Selasa, 18 Mei 2010

Deep Dive ~ Another Side, Another Story

Mengingat keadaan Pulau Penulis yang semakin gonjang-ganjing, aku pikir ada baiknya untuk menarik karya-karyaku yang pernah kutaruh disana. Salah satunya adalah cerpen yang kutulis untuk memenuhi tantangan Satu Tema Beda Rasa di Pulau Penulis. Yang udah lama di sana mungkin tahu itu cerpen yang mana sih. Tapi bagi yang belum, aku pengen menyampaikan bahwa cerpen ini terkait dengan tema minggu lalu, yaitu urusan yang berada di dalam jurisdiksi Dewi Meeyabee.

Yup, kelihatan jelas kan nih post larinya kemana. Untunglah Pak Ka Ha masih berada di UGD, di bawah penanganan Spesialis Rekonstruksi Tubuh terbaik di Indon Eesa.

Oleh karena itu, bagi yang merasa belum cukup umur, kurang nyaman dengan sedikit bip-bip dan tut-tut, anggota MOVIE dan / atau organisasi-organisasi serupa,  atau sedang diawasi oleh bos / guru / nyokap, tolong jangan mengklik tautan manapun yang akan melanjutkan post ini. Seriously. And don't say I didn't warn you.
   
Tapi, kalau memang penasaran, silakan dibaca. Resiko ditanggung sendiri.
   
   

Cerita ini ku-post juga dengan dua tujuan lain. Pertama karena seorang teman bicara soal sudut pandang kedua, dan aku ingat aku pernah membuat cerita yang barangkali bisa dibilang sudut pandang orang kedua, tapi bisa juga nggak. Aku ingin tahu pendapat mereka yang mampir kesini. Apakah cerpen ini bisa jadi sudut pandang orang kedua, atau nggak?

Dan yang kedua, aku kemarin mencatat bahwa masalah-masalah dalam jurisdiksi Dewi Meeyabee biasanya bermasalah di eksekusi. Barangkali ada pendapat bagaimana eksekusiku di cerita ini, selain dari pendapat yang sudah dicantumkan di Pulau Penulis? Silakan diutarakan. 


***

Mia Vendetta

Apakah gunanya anak, Sancte Pater? Kau pasti tahu karena kau punya begitu banyak. Tapi bukankah kau paling menyukai dua, sepasang tercantik diantara semua? Satu laki-laki, dipanggil seperti putra teragung Roma. Satu perempuan, dinamai bak istri yang bunuh diri karena dikotori. Itu mengungkap banyak tentang hal-hal yang membuatmu bernafsu.

Aku sudah bertemu kedua anakmu, yang sungguh seelok kata orang-orang. Rambut coklat-emas, gelap bergelombang, kilau oloroso. Gairah Andalusia dalam langkah mereka. Dan aku cemburu sungguh. Mengapa aku tak punya anak-anak seperti itu, supaya tatapan mereka membuatku ingat bahwa di bawah kapel ada ruang kecil di mana dosa bukan dosa, bahwa ketika pembantu-pembantumu berkhotbah dan berdoa, kita berzinah?

Mungkin dua anak itu dilahirkan bukan oleh perempuan kesayanganmu, tapi oleh Pelacur Babilon. Begitu muda, tak sadar betapa memikatnya mata-mata coklat yang kau wariskan. Berapa banyak laki-laki terhormat sudah meniduri anak perempuanmu dalam benak mereka? Berapa banyak perempuan membayangkan anak laki-lakimu sambil menjual tubuh pada raja-raja? Kau pasti tahu. Kau akan memilih yang paling berkuasa di antara orang-orang itu, lalu menjalin jerat dari nafsu mereka sendiri, samar dalam ikatan perjodohan.

Kau juga menjeratku. Walau aku dulu bukan apa-apa. Aku jadi ingin percaya bahwa sebenarnya akulah yang kau cintai, bukan perempuan yang melahirkan anak-anak itu. Namun, perpisahan kita hampa; tidak ada selamat tinggal apalagi anak.

