Selasa, 22 Juni 2010

Cabe Ngulek Manual ~ Memberi Kritik dan Komentar

Sudah lama sebetulnya aku tergoda untuk menulis catatan singkat tentang pedoman-pedomanku dalam memberi komentar suatu cerita. Bukannya pedoman sejenis belum pernah ditulis sih. Hanya saja, aku punya pedoman tersendiri yang kayaknya rada lain dari beberapa pedoman yang kutemukan di beberapa situs.

Titik paling pertama yang kupegang saat memberi komentar adalah kejujuran. Mengapa? Karena itu yang menentukan apakah komentar anda bernilai atau tidak. 

Apakah gunanya komentar yang tidak jujur bagi si penulis? Feel-good service, barangkali; tapi lebih daripada itu? Tidak ada. Kebohongan nggak membuat mereka berkembang, dan nggak membuat karya mereka lebih baik.
   
  
Jadi? Bohong ga ada gunanya kecuali anda memang berniat untuk membuat si penulis tidak berkembang.

Di lain pihak, kejujuran mungkin melukai. Apalagi kalau kejujuran soal poin-poin jelek dalam cerita. Dan luka barangkali akan membuat yang bersangkutan merasa nggak berbakat menulis, sakit hati, dan berhenti. Atau "balas dendam" sama yang ngomentarin. 

Mungkinkah? Selalu mungkin, tapi ini kemungkinan terekstrim. 

Orang yang memang mau dan niat menulis cerita nggak akan segitu lemah mematikan aspirasinya hanya karena satu luka. Atau, segitu kekanak-kanakannya sampai niat-niatin "balas dendam" sama yang ngomentarin, padahal kadang komentar itu yang minta dia sendiri. 

Mengapa? Karena dia mementingkan cerita yang baik dan peningkatan kemampuannya di atas harga diri. Kalau karyanya dikomentarin ga sedep, dia nggak menganggap itu sebagai serangan atas harga dirinya. Hanya indikator bahwa karyanya belum cukup baik.  
   
Sure, dia pasti kesel. Tapi dia akan bangkit lebih cepat daripada orang yang menaruh harga diri di karya.

Kalau berpikir terbalik, ini juga bisa jadi kiat untuk mengatasi luka setelah dikritik: jangan taruh harga diri di karya. Itu akan membuat kritik menjadi lebih tidak menyakitkan. Ingatlah bahwa dua hal itu terpisah. Pride is pride, work is work. Kalau karya dikritik, ya berarti yang masih kurang adalah karyanya. Bukan orangnya. Sekalipun karya tidak bisa berubah, orangnya bisa belajar untuk menjadi lebih baik, kan?

Jadi, nggak usah takut untuk berkata jujur, atau mendengar kata jujur. Sama kayak belajar naik sepeda. Kalau mau bisa ya harus siap luka. Dan jangan takut untuk terluka, because what doesn't kill you makes you stronger.

Sebaliknya, kejujuran nggak cuma berlaku pada poin-poin ga bagus. Untuk poin-poin bagus pun seharusnya kita jujur. Ungkapkanlah, apa yang membuat kita terkesan? Kendalanya paling kalau memang sama sekali nggak ada yang mengesankan. Tapi selama masih ada, kita selaku komentator punya kewajiban untuk mengatakannya. 

Hal kedua yang kupegang adalah, sedapatnya beri dasar mengapa kita menganggap suatu poin dalam satu karya sebagai bagus atau jelek. Atau, kalaupun tidak, kita bisa memberi alasan ketika ditanya. Aku belajar hal ini terutama dari Om Soto(y) di blog sebelah. Tiap kali aku bikin repiu, dan aku memberi komentar jelek tanpa mencantumkan alasan, Sang Om selalu mengingatkan. 

Nah, alasan ini terutama diperlukan kalau komentarnya jelek. Kalau komennya bagus, biasanya ga usah pake alasan juga ga ada yang ngeributin. Namun, memberi alasan untuk komentar bagus itu bisa meningkatkan integritas kita sebagai komentator. Kalau alasannya keliatan, pujian kita ga akan disangka cuma lip service atau ngasih mimpi-mimpi surga belaka.

Poin ketiga yang kuperhatikan adalah, berkomentarlah dengan yakin. Kalau anda punya pendapat dan mau mengatakannya, katakan dengan berani. Jangan  muter-muter dan ngawang-ngawang. "Ini gini deh (ngomen panjang lebar, kadang copas dari tante Wiki) tapi bisa nggak juga (komen panjang berikutnya,  more copas), dan ini masalahnya (komen panjang lagi). Tergantung sih, benernya, suka-suka kamu aja, tapi  tetep perhatikan saran saya ya!" Kalau ditanya sama orang, "Lha, trus gimana? Apa maksud tuh komen panjang?" meluncurlah jawaban filosofis nan sakti, "Tergantung kamu, karena semua kembali ke persepsi masing-masing."

Iya tergantung. Karena ini bener-bener jawaban yang (sengaja dibikin) tergantung.

Bagiku, ini kesannya gimana yah? Kerendahan hati dan toleransi perbedaannya terasa artifisial. Nggak yakin sama isi komentarnya sendiri, tapi tetep mau ngomong banyak. Solusinya, ya ngeles duluan dengan format baku nan sakti diatas.

Kalau dia benar-benar rendah hati dan mempertimbangkan perbedaan, dia nggak akan ngasih penjelasan panjang-panjang tapi akhirnya lepas tangan. Lebih bagus lagi, sekalian aja ga usah komen.

Bagaimana kalau orang ragu, tapi harus ngasih komen?

