Kamis, 16 Januari 2014

REVIEW ~ An Underwhelming Song of Sex and Violence: A Game of Dramas


PERINGATAN PEMERINTAH:

Sebelum anda membaca, tolong perhatikan kalau artikel ini banyak bahasa eksplisitnya. Mengingat materi yang saia repiu ini nggak menahan diri dalam urusan arus bawah, dan fandumb-nya membanggakan fakta tsb. sampai kadang ngatain non-fans sebagai kaum prudish yang gak tahan materi dewasa, fine. Saia ikut nggak menahan diri. Buat anda yang berjiwa halus, please excuse my colorful language, meski sebagian udah saia sensor.  

Saia sebut di post sebelumnya kalau saia akan mulai merepiu buku asing. Tadinya saia pengen repiu Alif the Unseen karya G. Willow Wilson atau Legend-nya Marie Lu, tapi ternyata saia punya lebih banyak hal untuk diomongin tentang salah satu . . . eh, karya yang masterpiece bagi banyak orang dan mungkin masterp*ss bagi sekelompok minoritas. 

Hadirin sambutlah . . . A Game of Thrones karya Om George R. R. Martin!

N-n-n-n-n-ice D-d-d-*ck Chair!

   


Uh... salah gambar. Itu foto perabot koleksi pribadi. Maksud saia, ini. BEHOLD!


A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire, #1)
Why do I feel like my @** is being violated? 

Saia tau saia telat banget baca ini. Kenapa? Saia  harus nunggu hypeforia serial TV-nya turun, baru saia bisa maksa diri saia buat baca. Muup untuk Om GRRM--yang kerap kali inisialnya saia baca "gurem" meskipun saia tahu beliau anything but--saia memang pemalas. Bukan saia anti mainstream seperti sekian banyak manusia canggih yang mengaku pendukung anarki, tapi fandumb itu kadang-kadang bisa membunuh birahi baca. 

Banyak fans Game of Thrones yang oke di luar sana. Satu di Melbourne malah nawarin saia t-shirt dengan crest serigala Stark, yang saia beli dan saia suka. Pertama, kaos itu keren. Kedua, kaos itu bisa bikin temen kuliah saia jejeritan sirik sampe berbusa-busa. Hehe, Biasalah, sifat manusia. Paling hepi kalau bisa bikin sirik. 

Tapi sayangnya sepanjang tahun lalu saia banyak keekspose sama fandumb. You know, Om, yang merasa jadi manusia elite kalau mereka baca dan berkomentar panjanglebar soal karya anda? Yea. Saia males dengerin mereka ngoceh seakan buku Anda adalah the best thing since sliced bread. Any sane person knows that cupcakes are the epitome of carbohydrate-y goodness. #ngelantur 
 
Jadilah saia menghindari GoT. Sampai . . . Books and Beyond di Universitas Insyaoloh nawarin buku pertamanya. Diskon sedikit pula karena member. Um, Oke. Saia beli deh.

Saia perlu beberapa kali nyoba untuk baca ini. Saia sempat kehilangan minat di halaman 100-an dan 200-an. Kadang saia merasa kisahnya bertele-tele, atau apa yang benernya bisa dipecahin cepet malah jadi lama karena karakternya nggak liat the obvious solution. 

Tapi saia mengerti kenapa ini bisa menarik banyak orang. Pertama, bahasanya mudah sekali. Kedua, ketegangannya ada dan saia akui tensinya paling bagus di bagian tengah. Bahkan keputusan dudud karakternya pun bikin saia bertanya-tanya dan deg-degan, "Apa dia bakalan terus ogeb, atau dia bakalan memperbaiki ini?" 

Tapi ya amplop . . . banyak dari ketegangan itu digembosi di bagian terakhir. 


Kematian si dodol Robert Baratheon, misalnya. Kok dia bisa begitu dodolnya berburu sambil mabok? Drunk driving (or in this case, riding while wielding a big-ass sword/warhammer while hunting an equally big-ass wild boar) is dangerous, folks! 