Sekarang kita bertemu lagi di meja ini, berteman dua gelas kosong. Aku menjalankan tugas sebagai pembawa pesan suamiku. Ia ingin kekuasaan—sesuatu yang harus dibeli dari kau, Wakil Tuhan di dunia.

Dan Wakil Tuhan bebas menentukan bayaran yang ia ingini.

Ah, tak usah kau teruskan; aku sudah tahu. Aku belajar dari anak perempuanmu, ketika kami bertemu di salah satu ruang di puri suamiku. Masih kalah megah dengan rumah Tuhan tempat kau berdiam. Padahal aku berusaha keras menjadikannya berseni dengan perabot berukir dan lukisan dinding, dan tirai-tirai merah untuk menutupi rahasia.

Tahukah kau, Bibi, guna diriku bagi Ayah? Begitu ia berkata, sambil mematut gaun sutranya, dan menunjukkan cincin berlian di jarinya. Hanya untuk dilacurkan seharga kekuasaan.

Aku tersedak. Ia baru empat belas. Di wajahnya tak kudapati malu atau ragu; hanya angkuh dan kejam, wajah yang kau kenakan saat mendorongku ke tempat tidur. Tanganku bergetar, setitik teh dari cangkirku tumpah.

Jangan berkata begitu. Kau hanya belum belajar mencintai suamimu.

Ia tertawa. Melecehkanku. Seperti kau tertawa melecehkanku. Ia melepas cincin itu, mencampakkan, dan menginjaknya.

Belajar? Lucu. Itu juga yang diingini Ayah.

Tahukah kau, saat itu aku lupa segala. Ia terlalu cantik. Maka aku meletakkan cangkir untuk menjamah wajahnya. Halus itu tak kutemukan pada dirimu. Dan ia begitu tinggi hati, menepis tanganku.

Kau kotor. Ayah menyentuhmu.

Aku takut padanya. Seperti aku takut padamu. Tapi aku juga menginginkannya seperti aku menginginkanmu.

Ia menyentuhmu juga, bukan?


Anak itu seketika marah seperti kuda betina terluka. Tidak! Ia tidak menyentuhku! Ia kotor! Dan seperti yang dulu kulakukan padamu, aku berlutut mendekap kakinya. Kubayangkan diriku sebagai dirimu, menerima semua tamparannya tapi menolak melepasnya. Dan apa yang berikutnya kau lakukan? Kau mengembalikan tamparannya berkali-kali sampai kulitnya pecah dan sudut bibirnya berdarah. Ia menjerit, berganti-ganti memaki dan memohonmu berhenti. Kau tak peduli. Kau hanya ingin menaruh mulutmu pada pucuk-pucuk buah dadanya yang segar kemerahan. Memaksa tubuhnya menikmatimu walau batinnya mengutukmu.

Namun, Sancte Pater, tahukah kau bahwa anak itu pengkhianat? Wajahnya berlarik air mata ketika jari-jariku melanggarnya, ketika kupaksa ia menelan kepuasan yang kuberikan atas namamu. Dan dengan kurang ajar ia menjeritkan nama lain, putra teragung Roma.

Aku berhenti, tertegun. Sebilah pisau menggores lenganku. Tangan kuat menjambak rambutku dan menghempasku ke belakang, mengembalikan diriku menjadi diriku.

Kukira kau saja yang bisa memukulku seperti itu, tapi aku keliru. Itu anak kesayanganmu yang lain. Pelacur keparat! Begitu ia memaki sembari mengembalikan semua sakit yang kuberi pada tubuh adiknya. Dan aku menunggu, gemetar. Akankah ia menyebadaniku berkali-kali?

Tapi jangan kira aku berkhianat. Yang ada di benakku hanya kau; ia hanyalah kau pada umur delapan belas.

Sungguh, aku hanya milikmu.