Ungkapkan keraguan itu dengan tulus. "Menurut saya begini, tapi saya nggak yakin. Plis ricek, atau CMIIW." Ini jauh lebih baik daripada ngomong panjang tapi akhirnya menihilkan pendapatnya sendiri.

Intinya?

Pertama, rendah hati dan toleransi itu tentu saja baik. Tapi please, jangan dibuat-buat, dan jangan dijadikan sarana ngeles. Dan kedua, kalau berani berkomentar, beranilah bertanggungjawab. Dare to speak diikuti dengan dare to face the questions. Hadapi konsekuensi komentar kita. Aku nggak suka pake frasa "jangan jadi banci" atau "nggak jantan lu" karena itu penghinaan terhadap saudara-saudari waria kita, jadi aku cukup bertanya, "manusia dewasa bukan sih?"

Hal keempat, komen pasti punya unsur subyektif, kalau nggak mau dibilang hampir pasti subyektif. Dulu aku pikir komen yang ideal adalah yang obyektif. Namun, aku sadar kalau itu sulit dicapai. Komentar selalu disusun berdasarkan persepsi seseorang. Akibatnya, subyektivitas selalu ada, bagaimanapun kita berusaha obyektif.

Bahkan orang yang mengklaim dirinya obyektif pun sebetulnya subyektif. Mengapa? Cermati paradoks ini: orang mengklaim dirinya obyektif berdasarkan pendapatnya sendiri, dan pendapatnya sendiri adalah suatu bentuk subyektivitas. Dengan kata lain, kata siapa dia obyektif? Kata dirinya sendiri.

Dia obyektif berdasarkan pandangan yang subyektif. 

Lalu apakah itu berarti kita ga boleh berkomentar? Boleh saja. Subyektivitas ga menjadikan suatu komen ga berguna. Aku pernah membahas ini di Cabe User Manual. Silakan dibaca dulu kalau mau.

Kita boleh subjektif dalam memberi komen. Tapi jujurlah di dalam subyektivitas itu. Katakan apa yang anda anggap bagus atau tidak bagus sesuai nilai-nilai maupun perasaan subyektif anda, dan berikan alasannya. Itu sudah cukup. Apa yang tidak tercakup atau luput dari pandangan subyektif anda, atau mungkin keliru, akan ditangkap oleh komentator lain yang memiliki subjektivitas berbeda. It's not your job to comment about everything. Kita manusia yang terbatas. Wajar kalau ada yang terlewatkan dalam komentar kita.

Terjemahan untuk orang yang memerlukan komen: cari beberapa orang komentator.

Dan yang terakhir, karena kita subyektif, ingat kalau pendapat kita bukan segala-galanya. Bukan kebenaran mutlak atau titah raja yang harus dipatuhi pengarang. Itu hanya pendapat. Kita ga berhak memaksa pengarang menerimanya. Jadi nggak perlu kita mengancam, "Kalau nggak diturutin saya ga akan beli buku kamu," atau semacamnya. Kalaupun kita ngasih pendapat jelek, bisa saja ada seratus orang di luar sana yang ngasih pendapat bagus. Si pengarang nggak akan rugi kehilangan satu komentator sinisotoy.

Jujur, beri dasar, bicara yang yakin, menyadari subyektivitas, dan pendapat kita bukan segalanya. Lima kunci yang lagi-lagi sederhana.

Mungkin lain kali aku bakalan bahas satu elemen lagi: gaya. Bagian yang ga esensial, tapi sangat menyenangkan.



Luz Balthasaar 

41 komentar:

Anonim mengatakan...

Satu elemen lagi yang menurutku sangat penting, cara memperbaikinya o___o Aku sering pusing sendiri dapat kritik, beralasan, berdasar, tepat, mengena di hati, tapi gak ada cara memperbaikinya. Garuk2 kepala sendiri deh= =a

Kalau menurutku sih unsur menjaga perasaan si penulis penting. Gak sampai hati menyerang perasaan penulisnya :P

Biasanya formatnya kurang lebih kyk gini:

1. Puji hal yang lumayan aku suka.

2. Kritik, kritik, kritik, kritiiiiiik sepuaaaaasnya(dan biasanya proposi antara kritik dan pujian beda jauh)

3. Akhirnya setelah puas mengkritik,(kalau ada) unsur yang menurutku bagus atau aku suka, baru deh aku singgung2 dan puji setulus2nya(dan serela-relanya).

Sebenarnya menurutku ide cerita ini menarik(pujian) tapi menurutku karena blablabla... (kritik)Oh ya aku suka bagian blablabla2~ Bagian yg itu bagus banget blablabla. Dicek lagi ya...

Biasanya sih gt, maksudnya cuma buat ngurangi kesan kritiknya menyudutkan penulis.

Dan jujur... Gak tahu teman2 yang lain merasakan hal yang sama, aku cenderung memberi komentar yang lebih tidak menyinggung perasaan kalau kebetulan penulisnya aku kenal= =a Subyektif banget :))

Btw artikelnya orisinil xD Nice article.

Feline Fel

Anonim mengatakan...

artikel bagus lagi nih
numpang save y kk buat belajar

o ya, kalo misalnya kita udah keburu berdebat ama orang yg kita kritik gimana cara nyelesaiinnya ato bikin dia ga ngambek?
saya rada kapok ngasih kritik gara2 kena marah orang yg saya kritik abis debat soalnya TT

stezsen

Mantoel Toeink mengatakan...

