

Akhirnya kerjaan kelar juga ya Luz?

Tumben nih, postinganmu ada beberapa grammatical error, namely kata yang terulang dua kali dalam satu kalimat.

Sisanya as charming as usual.

ATLAB emang contoh paling mantab soal penulisan cross-culture.

Hmm, kalo Kisah Klan Otori gimana menurut lu?

Luz Balthasaar mengatakan...

Grammatical error mana?

*pura-pura ga tau sambil ngapus jejak*

Klan Otori, aku belum baca. Tapi aku tahu Juun punya sedikit kemarahan terpendam pada karya itu. >:D

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Ah rite, Juu emang pernah ngamuk-ngamuk soal Klan Otori.

*ngelirik ke FFDN di GRI, soalnya kalo nggak salah kemarahan Panda itu ngebekas di sana*

Anggra T mengatakan...

Riset untuk mengangkat budaya ya? Tapi bagaimana dengan cerita fantasi yang mengasimilasi berbagai budaya untuk membuat budaya khayalan? Kurasa bule celup ini lebih ditujukan pada penulis fiksi sejarah deh, macam kaya klan otori seperti kata mamanya candu aksara :P

Mantoel Toeink mengatakan...

Klan Otori???!!!

*panda marah2 dan mulai mem-vandal benda terdekat, ikut2an iklan keju panda dgn tagline "Never Say No To Panda"*

Gw masih lbh terima dwilogi yg salah satu judulnya Kastil Awan Burung Gereja ketimbang Klan Otori. :| :| :| Kastil Awan Burung Gereja jg ditulis ama org Jepang, tp dia bisa dibilang org Jepang "asing" krn dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Hawaii. Mgkn balik ke Jepang cuma pernah sesekali doang.

Gaya bahasa dan apa yg ditulis si org Jepang "asing" ini jg kerasa rada beda, tapi masalah referensi ama kehidupan Jepang asli gak terasa semenyimpang Klan Otori.

Kalo mau salah satu karya yg oke punya itu Moribito-nya Nahoko Uehashi. b[>_<]d Nuansa dunianya Asia sekali, tapi terasa "asli-gak-pake-niru" somehow. Pdhl gw ckp yakin dia referensinya kehidupan real-life org Asia.

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun: Aku seratus persen setuju soal Moribito. Memang bagus kok itu.

@Anggra, untuk budaya campuran pun perlu hati-hati biar ga bule celup. ATLAB tu campuran Cina, Jepang, Mongolia, dan sedikit Eskimo, kalau kulhat di film TLA-nya.

Mantoel Toeink mengatakan...

Signora gak nonton ATLAB versi animasinya tho? Di versi kartunnya juga kerasa banget adaptasi budaya Cina, Eskimo, Jepang-nya.

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

Baru mulai Juun. Karena baru sebagian ini jadi belum sampai level fans ATLAB sjati.

Yang dah nonton co-ku, jadi pas nulis ini denger dari ybs dan minta bantuan pendapat dy.

Ashara mengatakan...

izin follow yaa. :)

komentar aja. sorry kalo dangkal.
kayanya, alasan jarang ada yang ngangkat budaya lokal karena budaya lokal kita udah berubah jadi budaya bule celup juga. XD jadinya ya cerita yang nongol cerita celupan yang gak konsisten juga.

lagian mungkin ada streotip yang bilang apa pun yang lokal gak keren. rata2 sekarang orang pegang motto think global, act global juga.. XP

Yah, mungkin itu aja kali ya... :) ada yang nemu alasan lain?? hehe.

Anonim mengatakan...

Yayy!! Yaayyy!! Yayyy!! Yaaayyyy!!! (lompat2)
Akhirnya keluar juga update-nya. Malah ku yg telah bacanya nih XD.
Aih... jadi itu to maksudnya bule celup dan peri yunani.

Nimbrung soal budaya khayalan juga.
Kalo budaya khayalan gitu, gimana caranya supaya kita tau itu bukan "bule celup" ato bukan?
Klo budaya asli kan lumayan gampang ketahuannya (ini g kaya jepang, ini g kaya indo, dll), klo budaya khayalan bagimana?