Adakah kau sadari itu saat menuang anggur dan mengangkat gelas? “Untuk kebahagiaanmu,” kau berkata, lalu menenggak.

Ejekankah itu? Tertawakah batinmu saat aku ikut mengangkat gelas, mengatakan hal yang sama walau anggur tak menyentuh bibirku?

Tiada tanda darimu baik harapan maupun pemutusan asa. Kau mengatupkan tangan dan bicara tentang hal-hal yang bisa kau berikan kepada suamiku. Tidak banyak. Tapi kau berbohong. Kau masih menginginkanku. Dan akan kubuat kau semakin bernafsu.

“Sancte Pater, aku punya cerita.”

“Tentang?”

Kau minum lagi ketika aku mulai bertutur. Pada hari itu kudengar anak perempuanmu menangis. Tengah malam. Di kamar yang kusiapkan untuknya. Kau telah menyentuhnya dengan tubuh yang penuh penyakit. Menodainya dua kali lipat. Aku akan mati, ia berkata dingin pada kakaknya, tapi sebelum itu aku akan membusuk menjadi onggok daging dan nanah. Melihatku pun kau tak akan sudi.

Aku tertohok ketika anak laki-lakimu mengucapkan kata-kata termanis yang pernah kudengar. Jika itu terjadi padamu, biarlah itu juga terjadi padaku. Oh, Sancte Pater, aku sungguh tak percaya. Benarkah ada ketulusan macam itu? Bagaimana satu ciuman bisa begitu intim, lidah mereka saling akrab? Setiap sentuhan membuatku terpana. Betapa damai anak laki-lakimu, membenamkan wajah pada gelombang-gelombang rambut panjang adiknya. Betapa tercabik anak perempuanmu, antara patuh atau melindungi kakaknya dari nista; ia menggigit bibir dan berpaling.

Jangan sentuh aku, Kakak.

Tapi anak laki-lakimu tak peduli. Ia menepis dan menahan tangan-tangan adiknya, dan menyentuhkan, pada wajah cantik itu, pisau dingin yang telah melukaiku, menoreh garis sangat tipis, sangat lembut. Ia melukis salib-salib kecil yang indah pada leher, buah dada, ceruk peka di bawah perut adiknya yang telanjang, dan membuat anak perempuan itu merintih lembut dengan memberi kecupan dalam pada tiap luka.

Ah, wajahmu berubah, Sancte Pater, juga caramu menelan sisipan anggur. Lambat dan gelisah. Nafsumu terpancing sudah.

“Mereka benar-benar--?”

Mencurangimu? Tentu. Aku melihatnya sendiri. Apakah kau cemburu jika kukatakan anak perempuanmu menyambut semua yang diberikan kakaknya—dekap, napas, sakit, cinta? Ia menangis, tapi itu tangis yang nikmat, disela engah dan erang anak laki-lakimu, memanggil namanya saat mereka sama-sama mabuk oleh kepuasan yang lebih terkutuk daripada borok-borokmu yang membusuk.

“Bangsat!”

Kau memaki dan berdiri. Gelasmu pecah di lantai pualam. Genangan anggur menyebar, warnanya seperti darah sisa persetubuhan. Lalu kau jatuh terbatuk memuntahkan merah kehitaman yang amis. Gumpal-gumpal menjijikkan, tersembur pada gaunku.

Aku bukan tak ingin menolong. Terlanjur kulihat sesuatu yang memesona. Di antara kibar-kibar tirai, anak perempuanmu berdiri. Gaunnya hitam. Ia menghampiri kita dengan senyum halus, dan menaruh, pada tanganmu yang menggapai, sekuntum bunga putih. Cantarella.

Ia berpaling padaku.

“Andai saja kau minum anggurnya, Bibi.”