@Stetxzen: Satu orang jg skrg gak ngomong lg ke gw gr2 dulu gw terlalu nafsu ngasih kritiknya ke dia. :P :P Sejak saat itu, gw mengurangi cita rasa ofensif gw kalo ngasih kritik ato komen ttg suatu kesalahan ato kejelekan dlm sebuah tulisan. :P

Yaah, memang bener sih, biar gak terlihat nggak adil harus selalu ada komentar positif, gak cuma komentar negatif doang. Sayangnya, biasanya yg positif2 itu (dalam kasus gw) jadi gak keinget pas udah ngadepin byk hal yg negatif. :| :| Hal yg jelek emang lbh gampang ditemukan dan diumbar, tapi yg baik2 lbh sering lupa. (Dasar sifat jelek manusia ... orz)

Hehe.

Anonim mengatakan...

hehehe
iya, sih
padahal pertamanya saya muji2 dulu
tapi begitu ketemu yg aneh n ngritik mulai dah debat yg ujung2nya dia jadi marah itu
saya emang salah sih kayaknya terlalu kasar ngritiknya
apa ada cara membenahi situasi kaya gitu kalo udah terlanjur ya?
sungkan sama orangnya, padahal saya juga blom bisa bikin cerita sebagus dia

stezsen

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

hehehe... jujur.. aq gak pernah berani koment sadis.. terakhir kali aq koment (enggak) sadis, satu kampung ngelemparin aq make obor.. T.T
gak tau salahnya dimana...

Luz Balthasaar mengatakan...

Kayaknya pada bermasalah karena yang dikritik ngamuk setelah dikasih kritik.

Itu alamiah sekali. Orang mana si yang ga minimal gemes kalau diomongin jelek?

Kalau kita ngasi komen, umpan balik itu sudah konsekuensi. Apapun bentuknya. Ngamuk-ngamuk, pertanyaan, atau maki-maki. Kadang malah ga diajak omong seumur hidup.

Meski kita sudah muji, sudah ngomong halus, teteup aja ada resiko umpan baliknya parah. Kayak yang dibilang Juun, perhatian manusia memang cenderung tertarik ke yang negatif.

Jadi, kalau kita berani komen, paling bagus ya harus siap mental dimaki-maki sekasar apapun atau ga diajak ngomong seumur hidup.

Jalan kedua, proporsional. Jangan ngasi komen lebih pedes dari ambang batas kepedesan yang bisa kita tahan sendiri. Namun, ini nggak menjamin. Kalau kita nggak pernah ngebunuh, ga ada jaminan pasti kita ga bakalan mati dibunuh.

Jalan ketiga, ya jangan ngasih komen pedes sama sekali. Sajikanlah kejelekan itu dengan tidak pedes. Tapi sama dengan poin 2, ini juga ga menjamin--dan cenderung lebih kabur dibanding komen-komen yang nohok.

Tapi kalau memperhatikan polah orang yang dikomeni aku atau kenalan-kenalanku, biasanya yang mencak-mencak dan bereaksi emosional ga jelas itu biasanya dikit. Tapi itulah yang kita perhatikan. Kembali lagi ke kata Juun, manusia cenderung terpaku pada hal negatif.

Penyebab kedua, memang umur mentalnya belum sampe. Umur mental yah, bukan umur fisik.

Penyebab ketiga, ini kadang datangnya dari pribadi. Si pengomentar maupun terkomentar sama-sama ga bisa menahan diri untuk menjaga debat tetap berfokus pada topik.

Debat itu rentan jadi ajang maki-maki kalau piha-pihak sama-sama ga jaga fokus. Kadang-kadang yang bikin sakit hati adalah maki-maki ini. Bukan topik debatnya sendiri.

Nah, kalau udah terlanjur? Kalau dulu debatnya nggak sampai maki-maki yang parah, aku sih biasanya biarin aja. Kasi waktu untuk mengendapkan. Nanti dia juga ngelihat sendiri poin-poin komentarku, mana yang bener, mana yang nggak.

Aku pribadi nggak masalah kalau orang nggak mau ngomong ke aku/ngambek karena dikritik. Konsekuensi jadi orang sinisotoy ya gitu. Mau diapain lagi? Just give them time. Biasanya mereka akan mengerti sendiri apa yang kumaksud.

Kalau dulu sakit hatinya karena maki-maki, ini yang susah. Ya sama-sama minta maaflah. Paling yang susah ya gengsi individu. Jadi uruslah itu.

Kalau sungkan, saranku adalah jangan kasih komentar sama sekali. Kalau dia bersikeras meski kita nggak mau karena kamu merasa dia lebih pintar, itu mungkin indikator dia cuma pengen dipuji-puji.

Sampai disini, terserah kita. Mau kasi feel-good service, atau tidak? Kalau kamu pengen bikin dia senang (tapi sesat,) ya kasi angin surga. Kalau mau baik (tapi diamukin,) ya kasi kentut neraka. Kalau kamu malas, ya ga usa kasi apa-apa.

Anonim mengatakan...

uhuk uhuk pilihan yg sulit

sebetulnya pilihan kedua lebih jujur, klo pilihan ketiga g ngerti gimana cara memperhalus bahasanya
tapi standard kritik pedes yg bisa saya tolerir terlalu parah, jadi kadang suka lupa diri klo ngritik orang

pilih diam aja deh (males mode: on)

thanks tips2nya bakal coba dipraktekin nih

stezsen

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

hehehehe... sip 100% buat mba luz.... saya sngt setuju.... ^^
anaknya masih SD kok... *O.O*
sekarang udh smp sih.... hehehehehe....
tapi kayaknya sekarang udh direfisi deh ceritny.. bentar lagi mw dia uplod.. dy minta (baca : maksa) aq buat koment pedes lagi... = =a
kalo dy ngambek.. kuturutin saran mba luz diatas.. b^^d

pembacadongeng mengatakan...

kalo gw milih tempatnya ^_^

jujur itu harus.
1. kalo emang ajang belajar. Masing-masing si penulis tahu kalau majang hasil tulisannya bakalan dapat komentar. Bahasa komentar gw biasanya langsung tuju point. Ha.ha...ternyata kalau nggak survey dulu, hal ini ternyata bisa juga salah. Gw pertama kali di K.com begitu. Kerna mikirnya yang gabung bener-bener pengen belajar, pas ngasih masukan editan EYD, huruf kapital dan angka, ternyata si penulis bilang hanya pengen nulis seperti apa yang dia inginkan. oh, ya sud. heuheu...