Soalnya ku punya budaya khayalan yg gado2 mongol-india-g tau lagi ><
Tapi masi takut2 terkena sindrom "bule celup" nan seram itu

Apa cukup dgn konsistensi? Ato ada aturan2 lain yg harus dipatuhi?
Biasanya ku cuma pake insting si...><

Thanks kk!!

-stezsen

Mantoel Toeink mengatakan...

@Stetzsen: Erm, kalo gw boleh berpendapat, fenomena bule clap clup ini justru akan gak kentara sama sekali kalo settingnya pure gak ada kaitannya ama dunia nyata.

Bule celup itu akan SANGAT kentara sekali kalo settingnya dunia nyata. Misalnya aja dilabeli di awal chapter settingnya Jakarta, tapi org2 Jakarta yg di dalam sana bertingkah kyk Wong Jawa. Hnah, lsg kerasa kan?

Tapi kalo misalnya setting di suatu tempat bernama Axthalman (tolong dikroscek ada gak nama tempat ini di dunia nyata :P)org2nya bertingkah seperti layaknya org2 Spanyol campur Jepang ato Jakarta, org gak akan protes itu sbg bule celup. Kenapa? Krn yg dicelup bukan bule tp entah org dr ras apa itu. :P :P

Itu mnrt gw. Makanya gw ini senengnya bikin setting antah berantah yg jauh lbh sulit ditembak sbg "bule celup" krn kekurangmantapan.

Ah, mgkn cerita gw bisa dijadiin bahan analisa. Take a look at kumcer Fantasy Fiesta 2010, cerita gw, Anak Lelaki dan Si Pengubah Wujud. Byk org yg blg itu nuansanya native-american, tapi blm ada lemparan tuduhan bule celup. Coba kalo ditelaah lbh lanjut, sbnrnya cerita gw itu termasuk ke dlm fenomena bule celup gak? :-?

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@stez: budaya campuran tetap bisa melorot. Kalau budaya Spanyol-Jakarta, bagaimana bisa melorot? salah satunya, kalau tokoh-tokohnya ngomong pake aksen Tegal tanpa ada penjelasan atau situasi yang bisa membenarkan aksen tersebut.

Unsur apapun yang tidak seharusnya ada di dalam constructed culture itu akan membuatnya melorot.

Mengenai memakai insting, itu nggak salah. Namun, sesekali kita perlu mengajukan karya kita ke orang lain yang terpercaya. Komentar mereka mengenai apa yang masih 'miss' biasanya akan sangat membantu membuat insting kita makin tajam.
__

@Juun: Karena memang itu bukan karya bule celup.

Tentu, itu bukan native american otentik, lebih pada con-culture yang meminjam unsur budaya Native American.

Namun, yang membuatnya bagus bukan karena itu con-culture yang kebal dari efek bule celup. Dia bagus karena unsur native americannya dipakai secara tepat. Suasana dapat, deskripsi dapat, konsistensi dapat.
__

@Ashara, Pernyataan kamu itu sebetulnya pengamatan yang ada benarnya.

Kita sekarang hidup di pada era revolusi informasi. Dan kecenderungan revolusi adalah membikin sesuatu jadi berantakan. Coba aja buka buku sejarah, dan baca revolusi apapun di negara manapun. Pasti deh awalnya berantakan dulu.

Nah, sekarang Indonesia berada di era berantakan itu. Banyak nilai-nilai dari berbagai belahan dunia yang masuk ke negeri ini. Akibatnya, kita gamang, antara dituntut mempertahankan budaya lokal dan mengikuti budaya yang kita dapat dari berbagai media informasi. Akibatnya, kamu serta banyak orang lain merasa budaya Indonesia jadi budaya bule celup.

Namun, revolusi juga punya kecenderungan untuk akhirnya menjadi tenang dan stabil. Pada saatnya nanti akan ada inilah terjadi sintesis dari unsur-unsur yang bertentangan dalam revolusi informasi di Indonesia. Pada saat itu kita akan tahu bagaimana mendamaikan budaya Indonesia dan budaya luar dalam satu karya.

Dan sampai saat itu tiba, yang bisa kita lakukan adalah bereksperimen dan belajar. Barangkali di antara kita ada yang akan lebih cepat menjadi stabil dibanding yang lain...

Anggra T mengatakan...