Dan Eddard! Ew! Kenapa dia ngasih tahu Cersei kalau, "Yo Biatch, I know about you shacking up with your dumbass brother. LOL W00T!" Dia udah tahu Kings Landing itu sarang ular, lah kenapa ularnya malah diprovokasi? Dia man of honor, yea, tapi sebelumnya ditunjukkan kalau dia itu bisa pake otak dan nggak murni blind honor. Gak bisa apa dia pura-pura ogeb, setidaknya sampe dia tau siapa bisa jadi kawan siapa cuma jadi lawan, atau sampai dia bisa nyelamatin apa yang bisa dia selamatin? 

Yang saia nggak ngerti juga adalah klaim bahwa ASOIAF ini realistis. Er, nggak gitu deh. Nambahin angst, seks dan kekerasan nggak membuat sesuatu jadi realistis, kali? (Tapi saia nggak akan menyangkal kalau sex sells, and kinky sex with violence sells even more.) Saia suka memparafrase ucapan Shakuntala di Larung-nya Ayu Utami kalau berhadapan dengan situasi gini. "Kenapa kenyataan itu harus yang jelek-jelek saja? Hal-hal indah, meski singkat, adalah kenyataan juga." 

Lagian, ternyata kekerasan dan seksnya ya . . . gitu aja, tuh? Kalah jauh dari manga cemnya Ookami no Monshou atau bahkan Franken Fran. (Gak saia kasih tautan ya, karena yang pertama itu ada gangrape-nya dan yang kedua itu full guro.) It's underwhelming, to say the least. 

Keluhan yang sama berlaku untuk "intrik politiknya." Banyak yang bilang GoT Penuh intrik, tapi bagaimana mereka menciptakan intik politik itu bener-bener . . . sederhana. So simple, it made me cringe. Leaving someone's knife as a murder weapon to induce suspicion? Yeah Right. I'd fall for that. Like, totally! 

And besides, politics are mostly about bargaining and making compromises to accomplish something, not cooking up some petty schemes. It's about protecting yourself when you are weak, and cunningly using your power when you are strong. Paling nggak itu menurut yang saia pelajari di Fakultas Iseng Santai Ijazah Pasti Universitas Insyaoloh

Apa yang saia aliat di GoT jujur aja nggak kayak gini. Kecuali barangkali untuk beberapa karakter, yang saia ragukan juga kemampuan schemingnya. Kebanyakan karakter bikin rencana yang masalahnya painfully obvious, dan karakter lain nggak liat kejanggalannya di mana karena plot convenience. 

Tapi saia nggak akan membantah kalau barangkali, "politik" yang kayak gitulah yang paling mudah dipahami dan mudah diperah dramanya. After all, dunia ini tidak dramatis bagi banyak orang. Oleh karena itu rata-rata manusia gampang tertarik pada apapun yang menyediakan drama. Sinetron, misalnya. Reality show, contoh lain. Seperti kedua contoh itu, AGoT ini memberikan apa yang mereka inginkan: drama. Nggak ada yang salah dari pure entertainment, tapi kebetulan saia lebih suka buku yang barangkali nggak seberapa dramatis tapi enak dibaca dan lebih menggelitik pikiran. 

Bicara karakter, mungkin saia paling suka Sansa. Orang banyak nggak suka dia karena katanya dia bego, tapi saia rasa Sansa itu yang paling nggak dibikin-bikin dan yang nunjukin character growth paling bagus. Lagian, bagi mereka yang bilang Om Gurem tega sama karakter, masa sih? Sejauh yang saia baca di Wiki of Ice and Fire, Sansa masih SelAmat seNtoSA sejauh ini. Hehehe. Please excuse the lame pun. 

Kedua terfavorit mungkin Daenerys, karena character growth dia juga lumayan. But honestly, setelah baca wikinya, meh. She can go fly a kite. Untuk yang lain, silakan liat di bawah. 

1. Bran Stark yang menderita Amnesia Plot Device? REALLY? 

2. Jon Snow also known as The Last Airben . . . uh, I mean, Author Avatar. 

3. Jaime Lannister yang srsly WTF dude. Elo dorong bocah yang jadi saksi kunci dari permasalahan utama yang jadi akar dari seluruh konflik cerita ini, tapi gak mastiin dia mati setelah jatuh? 


Hey Cersei! Wanna f**k?


*cue Jaime fangirl rage*

Saia gak benci Nicolaj Coster-Waldau yang meranin Jaime, though. Dude's cool.