2. kalo orangnya minta komentar secara pribadi, gw juga langsung tuju point.

3. Buku yang gw baca, biasanya langsung dikomentari se-enak jidat dan ditempel di belakang buku -kalo bukunya punya sendiri-

untuk semua itu, gw diingatkan bahwa kalo bahasa lisan itu bisa nyelekit, bahasa tulisan bisa nyelekit dan abadi. Karena tidak hanya didengar dan dirasa tapi juga diliat. Bahkan makanan yang paling diharap dan sangat-sangat enak kalau ngasihnya pake dilempar deket kotoran, pengemis yang paling lapar bakal jaga gengsi dulu sebelum ngambilnya. Atau mungkin dia bakal mengutuk sebelum mengambilnya.

Gak ngerti dengan yang dimaksud Luz nggak jantan.

Setiap gw ngasih komentar untuk tulisan yang belum di publish, kalau ada yang nggak sreg gw termasuk nyang bakal ngasih alternatif a, b dan c tapi selalu gw bilang ke si penulis terserah dia mo bikin seperti apa. Dan kalau milih nggak merubah itu haknya dia, tapi gw nggak bakalan suka. Itu saja. dan selalu gw mengajukan untuk cari pendapat lain.

eh ya, beberapa waktu yang lalu gw diminta untuk ngomentari tulisan seseorang yang gw nggak kenal, nggak pernah ketemu dan nggak pernah bertegur sapa. Dia kenalannya teman gw. Pas gw baca, ternyata tulisannya mentah sekali. Kerna nggak mau cari masalah, gw minta kenalan gw yang juga kenal dengan seseorang di forum penulisan untuk mengontak orang itu saja. heuheu...

uhm...kadang gw dapat komentar yang keren abis. Nunjukkin beberapa yang salah dengan susunan kata dan panjang-pendek kalimatnya dan kadang abstarknya plot yang kupunya. Pas ditanya bagian mananya, si komentator menjawab "baca lagi kamu pasti tau yang mananya" heuheu. mau gimana lagi, gw kudu puas dengan cukup itu cukup menurut si komentator. Kadang gw pikir mungkin si komentator merasa terbebani dengan pertanyaan yang beranak pinak.

elbintang

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mbak El, Bukan ga jantan. Ga dewasa.

Soalnya sejak nulis buat VGI dulu, aku kadang nemu orang yang ngasih komen, tapi komennya muter-muter, panjang lebar. Seakan-akan dia bukannya mau ngomenin cerita, tapi mau pamer kalau "ini loh gue tahu soal masalah ini."

Kalo kaya gini, tipikal senjata terakhir yang bersangkutan adalah, "Ya, sebenernya pendapat saya nggak penting sih. Suka-suka kamu sajalah," atau, "pada akhirnya semua kembali ke persepsi masing-masing."

DONG!

Lha, kalau tahu pendapat dia ga penting, kalau akhirnya nyebut semuanya relatif, buat apa dia ngomong? Nihil.

Soal nyelekit atau tidak, kalau aku sih komen selalu nanya, "Serius mau aku kasi komen?" Kalau didahului pertanyaan kayak gini, biasanya mereka sudah siap. Atau kalau memang beneran susah untuk dicari bagusnya, paling aku cuma ngasih komen singkat, ga spesifik, nunjukin apa yang paling menggangguku. Itu aja.

Atau, kalau dulu pas masi aktif di Pulpen, paling aku bilang dulu kalau mau bikin repiu, "Kalau nggak mau aku komen, bilang. Nanti repiu ga aku terusin."

Kalau dibilang bahasa tulisan bisa nyelekit dan abadi, kayaknya nggak. Aku sudah nggak dendam sama sekali dengan Editor Surat yang dulu maki-maki karyaku dengan sadisnya.

Kita bisa berusaha untuk tidak melukai, tetapi itu tidak menjamin kita tidak akan pernah melukai atau dilukai. Dan jika kita jarang terlatih menerima luka, semakin lama luka gores pun akan terasa seperti tembakan senapan.

Maka, aku merasa bahwa dalam kasus belajar menulis, ada baiknya kita cenderung membiasakan diri untuk belajar menerima dan menyembuhkan diri dari luka. Sedikitnya untuk saat ini.

Satu kasus dimana mengobati lebih baik daripada mencegah, kurasa.

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Kalo aku, format komennya mirip Feline Fel. Puji dulu bagian yang bagus, baru kasih tahu mana yang kurang. Kerennya sih, dibawa terbang dulu baru dibanting ke bumi hehehe...

Aku juga biasanya pake bahasa yang diperhalus, jadi nggak to the point banget, tapi juga ga muter-muter ga jelas mau ke mana. Dan biasanya aku juga ngasih solusi dari kritik yang kukasih.

Buat karya yang masih "mentah" banget alias masih banyak banget kekurangannya, biasanya aku lebih milih untuk ga komen, atau komen satu atau dua poin kekurangan yang nggak terlalu parah, dengan harapan penulisnya ga down atau marah-marah.

Tapi buat penulis yang aku udah tahu pasti dia tahan banting ama komen, atau udah dari awal untuk minta komen sejujur-jujurnya, sesadis apa pun itu, baru aku berani komen secara blak-blakan.