@luz:
iya juga sih.. ATLAB itu memang celup2 sana sini =))

Makanya aku lebih suka jadi penulis fantasi dengan memakai setting dunia khayal yang tidak terkait dengan salah satu budaya nyata. Untuk memperkecil kemungkinan kecelup. >:P

btw, OOT dikit.
Aku agak ngerasa FF kali ini bakal banyak yang pakai setting budaya lokal XD (just my feeling.. :P)

Anonim mengatakan...

@kk juu
Sama. Ku juga mikirnya gitu. Klo bikin dunia sendiri lebih aman dari msalah celup2an ehehe.
Tapi kayaknya tergantung eksekusi ya.

@kk luz
Oke. Jadi unsur yg OOT dan OOP, konsistensi ya. Sama eksekusi. Dan banyak2 pembaca.
Hmm.. kayaknya masalah budaya khayal ini bisa makan waktu pengerjaan cerita ya

stezsen

Luz Balthasaar mengatakan...

@Anggra, aku belum jalan-jalan, jadi ga tau apa memang banyak yang pake budaya Indonesia atau ngga. Paling cuma ngelihat punya Vadis di Blog sebelah.

Tapi kalaupun iya, kayaknya karena ada penulis yang meradang karena komentar-komentar yang bilang kita keracunan budaya luar, hehehe.

Tapi kalau ke aku, balik lagi, cinta itu nggak bisa dipaksa, dan budaya luar itu bukan racun. Yang racun itu budaya korupsi.

Punyaku sendiri kayaknya bukan budaya Indonesia. Con-culture.

Anggra T mengatakan...

Jujur aja, entah karena kurang diberdayakan atau karena dulu guru sejarahku super membosankan, aku tidak terlalu tertarik dengan budaya lokal. (Baru merasa budaya lokal ini menarik sejak menyantap bilangan fu XD)

Kalo boleh berpendapat,
Dari pada mikirin bule celup apa nggak, kebarat2an atau ngga, lebih baik menulis saja dengan menciptakan deskripsi yang dapat mengikat pembaca untuk membaca terus. Untuk melakukan ini, selain riset seperlunya, sangat penting adanya rasa suka si penulis pada cerita dan budaya yang diangkatnya. Bukan menulis karena dikatain "tidak nasionalis"

Just my opinion ;)

Luz Balthasaar mengatakan...

@anggra: Amin. XD

OOT tapi dimaafkan karena ini blog saia sendiri,

Aang itu SPG (Sales Promotion Guy) RapidShare, lho. Liat aja lambang di palanya. Mirip sama logo RapidShare ga sih? Wkwkwkwkw...

Mantoel Toeink mengatakan...

Con-culture ...? Constructive culture?

Dan gw jg sdkt berpraduga sama bahwa FF2011 ini byk yg ingin mengikuti kesuksesan cerpen Api-nya Senior Dian. :D

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

Constructed Culture maksudnya, Nyomot dari Con-Lang atau Constructed Language.

Barangkali kamu ada benernya Juun. Jadi mau ngelihat bagaimana eksekusi para peserta FF 2011 yang mengangkat budaya lokal...

Anonim mengatakan...

keknya saia telat kalau ngasih komentar sekarang ini :D

Tapi pengin komentar juga nih :o

Kebetulan, karya saia sempat dikomentarin teman karena tidak memuat unsur lokal sama sekali. (e tapi sebenarnya ada, cuman dalam penamaan makanannya).

Kalau udah begini, saia juga bingung, mau debat juga sungkan, njelasin rasanya juga percuma karena malah dikira keras kepala akibat mertahanin pendapat :D *ini curcol*

Tapi yang saia tahu, sepertina penulis hanya harus konsisten dengan budaya ataupun setting lokasi yang dia buat. Berhubung saya penggemar lokasi antah-berantah, malah saia justru keasyikan bermain di dunia antah-berantah itu sebelum kembali ke dunai nyata. Ehm, sama seperti komentar salah satu blogger, sepertinya membuat dunia baru lebih mudah karena artinya, kita bisa membuat hukum-hukum dan aturan sesuai keinginan kita sendiri.

Hanya saja, kendalanya ada pada konsistensi. Dan konsistensi terkadang terkendala pada nurani penulis pada karakternya. :D

komentar tahun 2013