Bukan sakit yang kurasai pertama, tapi dingin. Pisau itu. Anak laki-lakimu tidak meggoresiku dengan salib-salib kecil yang indah. Ia menghunjam punggungku, lalu melintaskan bilah tajam itu di depan mataku sebelum menyayatkannya pada leherku. Pelan, dalam, tiap dorongan dan tarikan terasa jelas. Lebih perih dibanding kali pertama kau menandak-nandak di antara kedua pahaku.

“Jika kau bertemu bapa kami di dalam surga, katakan padanya aku dan adikku tidak akan pernah datang.”

Ah, andai tenggorokan ini tak menganga, ingin kukatakan betapa aku bahagia mati di sebelahmu. Walau kau telah tuli. Tapi aku akan selalu ingat melihat anak perempuanmu berlari ke pelukan kakaknya, mendapat belaian di wajah dan dagunya, kecupan di bibirnya. Digendong seperti putri perawan dalam syair-syair manis.

Jika surga adalah tempat dimana segala keinginan terkabulkan, akankah nanti kudapati kau di gerbangnya, menyambutku seperti itu?


Oktober 2009


***


Ketika pertama kali kubuat, cerita ini memiliki postscript karena kutaruh di tempat umum. Aku berpikir bahwa karena sekarang ini adalah blogku sendiri, aku ga butuh postscript itu lagi. Tapi ketika kubaca lagi, rasanya bahaya juga kalau postscript itu kuhilangkan, jadi begini penjelasanku.

Bisa dibilang Euravia punya andil dalam penulisan cerita ini. Ceritanya, saat ditantang untuk berpartisipasi  pada Satu Tema Beda Rasa, aku kebetulan baru membaca beberapa buku referensi tentang Italia Renaisans saat menyusun setting dan intrik di Euravia. Dan kalau menyebut Italia Renaisans, otakku pasti lari ke 2 topik. Pertama adalah Machiavelli. Dan kedua, Keluarga Borgia

Nah, yang kedua ini yang jadi inspirasi ceritaku. Spesifiknya, tiga anggota keluarga mereka yang paling 'terkenal', Rodrigo Borgia alias Paus Alexander VI, dan dua anaknya yang lahir dari hubungan gelap, Cesare Borgia dan Lucrezia Borgia.

Karena waktu ikut tantangan ada syarat untuk tidak boleh menyebut nama tokoh, aku memasukkan nama tokoh-tokoh ini dengan cara lain.”Sancte Pater” adalah bahasa Latin untuk Holy Father, panggilan untuk Paus. “Putra teragung Roma,” tentu saja, Kaisar Roma, dan “istri yang bunuh diri,” adalah nama Lucretia, figur semi-mitis dalam sejarah republik Romawi, istri seorang pejabat yang bunuh diri karena diperkosa.

Trah Borgia, yang berasal Spanyol tapi kemudian menjadi berkuasa di Italia, adalah THE most notorious family in Renaissance Italy, dituduh atas berbagai kejahatan mulai dari pembunuhan, korupsi, dan inses, walau para ahli sejarah banyak menganggap yang terakhir itu kurang bukti, dan tuduhan inses sendiri dikenal sebagai suatu modus pembunuhan karakter di jaman Romawi kuno.

So yeah, cerita ini cuma fiksi, yang kubayangkan dilihat dari mata salah satu selingkuhan Rodrigo Borgia. Dan karena itu aku mau menegaskan bahwa meski aku mendepiksi Gereja Katolik, pada prakteknya korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan seksual  amat potensial terjadi pada semua bentuk hierarki kekuasaan yang mengatasnamakan Tuhan.
  
Dan yang paling kusayangkan dari itu semua, jika sudah terjadi, nggak semua institusi kuasa itu mau membenahi diri. Malah kadang kesannya mereka menutupi, atau bahkan menyebut contoh-contoh masa lalu untuk 'membuktikan' betapa tolerannya mereka.