Bener kata Luz, sehalus apa pun bahasa komen kita, tetap ada kemungkinan yang menerimanya bisa sakit hati atau marah-marah. Kan kita ga tahu seberapa sensitifnya perasaan atau logika dia.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Rie dan Feline,

Kiat itu pada dasarnya bener. Kalau kita komen jelek, hendaknya kasi komen bagus juga. Tapi apa ga rada2 kejem tuh, dinaikin keatas dulu baru dijatuhin ke bumi, wekeke. Makin tinggi naiknya jatuhnya makin sakit kan.

Klo aku justru diajarin sebaliknya. Kasi jelek-jeleknya dulu, lalu puji. Karena pujiannya belakangan, aku berharap dia lebih melihat pujiannya. Dan repiu jadinya berakhir 'enak'.

Biasanya aku pake ini kalau ngerepiu pengarang muda, atau yang aku tahu rada sensi, atau orang yang biasanya dipuji. Memang kemungkinan repiu itu berakhir enak jadi besar, tp tetep ga jaminan juga.

Anonim mengatakan...

hoo berarti saya selama ini juga kebalik
pujian dulu baru kritiknya

tapi betul juga ya, para kritikus jarang mau kasih komen pedes buat penulis2 baru
pantesan saya susah dapet komen pedes TT

kapan2 mau ah direpiu ama mbak luz hehehe
suka yg pedas2 saya

stezsen

Mantoel Toeink mengatakan...

Wahaaa, gw jg urutan review yg udah menyeluruh dikasih yg bagus2 dulu baru yg negatif. :D :D

Dan rasanya gw blm pernah ngasih ketinggian di yg bagus2 dan ngebantingnya makin keras. :-? Gw soalnya mengusahakan setiap review gw berbahasa "netral" ato at least "gak kepedesan sampe kalo gw sendiri yg nerima gw akan gak tahan". Pake hukum karma ttg kalo gak mau dipukul ya jangan mukul (terlepas dari suatu saat mgkn aja dipukul :P).

Hehe.

pembacadongeng mengatakan...

BUG! iya Luz, maap-maaph tidak dibaca dengan seksama. Tidak dewasa bukan tidak jantan ^_^

tentang nihilisme yang dicontohkan itu keknya pengaruh kultur daerah deh Luz. Gue juga pernah nemu yang kek gitu, tapi dah maklum.


Panduan komentar untuk menyanjung sebelum mengkritik itu -kalau gue- lebih suka menyebutnya, cari hal-hal yang positif yang dimiliki si penulis sebelum menunjukkan hal-hal yang kudu dibenahi.

-----------------------------------------
Yay, rata-rata penyuka blog ini pada suka disakiti ^_^
-----------------------------------------

note : Luz, blog ini nggak bisa dikomentarin lewat hp? atau akses hp gue yang terbatas :p Ada yang bisa reply komentar di sini lewat hp?

Anonim mengatakan...

Sebegitu sedikitnyakah karya dan calon karya fantasi indonesia yang mampu bikin pintu neraka ga bisa dibuka ?

Luck

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mbak El, ga kepikiran klo ini susah diakses dari HP. Klo ada yang pengalaman soal ini, mohon bantuannya.
___

@Luck, sayangnya, sampai sekarang kasusnya memang begitu. Sebagian besar karya atau draft Fiksi Fantasi yang kubaca masih belum bisa dibilang bagus.

Tapi itu kan sebagian. Ada beberapa judul yang tarafnya udah lumayan menjurus bagus. Moga-moga saja bertambah.

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@mba luz : kalo mw baca draft2 cerita itu dimana?? bisa dicari di internet??? O.Oa

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Luz, kritik dulu baru dipuji ya? Hmmmm, boleh juga tuh format komennya. Nanti aku coba praktekin deh.

@Vina, bisa mampir ke Bengkel Pulpen di Forum Lautan Indonesia di http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?board=177.0 atau Forum Area 52 di http://area52.go-forum.net/. Atau bisa juga klik salah satu dari daftar blog yang ada di sebelah kanan atas blog ini, di sana banyak temen-temen kita yang posting ceritanya di blog masing-masing.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Vina, tambahan mungkin ke kemudian.com. Cuma aku ga pernah gabung kesana dan belum kepengen. Cuma suka intip-intip aja.
__

Tambahan iseng: kalau pusing mau kritik dulu atau pujian dulu, Ikutin saran Feline di post pertama aja kli ya. pujian, kritik, lalu pujian lagi.

www.telatmudeng.com XD

Anonim mengatakan...

Saya sama kayak Feline. Saya nyebutnya komen a la sandwich: ada pedas di antara dua manis :-P

Di bagian pedas, sebisa mungkin saya ngasih solusi. Saya coba kutip ulang bagian mana yang kurang, terus saya tulis ulang menurut pendapat saya. Kalo saya ga bisa ngasih solusi, saya diem aja daripada ngomel ga jelas. Atau saya cari sisi bagusnya, walau dikit, dan saya puji2 dikit juga :D Yah, ga jadi sandwich lagi sih :))

Beda dengan feline, kalo sama orang yang bener2 saya kenal, saya ngomong jujur apa adanya, walau yah saya selalu berusaha ngasih alasan dan solusi. Dan kritiknya ke karya, bukan individu.

Ngomong2 soal kritik, saya kadang suka nemu kritik yang ngritik individu atau ngomel ga jelas. Kalo gitu pastilah yang nulis marah. Udah ga jelas apa yang jelek, menghina, sok hebat, ga ngasih solusi pula. Pas dilihat karyanya, bah! Ga lebih baik daripada yang dikritik. Saya pernah bahkan "dikritik" kalo bahasa Inggris saya masih melayu, padahal yang bilang ga bisa nulis satu kalimat dalam bahasa Inggris dengan bener :D Dah gitu sok nulis pake gaya early modern English gimanaaa gitu =))


Adrian.