*fangirl rage dissappears* 

4. Tyrion Lannister yang awesome di buku ini tapi gak gitu awesome lagi di buku terakhir. Iks. :'( 

5. Cersei Lannister si ratu yang katanya tega dan kejam, tapi ngontrol satu bocah aja gak gablek. Joffrey bisa seenak jidat main eksekusi tanpa bisa dicegah oleh orang dewasa di sekitarnya? Ini Westeros gak kenal sistem regency, apa? 

6. Catelyn Stark “Oh lihat! Ini pisaunya si X jadi pasti dia yang mau bunuh anak saia! Nggak mungkin pisau ini ditinggalin untuk memfitnah dia sekalipun saia sempat curiga pesan dari Lysa didrop oleh orang dari rombongan Lannister! Nggak mungkin! LIEK, TOTALLY IMPOSIBRU! LOL!” 

7. Eddard Stark yang punya otak sepanjang cerita, tapi menjelang terakhir mendadak kehilangan aset penting tsb biar pengarang bisa nunjukin kalau honor is dumb. Which I don't particularly agree, by the way. Why can't you be mostly honorable, but willing to play dirty if the need arises? 

8. Sansa Stark yang ceritanya paling nggak dibikin-bikin. 

9. Daenerys Targaryen yang ceritanya lumayan tapi tetep bingungin. Robert "I Think with Mah' Penis" Baratheon dan konconya ngirim ahli racun ke Market di Vaes Dothrak untuk bunuh dia. Tapi gimana mereka tahu Daenerys bakalan belanja tralala di kios si tukang racun? Lagian, gimana juga Daenerys tahu ngebakar Mirri Maz Duur bisa ngidupin telur naga-naga itu, sementara dia sendiri gak kenapa-kenapa setelah loncat ke api? Dia kan gak tahu blood magic-nya Mirri bekerjanya gimana? 

10. Viserys Targaryen yang. . . er, too dumb to live. Untunglah dia akhinya mati, biar gen idiotnya nggak diwariskan ke umat manusia. Ngancam istri warlord di depan hidung warlord ybs. dan seluruh pasukannya? Orang ini perlu menang Darwin Awards. 

11. Khal Drogo yang sebenernya awesome sampai dia memutuskan nyebrang laut bawa ribuan orang yang setia sama dia cuma karena kekuatannya, hanya gara-gara satu tukang racun. Emotional much?

Ah ya, tapi ada bagian lucu yang saia suka sih. Waktu Loras Tyrell bikin Gregor Clegane ragequit gara-gara kuda birahi. Hihihi.

Dengan demikian kelarlah jalan-jalan saia di Westeros. Kesan terakhir? Nggak ampas banget benernya. Bahasanya gampang dipahami, ketegangannya maknyus, dan ya, dramatis. Begitu dramatisnya sampe kadang-kadang overdramatis. Terlepas dari insistensi fandumb bahwa AGoT ini kompleks dan penuh realisme dan seks dan intrik, saia mendapati semua komponen tersebut underwhelming. Saia baca wikinya aja deh. Toh di sana fan artworknya bagus-bagus.

Baiklah. Sekarang waktunya untuk jalan ke Wiki. Saaaaaansaaaa~ sini sini Sansa cayang~ *bawa big-ass poleaxe.*




Luz Balthasaar
Swords Are Just for P*ssies! Bring Me My Poleaxe!

16 komentar:

OctaNH mengatakan...

Berasa kayak nonton Mari Mar ama Maria Mercedes yak? Hahahaaaa.... Reviewnya bikin ngakak siang-siang. Tapi, emang ada bagian yang janggal dan gak masuk akal. Walopun saya akuin bahasa dan konfliknya terang-benderang jaid gak mumet gitu ngikutinnya ... yaaa, kayak konflik si Mari Mar. :D

Luz Balthasaar mengatakan...

Eh heh. Ini entertainment murni soalnya. Bener kata Mbak, ini setipe sama telenovela. Nontonnya ga usah pake mikir, tapi bis itu ya ga dapet apa-apaan juga.

Glad U enjoy it. :D

Anonim mengatakan...

Kakakakakakakakakakakakaka
Repiunya lucu banget (y)

Humm jadi tambah ragu baca bukunya. Di filmnya juga keliatan gitu sih, membanting ekspektasi saya yg udah kelewat tinggi gara2 hype.

