Senin, 20 Oktober 2014

Alternative Publishing ~ Cinta Ditolak Dukun Bertindak?


Akhirnya setelah kerja lagi, saia bisa balik ngisi. Mohon disabar-sabarin yak. Saia sedang berusaha update teratur lagi, sekaligus menelaah saran-saran yang kemarin dikasih di komen-komen. Saia janji kali ini saia gak akan (terlalu) PHP. Walaupun memang judul tulisan kali ini PHP banget.

To be clear, saia bukannya mau bagi-bagi mantra pengasihan biar naskah diterima. Judul itu cuman saia pakai karena dua alasan. Satu, kalimatnya lebay dan saia suka sama hal-hal lebay. Dua, saia mau memberi ilustrasi. 

Anda barangkali mengenal ungkapan "Cinta Ditolak Dukun Bertindak." Kalau nggak, barangkali anda lahir di atas tahun 1990. Apabila anda termasuk golongan kedua, coba ganti kata "Dukun" dengan "Stalker," dan baca ulang kalimat itu. Anda mengerti maksudnya?


50 persen, Kapiten!


Saia yakin anda paham. Kalau anda menyampaikan cinta dengan cara biasa dan ditolak, maka waktunya anda mencoba cara inkonvensional. Sama halnya dengan naskah. Kalau penerbitan konvensional menolak anda, bagaimana kalau anda coba penerbitan alternatif? 

Mungkin ada yang ngacung tangan. "Maksudnya indie/self-publishing 'kan Mbak?" Salah satunya, ya. Anda bisa bikin perusahaan penerbitan, tentu saja, dan saia tahu ada penulis yang melakukannya. Tapi jika itu terlalu ribet, anda bisa nyari penerbit kecil, print-on demand, atau vanity publisher, alias penerbit yang sistemnya "anda bayar ongkos, kami cetakin, lalu anda jual sendiri."

Atau sekalian saja anda yang cari percetakan, nyetak sesuai biaya yang mereka tetapkan, ngurus ISBN (kalau mau), dan jual buku anda. Entah secara online atau di dalam acara-acara tertentu yang memungkinkan itu. 

Pertanyaan berikut, bagaimana kualitas buku-buku yang diterbitkan dengan cara demikian? Buat saia jawabannya agak sulit. Ada persepsi kalau buku macam ini kualitasnya kalah dari buku-buku yang terbit konvensional. Memang benar; dalam banyak kasus buku yang ditebitkan sendiri memiliki kekurangan baik dari segi editing dan isi. Wajar sebetulnya, mengingat kontrol terhadap produk jauh lebih sedikit dibanding di dalam penerbitan konvensional. 

Tapi nggak berarti buku-buku macam ini pasti jelek. Ada yang memang, nggak saia pungkiri, bangkrut secara formal maupun substansi. Lebih kacau lagi, penulis buku demikian biasanya nggak nyadar kalau karyanya itu punya (terlalu) banyak kekurangan untuk menjadi naskah yang layak baca. Mereka merasa ditolak penerbit konvensional karena karya mereka nggak komersil--yang dalam satu aspek ada benarnya--tapi masalahnya seringkali bukan terletak di situ. Masalahnya adalah, karya mereka sangat kurang secara teknis: penokohan nggak oke, pembangunan dunia sembarangan, gaya bahasa kacau, dan sebagainya.

Yang parah, penulis ini buta terhadap masalah sesungguhnya. Mereka terfokus pada alasan "karya gue gak komersil" sehingga mereka lupa kalau msalah sebenarnya adalah memang skill mereka masih kurang. Akibatnya mereka mengembangkan semacam sense of entitlement yang kira-kira berbunyi, "karya gue bagus, jadi harusnya gue diakui." Sense of entitlement ini membuat si penulis ngambek kalau kita nunjuk kekurangan karyanya. Alih-alih mengakui, kita menolak memberi pengakuan yang--dalam pandangan dia--harusnya dia dapatkan. 

Nah. Penulis macam beginilah yang bikin nama indie/self publishing jadi jelek. Padahal ada karya-karya terbitan sendiri yang layak mendapat perhatian. Ada yang bahkan bisa menyejajari terbitan konvensional dalam satu atau dua aspek.

Saya menemukan beberapa buku seperti itu selama dua tahun belakangan, ketika saia wara-wiri di berbagai ajang kreator independen. Tiga di antaranya:

 
Jangan khawatir, semuanya PG-13.

Dari kiri ke kanan. Beast Taruna oleh Aditya N. W., Beautiful Red World oleh Annisa F. Yusuf, dan Everyday Adventures oleh Arief Rachman. Ketiga penulis ini tampaknya cukup bersedia menyambut ulasan. Satu diantaranya bahkan meminta secara pribadi agar saya memberi umpan balik terhadap karyanya.

Jadi kira-kira mana dulu nih, yang harus saya bahas?
 




Luz Balthasaar 
Memperpendek post, mempersering update!

10 komentar:

Mantoel Toeink mengatakan...

Vote buat Beast Taruna. :D

Hehe.

dantd95 mengatakan...

Beast Taruna aja, 2 lagi udah gue baca :v

Luz Balthasaar mengatakan...

Hum, okelah. Sudah sedikitnya ada 3 suara untuk Beast Taruna.

Saia tunggu pe minggu depan deh pemberian suaranya.

Pus-Neko mengatakan...

Hummm, Beautiful Red World? Ak lum baca semuanya sih, tapi yang ini judulnya paling menarik :v

Luz Balthasaar mengatakan...

Saya juga mau bahas itu sih. Soalnya pengarangnya minta feedback. Tapi saya rencana mau bahas semua, mana yg duluan aja.

Anonim mengatakan...

*ngacung* Tambahan suara buat Beautiful Red World~

Tom

Anonim mengatakan...

Saia pilih beautiful red world :D

Adrian

Luz Balthasaar mengatakan...

Berarti sambil reread Beast Taruna saia akan tulis repiu BRW.

Karena novelet ini ga ada entry GRI-nya, saia langsung jadiin repiu aja. Apakah tayang di Fikfanindo atau sini saia lum tau tapi.

Mizuki-Arjuneko mengatakan...

Yaah kok Beast Taruna yg menanng? Bahas Everyday Adventure dooong. Aku fansnya nih aaauuu

Luz Balthasaar mengatakan...

Saia bahas BRW akhir minggu ini dulu ya? Everyday Adventures saia simpan untuk terakhir. Saia mau baca Only Human juga soalnya, biar bahasannya menyeluruh. ^^