Januar ARAI mengatakan...

thenks b4 mbak(bener khan ?? hehehehe) karena sudah memajang link blog saya

btw....bakal lucu kasusnya kalo yang dikritik ga ngerti maksud dari pengkritik gara gara bahasanya yang high clas dan mumet njelimet ,hehehehe ,saya sering tuh ngalami yang kayak gitu

Elthewynn mengatakan...

pembacadongeng wrote :
note : Luz, blog ini nggak bisa dikomentarin lewat hp? atau akses hp gue yang terbatas :p Ada yang bisa reply komentar di sini lewat hp?

Ah, iya. Ane juga susah ngakses ni blog lewat hape. Komen bisa sih, tapi lemoooooot banget T.T

(Main serobot aja ya disini, hahaha. Maaf, maaf)

Luz Balthasaar mengatakan...

@El dan Mbak El,

Kalau di Fikfanindo ga ada masalah ya? Kalu nggak, Nanti aku ganti model komen kaya gitu deh.
__

@Adrian, Januar (Ganti lagi namanya, hehehe,)

Memang komen-komen kayak gitu rasanya gimana ya? Kayaknya artifisial, dibuat-buat, dan kesannya ga tulus.

Dia kayak bukan mau kasih komentar, tapi mau ngomong panjang lebar (kadang dengan bahasa sok high-class, dan copas begitu banyak paragraf dari wiki,) untuk menunjukkan betapa pintar dirinya.

Please. Kalau cuma copas wiki, semua orang juga bisa.

Orang kayak gini bukannya memikirkan bagaimana menyampaikan perasaan dan pendapatnya pada cerita, apalagi bagaimana menunjukkan kekurangan supaya bisa diperbaiki, supaya yang dikritik bisa maju.

Dia cuma memikirkan bagaimana menampilkan diri supaya kelihatan pintar dan wah, dan biar dipuji. "Waduh, pintar ya kamu, cerdas ya kamu." Dan kalau perlu, sekalian mengintimidasi orang yang dikomentari.

These guys are jerks, really. Dan biasanya merekalah yang paling doyan memakai frasa-frasa seakan mereka rendah hati dan toleran. Muna deh.

Kalau seseorang tulus ngasi komen, seharusnya dia nggak mencoba mengintimidasi atau sok menampilkan dirinya pintar. Ngomong aja apa yang ada di kepala.

Ga usahlah bicara pake bahasa tinggi dan copas kiri kanan. Lebih baik kalau dia komen pake bahasa yang aksesibel dan penalaran sederhana yang bisa diterima. Kalau harus mereferensi, copaslah, tapi sebutkan sumbernya dan sebisanya ga usah panjang-panjang. Dan jangan jadikan copas itu 'seolah-olah' omongan kita sendiri.

I'm quite hal-hal yang kusebut diatas adalah hal yang membuat banyak orang ngefans sama blog Om Sotoy, bahkan sampai minta dibantai secara pribadi di Fikfanindo. XD

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@dewi : iya.. beberapa sudah sukses aq kunjungi.. tpi khusus lautan indonesia.. agak susah sedikit.. kadang gak masuk ke servernya gak tau kenapa.. :'(

@mba luz : kemudian.com ya... akan saya buka2 dulu ceritanya.. hehe..

untuk kasus koment... sebenarnya aku make konsep selang seling.. awalnya gak nentu.. kadang muji duluan.. kadang langsung cas-cos koment.. tapi yg bikin selang seling tu.. abis koment 1 meter, mujinya ikut 1 meter... terus ke koment lagi 1 meter.. tmbah lagi mujinya 1 meter... terakhir q minta maaf sama si pengarang sekitar 10 meter.. hehehe.. ^^a

Luz Balthasaar mengatakan...

@Vina, sandwich berapa lapis tuh O_O

Gila, ngomongin sandwich bikin aku pengen nonton Yakitate Japan lagi.

"OKONOMIYAKI SANDO!"

BRB Ngakak.

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@mba luz : tergantung order yang dipesen si penulis... *lha? O.O*
heheheheh...

yakitake japan?? yang bikin roti ntu ya??

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Vina, wah forum Lautan Indonesia "tenggelam" lagi ya? Emang forum itu kadang-kadang susah dibuka, kadang-kadang lancar jaya. Coba aja terus masuk ke sana.

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@dewi : owh.. begitu toh..?? O.O
syukurlah.. aku kira modemku yang rusak.. hehe ^^a
oke.. akan aku coba desak terus.. hehe..

Luz Balthasaar mengatakan...

@Vina, iyah. yang bikin roti itu. Aku fans berat Yakitate dan reaction-reactionnya yang lebay itu.

Buka Lautan sangat disarankan. Banyak cerita bagus di sana yang bisa dipakai belajar.

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@mba luz : kalo sama cooking master boy lebayan mana reactionny?? hehe..
kalo yakitake tentang roti, cooking master boy segala masakan *kebanyakan cina sih*.. tpi reaction jurinya kdg lebay juga.. O.O

oke.. saya akan trus berusaha masuk ke lautan.. :)
*lha.. nyemplung dong??* O.O
haha..

Luz Balthasaar mengatakan...

Hmm... lebai mana ya?

Etsushi Ogawa kalau bikin 'muka rusak' pas reaction juga lucu sih. Dan yang pas kontes di kota ayam itu, bisa aja jurinya pada kompakan pake hairstyle keayam-ayaman.

Yang paling kocak yang mana yah...