E tapi, sekali2 cc luz kasih "tutorial" gimana cara bikin intrik2 yg keren donk. Supaya kalo saya punya tokoh raja ato pangeran enggak bikin keputusan gaje, erus kalo lagi pengen sok2 keren bikin cerita rumit juga enggak keliatan dududnya gitu :D


Salam
Yin

Luz Balthasaar mengatakan...

Moink Makasih.

Sebetulnya klo mau pinjem bukunya aja dl. Klo ternyata suka kan bisa lanjut.

Soal tutorial intrik, itu susahh, jujur. Intrik itu bergantung cerita, jadi ya jadinya bisa macem-macem. Prinsipnya simpel tho: power/leveragenya di siapa, bentuknya apa, siapa yang mau ngambil, dengan cara apa.

Lagian daripada berusaha bikin intrik keren, mendingan coba bikin cerita yang jujur pengen kita bikin dulu.

Anonim mengatakan...

Ow. Saia akan mengingat prinsip2 itu.

Ehehehe, soalnya saia suka fangirling kalo nonton/baca cerita yg banyak orang keren adu pinter intrik itu. Terus mau niru2 tapi jadinya ancur ahahahahaha. Kekuatan fans tak cukup untuk upgrade skill ternyata :D

Pinjem buku yah.... Ada domisili Surabaya dan punya GoT dan bersedia minjemin? (promositaktahutempat) :v


Yin

Shengar mengatakan...

Ulasannya persis banget sama ulasan GoT paling populer di goodreads (bagian sinteron/reality shownya). Gak bisa bilang apa-apa kecuali setuju.

Tapi untuk soal pisau milik x sebagai alat untuk memfitnah, itu sebenarnya bisa bekerja. Kayak di Vinland Saga misalnya, pas Askelaad masih muda, dia kan ngebunuh ayahnya. Nah dia ngebunuhnya pake pedang kakak tirinya dan ntu pedang dibiarin nancep. Akhirnya si kakaknya yang digantung dan Askelaad nya sendiri bisa ngegantiin bapaknya. Cuma hal yang perlu diingat, ini bisa berkeja di masyarakat yang masih simplisistik. Bahkan Askelaad sendiri mencemooh kaum Dane/Viking yang bisa kemakan mentah-mentah sama rencanannya ini, yang dia akui terlalu mudah. Nah, pertanyaannya, apa orang-orang Westeros digambarkan sebagai masyarakat yang simplisistik macam orang Viking/Dane?

Untuk si Robert yang mati karena mabok, sebenarnya mati konyol gitu gak apa-apa. Asalkan cara kematiannya yang konyol itu entah gimana bisa mengaruhin plot nantinya, buka sekedar kematiannya aja. Atau paling gak dari awal udah di foreshadow dia bakal mati gitu deh. Misal seorang raja mati keselek, nah dari bab awal udah digambarin dia makannya cepet dan kalau nelen selalu cepet. Jadi mati konyolnya gak terkesan tiba-tiba. Memang sih orang bisa mati konyol tiba-tiba, tapi alasan kebetulan dan tiba-tiba di suatu fiksi itu alasan yang terlalu lemah buat saya :> (kayak ketabrak truk dibanyak sinteron misal)

Luz Balthasaar mengatakan...

Damn!

Makasih ingetin saia baca Vinland. Itu udah ada dari kapan di harddrive saia, gak sempat2 saia buka.

Apakah Westeros simplisistik kayak orang Dane? Hm.

Westeros punya sistem kerajaan. Mereka punya house dan house crest. Mereka mengenal seni mata-mata. Si Varys tuh, spymasternya. Hehe. Mereka menetap di kota. Mereka nggak pillaging. Mereka bisa bangun istana di puncak gunung (istananya House Arryn) So, yeah. Mereka pasti percaya kalau pisau punya X ditinggalin di murder site. TOTALLY.

Dan si Robert mati gitu di akhir. Bukan di tengah yang bisa ngaruhin plot. Jelas kalau dia matinya diatur sih, tapi pengaturan itu gak berhasil kalau dia berhenti. I mean, orang harus bener-bener bego kan, untuk mutusin terus buru babi hutan meski dia mabok? :?

Anggra mengatakan...