Sesekali blog ini perlu perenungan yang agak-agak serius, memang.  Tapi jangan cemas, minggu depan aku akan memasukkan catatan yang ringan-ringan. Yang barangkali melibatkan Negara Tetangga dan Teh Tarik, atau pro kontra pemakaian kerangka cerita. Kita tunggu saja.




Luz Balthasaar.

23 komentar:

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Hmmm, Luz, kalo menurutku sih cerita ini malah kurang "vulgar". Memang sih unsur bip bip bip dan tut tut tut nya kerasa dan kental sekali, tapi menurutku eksekusinya masih berasa "malu tapi mau". Kalau mau yang "to the point", banyak contohnya kayak yang lokal (tujuh belas taon dot com atau apalah itu) atau yang internasional sekalian (banyak contohnya kalo yang ini. Silakan cari sendiri).

Dari segi eksekusinya karya ini memang mirip sama Euravia, kalimat yang indah, agak puitis, penuh simbolis, dan sebagainya (mungkin kamu memang mau menjadikan ini sebagai gayamu). Tapi karena simbolis itulah aku bilang karya ini kurang "vulgar", dibanding karya lain yang beredar di luar sana. Buatku sih nggak masalah. Selama esek-esek nya sesuai dan integral dengan konsep cerita, hal itu kuanggap sama saja seperti plot device yang lain. Tapi bip bip bip atau tut tut tut yang memang cuma jadi bumbu atau fan service, yang kalau dihilangkan pun nggak membuat cerita itu jadi bolong atau keputus di tengah-tengah, nah yang itu aku cenderung nggak suka.

Dan aku nggak masalah sama sekali mengenai tema religius nya. Yah, mungkin karena aku bukan penganut agama yang mengharuskan pergi ke gereja ya :p

Kalau mau coba baca buku yang temanya ada di wilayah kekuasaan Dewi Meeyabee, coba baca serial Kushiel. Aku sendiri juga baru mau baca, tapi belum sempet karena masih nyelesaiin buku yang lain. Tar kalau aku udah baca, aku coba lihat seberapa "vulgar" nya serial Kushiel itu.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Kirana, kalau Kushiel's Legacy, aku udah tahu dari dulu. But I think you misunderstood apa yang dibilang "malu tapi mau".

"Malu tapi mau" ini larinya ke diksi. Yaitu, memakai eufemisme basi untuk menutupi bip-bip dan tut-tut. Kalau mau tahu pilihan kata yang macam gitu, silakan baca koran-koran merah.

Untuk bagian kedua, bagus tidaknya suatu karya nggak ditentukan oleh vulgar nggaknya.

Kalau kita mau memasukkan unsur bip-bip dan tut-tut, kita nggak selalu harus pakai approach do-or-die. Vulgar banget atau nggak sama sekali, dimana kalau kita memasukkan kita harus eksplisit sekali hanya untuk menunjukkan bahwa kita nggak munafik, dan kalau nggak maka gag boleh sama sekali.

Kalau do-or-die ini approach yang benar, maka otomatis semua cerita vulgar adalah cerita yang bagus. Dan semua cerita yang kurang vulgar adalah lebih buruk dibanding yang lebih vulgar.

Dan kita tahu kasusnya nggak begini.

Seperti kita punya pilihan untuk memasukkan atau tidak memasukkan, kita punya pilihan untuk menentukan seberapa jauh kita mau memasukkan.

Jadi, "malu tapi mau" dengan "mengukur kadar" itu konsep yang berbeda sama sekali. Satu urusannya diksi, satu urusannya "takaran".

Kalau cerita satu ini, arahku bukan ke mengumbar narasi yang vulgar, but as you say, simbolisme.

Kalau sudah ada banyak cerita dan penulis di luar sana yang cuma bisa mengumbar kevulgaran, tentu lebih baik kalau cerita-ceritaku memiliki makna yang lebih dalam daripada pr0noDiksi biasa.

Anonim mengatakan...