"Fuuuuenak"-nya Xi Er, sama "Nggak Mutu"-nya Li Wen. Wkwkwkwkw.

Para translator Elex yang ngerjain komik itu nerjemahinnya asik. *Tepuk tangan*

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@mba luz : yahh... aku belom nyampe ayam-ayaman.. kalo komik baru baca ampe buku yang ketiga, di onemanga lagi.. jadi gak 100% bisa terjemahin ngepas.. hehe.. tapi ngerti kok kalo soal alurnya.. ^^

kalo anime lebih parah lagi, aku baru nonton eps 1-3.. hehe.. tapi kalo soal lebayan.. kayaknya menang yakitake deh.. ekspresinya bisa aneh2 gitu.. haha.. top markotop deh.. :D

nanti kalo ke toko buku nyari komik yg bahasa indonesia deh.. biar lebh ngerti.. :D

Ivon mengatakan...

hmmmm...dari dulu ak pengen minta pendapat soal cara kritik-mengkritik begini...
*warning, komen ini sedikit berbumbu curhat, hehehe*

kalau ak memberi kritik...seringkali ak merasa bahasa ak kelewat halus...mau kasih yang kejam, tulisan otomatis ak hapus, gara2 ak bacanya sendiri udah ngerasa, "wah, sadis tenan ki komentarnya..."

tpi daripada karena ak kawatir si penulisnya bakalan down berat, ak lebih ngerasa 'takut' kalau nanti bakalan 'dimusuhin' penulisnya :/ apalagi klo penulisnya udah kenal n sering ngobrol di forum atau private message, jdi tambah enggak enak mau komen kejam...

apakah ini sifat yang harus ak ubah? kadang2 ak merasa...karena ak terlalu menghaluskannya, jadi apa yang sebenarnya ingin aku katakan, malah tidak pernah benar-benar tersampaikan... >_>

jujur, dari lahir ak termasuk golongan makhluk sensitif.. kekny perlu latihan keras dan waktu yang lama, sampai ak sendiri bisa mencerna kritik-kririk super cabe dari orang-orang... hfff, sifat ini udah bagian dri diri ak sih, jdi kekny sulit mau menghilangkan sifat 'jelek' yang satu ini >_>

hmm...
tpi ada satu pengecualian sih, yaitu cover buku XD
klo kmu baca di tred FFDN goodreads pas Superleader kemarin dipajang Mas Pur, pasti kmu lihat juga komen2 sadis ak sepanjang beberapa message, XD

tpi ngeliat kembali kejadian it...ak jdi ngerasa seperti seorang...polisi, yang berjalan gagah sambil membusung dada, hanya karena dirinya berhasil menangkap seorang pencuri mangga... >.>

hahaha, yeah, maaf sudah mengganggu malam2 dengan curhat tak jelas begini XD
oke, daripada nanti malah ngelantur ke mana-mana, ak pamit dulu n ngucapin met malam, dan juga ucapan sukses buat kisah Euravia kmu ^^ semoga nanti bisa ketemu penerbit yang cocok dan bukunya mulus menuju jalur penerbitan! XD

...
ps: cerpen Fantasy Fiesta ak tahun kemarin it, waktu it ak minta supaya enggak dicabein terlalu pedas kn?
em...klo Luz enggak keberatan, boleh ak minta komentar yg...erm, 'standar'-nya? kurasa, kali ini aku sudah siap untuk menerimanya :)
tapi it klo Luz enggak sibuk loh, kapan-kapan-kapanan lagi boleh kok :) (wew, kapanan yg kaya gitu it kapan bakal terjadinya? XD)
thx, & cheerio! ^^

Luz Balthasaar mengatakan...

Gampang aja sih Von. Kalau kamu nggak merasa pengen berkomentar pedes, dan gak merasa suka/siap dengan akibatnya, ya jangan.

Komentar yang bener bukan yang pedes, tapi yang jujur, seberapapun kejujuran yang bisa kamu beri, dan dengan cara apapun kejujuran itu bida disampaikan.

Aku sendiri kalau ketemu buku jelek dan kukasih komentar jelek nggak membuat aku merasa jadi polisi nangkep pencuri. Biasa aja sih.

Soalnya aku jujur sama diriku sendiri. Aku tahu persis alasanku ngasih komen jelek, dan aku mengatakan alasan itu dalam kadar yang kukira-kira bisalah diterima.

Dan kalau banyak orang sepaham sama pendapatku, itu adalah indikasi kalau komentarku mengandung kebernaran.

I didn't take pride in seeing the mistakes of others. I took pride in the fact that I can be honest to myself and to others...

Dan mengenai Euravia... hihihi, benernya itu udah selesai. ^^

Makanya sekarang aku lagi ekspress mode ngerjain yang baru ^^

Ivon mengatakan...

hai2 :)

sori baru bisa balas... soalny gw sempet bingung mau balasny mau bilang apa.. (dan beberapa hari ini ada sedikit tra-la-la di goodreads, hahahah, tpi itu kisah untuk lain hari aj kli yah, wkwkwk)

hmm, kmu benar... kalau orangny sendiri udah ngerasa enggak enak, untuk apa diy memaksa meletakkan diriny ke posisi yang membuat dirinya sendiri tidak nyaman gitu :)

either way, I couldn't agree more with you ^^b jadi makasih banyak untuk jawaban2ny yah XD

wew, Euravia sudah selesai? :D jdi udah kirim ke penerbit ya? klo dah terbit, mungkin kmu mo sekalian tulis background proses penulisan Euravia it di blog ini? mungkin bisa menarik orang2 untuk membacanya dan akhirny merasa terinspirasi... XD

aniwai, sekali lagi, thanks ya ;) best of luck untuk proyek berikutnya juga!
(sekuel Euravia? wah, kuharap tidak, wkwkwk)

Ivon mengatakan...