Akakakkakaa...
Setuju soal Danny girl. Saia ada niat baca lanjut krn dia sebenarnya. Hehehe...

Matinya si Eddard itu udah saia perkirakan dr bagian2 awal. Dan dia karakter paling saia benci di ASOIAF. Nobility nya serasa nggak real belum lagi keputusan begonya.

Sansa itu lumayan nyebelin di buku 1. Saya nggak tahu kalau buku lanjutannya gimana krn baru tahu cerita bagian 1.

Mungkin krn saia baca dulu, saia ga terlalu merasakan seks yang berlebihan sampai saia nonton sinetronnya, atau mungkin saia yg dudud. :-/

Anonim mengatakan...

Dear Mbak Luz,
Kebetulan sekali review kali ini ada hal yang cukup sering saya baca dalam berbagai review fiksi di Goodreads, yang membuat saya cukup penasaran. Jadi, aji mumpung, saya numpang tanya.
Permisi saya copy paste sebagian sop iler nya, yang udah sengaja di-hide tapi terpaksa saya kutip, bagi yang gak suka sop iler, silahkan skip, you have been warned, hehe...
"Dia man of honor, yea, tapi sebelumnya ditunjukkan kalau dia itu bisa pake otak dan nggak murni blind honor. Gak bisa apa dia pura-pura ogeb, setidaknya sampe dia tau siapa bisa jadi kawan siapa cuma jadi lawan, atau sampai dia bisa nyelamatin apa yang bisa dia selamatin?"
Yup, mengenai tindakan yang dilakukan oleh seorang tokoh, yang entahkah out of character, kelihatan bodoh atau konyol atau semacamnya, yang memancing pembaca untuk berkomentar : loh, loh, loh ... koq dia melakukan ini sih? Tindakan yang entah memang sengaja atau tidak disengaja digunakan pengarang untuk menggerakkan plot.
Yang ingin saya tanyakan, apakah "tabu" bagi seorang tokoh untuk suatu ketika melakukan tindakan yang out of character, konyol, bodoh atau salah (tapi bukan karena bolong logika)?
Karena indeed, we all made mistakes and other dumb actions and else, entah karena emosi, idealisme, tidak berpikir panjang dsb.
So, saya lumayan bingung dan bertanya-tanya kalau membaca review yang mengomentari tindakan yang dianggap "salah/bodoh" seorang tokoh.
Ataukah perlu sang pengarang memberikan penjelasan mengenai motif yang mendasari tindakannya, agar tidak menimbulkan pertanyaan dan keheranan pembaca?
Trims.

Luz Balthasaar mengatakan...

Ah, pertanyaan bagus. Apakah karakter nggak boleh melakukan kesalahan in-story yang kesannya bego? Toh di real life, manusia melakukan hal-hal bego.

Untuk menjawab ini saia pengen mengutip Hukum Clancy:

The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.

Saia pernah bahas ini di posting saia yg ini...

http://loresketch.blogspot.com/2010/11/cool-p4wnz-introducing-rule-of-cool.html

Hukum Clancy menggariskan bahwa sekalipun di real life orang bisa bertindak bego, di dalam fiksi itu lebih sulit diterima. Tokoh nggak bisa sembarangan bertindak nonsens, dan kita nggak bisa bilang, "kok elo nggak bisa nerima sih? Di real life kan begini juga?"

Maaf, tapi fiksi nggak bekerja dengan cara seperti itu. Kalau tindakan bodoh itu kelihatan dipaksakan sebagai plot device, besar kemungkinan orang akan protes.

Karena itu, kalau memang si karakter harus "bertindak bodoh," sebaiknya dia nggak kelihatan OOC karena mendadak dibikin bego oleh pengarang. Jangan juga si karakter ditampilkan seperti karikatur, dalam arti sifat yang bisa mendukung kebodohan mereka dilebih-lebihkan untuk menjustifikasi agar tindakan bodoh mereka nggak OOC.

Yang kedua ini saia liat terjadi di AGoT, terutama Viserys dan Eddard di bagian akhir. Satu power-hungry-nya digambarkan berlebihan sampai akal sehatnya nggak ada sama sekali. Satu lagi penjunjung kehormatan yang juga berlebihan sampai common sensenya mendadak ilang karena plot memrlukan begitu.