....meh
ak bru baca komen terakhir ak di atas itu...dan ak baru sadar, makna tulisanny ambigu --;
maaf y...klo jdiny malah terkesan offensive, it maksud ak bercanda sih....entah kenapa tulisannya jdi bernada...egh, sprti itu... *facepalm+headdesk*
maaf... --;

Luz Balthasaar mengatakan...

Mmhh, nggak ofensif kok. sama sekali nggak ^^

Memang aku ga ada rencana bikin sekuel kok. itu one shot doang. I am still afraid of sequels... >_<

Pas lagi edit Euravia, dapat ide bikin novel lain dari ide-ide yang ga ketampung di sana. Pertama nyoba ngedraft, tapi jadi keterusan sampe sekarang. Jadi editan Euravia agak ketunda, dan belum kukirim.

Aku dah ngerjain ide ini dari Januari. Kuharap Juni atau juli draft kasar udah kelar, dan Agustus akhir bisa di-beta read. Moga-moga bisa cepat bereslah... ^^

Soal share penulisan, pastilah kulakukan. Tapi nanti aja, kalau aku dah dapat penerbit dan dah pasti terbit...^^

Tadi capek, baca komenmu bikin aku semangat lagi ^^ Thanks ya!

Ivon mengatakan...

hahah, senang bisa meringankan pikiran anda dengan 'keajaiban' saya, XD

hmm, tpi kurasa penerbitny pasti mau kok :) pilih saja mana yang setidakny enggak bakalan 'curang' dan terpercaya :)

kalau masih ragu, kita lihat saja si Superduperleader dengan Zod2, setebel2 itu masih bisa terbit tanpa cacat, dan akhirnya tersebar ke seluruh Indonesia untuk menjadi 'bahan pembelajaran yang amat baik' untuk para penulis-penulis fantasi newbie, >D.
(kecuali, kalau ternyata mmg cuman terbit di Jakarta doang XD).

hmm, mgkn kalau khawatir Euravia ketebalan (dan membuat si penerbit berwajah: O_o), bisa coba diterbitkan sebagai dwilogi aja?

heheh, allrite, sekarang waktuny ak kembali menyelesaikan cerpen sendiri... semoga selesai tepat waktu --;

Anggra T mengatakan...

*jalanjalandiblognyaLuz*

Aku sering memberi nilai kasihan saat menilai suatu karya. Walaupun bertolak belakang dengan isi komentarku. =="
Seperti misalkan nilai 2 bintang jadi kutambahin 3 bintang dengan alasan ide unik... walaupun sebenarnya ga unik2 banget sih. XD

Tapi hmm... mungkin aku perlu memikirkan lagi caraku ini ya? Lebih baik kasih nilai sadis sekalian, sesuai dengan isi ocehanku, dengan harapan karya selanjutnya berkembang. :p

Anw, aku pernah nemu orang yang minta dikritik bab novelnya, giliran kukritik (kritik dengan santun tapi memang agak bawel sih XD) yang bersangkutan malah memberi tanggapan negatif di kritikku yang terakhir. Tentu saja aku langsung jadi malas melanjutkan koreksi novelnya.

Tetapi sekarang setelah kupikir2 dan kubaca2 lagi kritik2ku. Aku sadar, aku memang terlalu bawel XD
Isinya cabe melulu. Maka kurasa, dalam mengkritik, perlu juga kita menyertakan permen (yang jujur tentu saja) sebagai penyeimbang. Di satu sisi si penulis "dijatuhkan" dengan kritik, tapi "diangkat" dengan permen di sisi lain.

(demikian ocehan sotoy ga jelasku XD)

Luz Balthasaar mengatakan...

@Ivon: Euravia ga terlalu tebel sih. Paling 140k kata. Itu lom aku edit2.

Kalau yang kedua ini kayaknya cuma sekitar 100k kata.

Aku juga dah survei penerbit ke kiri-kanan, nanya-nanya siapa yang kira-kira bisa nerbitin novel kayak yang kutulis.

Kamu benar. Untuk terbit nggak lagi segitu susahnya kok. Bahkan Gramedia, lewat Elex Media Komputindo, udah mulai mau nerbitin fiksi fantasi.

All you have to do is... ada naskah yang cukup baik.

***

@Anggra: Kalau mau kejam juga gpp. Asal siap aja sama konsekuensi berkejam-kejam ria, yaitu 'dijauhi' sama si terkritik.

Itu makanya aku selalu nanya kalo disuru ngasi kritik. Beneran nih, sepedas-pedasnya? Ini bukan pertanyaan main-main. Sayangnya kadang ada orang kira aku main-main. Begitu kritik keluar... reaksinya ya gitu.

Kalau aku berhadapan sama Mr/Ms terkritik yang kayak gini, dan dia mau musuhin aku, ya sudah. Itu sepenuhnya hak yang bersangkutan.

Di lain pihak, kalau kita ga siap dimusuhi, diukur-ukurlah komentar yang kita kasih itu. Ini bukan berarti kita harus ngebokis. Yang biasanya kulakukan adalah hanya mengomentari sebagian. Kalau satu unsur terlalu berpotensi bikin sakit hati, aku drop dari komentar.

Atau, waktu berkomentar, gunakan pilihan kata yang mengurangi resiko sakit hati.

Berbaik hati juga ga menjamin lo, secara ada orang yang sensinya luarbiasa kayak testpack. >_<

Satu lagi kebijakanku adalah, aku nggak akan ngasih permen untuk ngangkat atau untuk ngasihani. Kalau aku kasi permen, itu murni karena aku suka.