Ketika akhirnya mereka bertindak bodoh karena sifat-sifat itu, orang menunjuk, "Ya mereka sifatnya begitu?" No. Itu bukan sifat yang normal. Itu sifat yang dikarikaturisasi.

Salah satu cara biar kekeliruan tokoh nggak terasa bego atau disengaja adalah bikin situasi di cerita mendorong tokoh mengambil tindakan itu. Mungkin dia kepepet dan implikasi dari tindakannya nggak bisa diperkirakan, temasuk oleh para pembaca.

Anonim mengatakan...

Aduh mba saya cengar-cengir baca ripiewnya. Emang sih tuh buku penuh bola dudud. Plis deh Need elu ngapain ngasih tau the lannister biatch. Gubraks deh.

Dah baca semua bukunya? Kalo blom, wait until you read what Robb Stark did. A bigger dudud than his sire =))

Tapi ceritanya sangat menghibur kok :D

Adrian

Luz Balthasaar mengatakan...

@adrian, Yup, ceritanya ngasih drama. Dan gak nyangkal drama itu perlu. Apalgi jujur cerita dan gaya bahasanya simpel, jadi banyak orang gampang paham.

Yang saia masalah adalah kalau ada fan nggak enak yang bilang ini realistis atau kompleks. Sama sekali nggak.

Saia lom baca semua bukunya. Kebeneran lg banyak di antrian, jadi ya kalau nanti ada waktulah. :)

Luz B.

devotemind mengatakan...

Hai Mbak Luz! *gak enak banget panggil Mbak*
Udah lama diriku gak main ke sini. Isinya masih keren seperti dulu-dulu. =))

Sejujurnya saya belom baca ASOIAF sih, jadi cuma senyum-senyum aja baca ini (sebagian besar karena gak paham apa yang dibahas).

Luz pernah kepikir mau membukukan blognya gak sih? Saya belajar banyak loh dari tulisan-tulisanmu. Pengen punya bentuk fisiknya, jadi bisa dibawa dan dibaca ke mana pun (kayak Alkitab, mwahahaha).

Selama ini hanya mengamati dari jauh. Kali ini saya menampakkan diri.
Moga tesisnya cepet kelar ya, supaya bisa lebih leluasa kayak dulu pas pertama kali saya mengenalmu. =))

*komentar ini gak penting banget, sumpah*

~ M. Yosephine a.k.a. Maryos

Luz Balthasaar mengatakan...

@Maryos: Haha, makasih mau mampir lagi. Maaf karena saia memang sibuk banget ngurusin persiapan ujian Tesis. Moga2 bentar lagi beres dan saia bisa nulis lagi.

Kalau mau dibukukan, masalahnya sapa juga yang mau nerbitin? Saia nyadar sih kalau apa yang saia tulis pada dasarnya cuma omelan yang kadang emang menjurus rant dan agak-agak ngiri. Kalau banyak yang ngerasa itu berguna, yah baguslah.

Itu alasannya saia ngatur agar site ini gampang diakses via mobile. Kalau bisa diakses mobile, kan bisa diliat kapan aja via smartphone meski ga diprint.

Tapi usul anda mungkin bisa diakomodasi lewat posting soal rangkuman tentang apa-apa saja yang sudah pernah saia tulis tentang satu topik, biar nyarinya ga tralu ribet. Saia akan coba bikin itu segera. Makasih yak!

Anonim mengatakan...

Mbaaaak... ripiu2 di goodreads pindahin dong ke blog klo berkenan... saia ga ada akun gudris nih. Lumayan kan mbak klo dipindahin ke sini jadi selalu ada postingan rutin.

itung2 ngobatin penggemar yg nelen pil pait tiap liat ni blog yang updetny ngirit hehehe *persisblogsebelah*
hekhekhek

walo gitu sukses dah buat tesisny :)


warm regards,
-tom-

Luz Balthasaar mengatakan...

@Tom: Nggak ada akun Goodreads? No Probs!

Semua ulasan saia di Goodreads saya kasih tautan di sini. Nggak perlu punya akun kok.

http://loresketch.blogspot.com/p/ruang-ngenye.html

Beberapa yang agak baru belum saya pindahkan. Tapi memang, agak sulit kalau mau nyeletuk di komentarnya ya.

*Memikirkan Solusi*