Sebenernya ini problem yang cukup sulit, karena batasan eufemisme basi itu sendiri masih kurang jelas. Eufemisme kalau secara tunggal bisa dianggap obyektif karena memang ada arti generalnya. Tapi kalau basi, itu sudah masuk ranah subyektif. Basi-ku, basi-mu, basi-nya ngga sama. Itu masalah persepsi. Tapi mari kita coba liat satu persatu :
Luz wrote : Kalau aku tidak ingin memasukkan unsyur syur, aku akan melakukannya sedemikian rupa hingga nggak terkesan "malu tapi mau" dengan memakai eufemisme-eufemisme basi macam "tubuhnya tak terutup sehelai benang pun" untuk menggantikan kata "telanjang," atau memakai frase "melakukan hubungan pasutri" untuk menggantikan penggambaran bip-bip dan tut-tut
Lalu ada definisi tambahan,
Luz wrote : "Malu tapi mau" ini larinya ke diksi. Yaitu, memakai eufemisme basi untuk menutupi bip-bip dan tut-tut. Kalau mau tahu pilihan kata yang macam gitu, silakan baca koran-koran merah.
Oke, berarti eufemisme basi itu adalah eufemisme yang dipakai di koran-koran merah.
Sekarang kita liat cuplikan di atas.
Luz wrote : Kau hanya ingin menaruh mulutmu pada pucuk-pucuk buah dadanya yang segar kemerahan.
Luz wrote : Bagaimana satu ciuman bisa begitu intim, lidah mereka saling akrab?
Luz wrote : Lebih perih dibanding kali pertama kau menandak-nandak di antara kedua pahaku.
"Pucuk-pucuk buah dada" menurutku adalah sebuah eufemisme untuk menggambarkan puting susu. "Lidah mereka saling akrab" juga bisa dibilang eufemisme untuk menggambarkan lidah yang saling membelit dan bersentuhan satu dengan yang lainnya. "Menandak-nandak di antara kedua pahaku" rasanya juga adalah eufemisme yang menggambarkan persetubuhannya.
Jadi cuplikan-cuplikan tersebut, kalau kita semua setuju, adalah eufemisme.
Basikah ? Sudah survey apakah koran merah tidak pakai eufemisme seperti itu ?
Dan coba kita lihat satu cuplikan lagi.
Luz wrote : Wajahnya berlarik air mata ketika jari-jariku melanggarnya,
Kurang jelas ini masuk eufemisme atau ngga karena si pengarang sendiri tidak mendeskripsikan si tokoh sedang melakukan apa. Pengarang memberikan awalan yang cukup menaikkan tensi di awal, tapi melemparkan saja umpan agar imajinasi pembaca bergerak liar sebebas-bebasnya, tergantung apakah otaknya lagi lurus, miring, atau belok-belok. "Melanggarnya" bisa saja menahannya supaya tidak pergi ke mana-mana, bisa juga memegangnya, memukulnya juga bisa, menamparnya siapa tau, tapi tidak menutup kemungkinan artinya menjadi mengelus, meremas, dan hal-hal lain yang dilakukan dalam per-bip-bip-an dan per-tut-tut-an. Justru ini kesannya jadi "malu tapi mau", dan dengan curangnya, karena malu, ya lempar umpan sembunyi arti. (Sama halnya dengan "bip-bip dan tut-tut", sebuah eufemisme yang justru ngga jelas artinya, apakah menggambarkan persetubuhannya, foreplay-nya, petting-nya, atau mulai dari liat-liatan sampe tidur kecapekan. Malu tapi mau :D)
Udah, ah. Otak lagi miring nih. Makanya ngocehnya jadi banyak. Tengkyu ya.
Salam,
Luck

Elthewynn mengatakan...

Uh... Saya tak berani berkomentar, hahaha. Jelas isi artikel ini di luar jangkauan saya, baik secara umur maupun pikiran...

Ngacir~

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Luz, hum, ya, sepertinya definisi "malu tapi mau" kita emang beda. Menurutmu yang kayak gitu itu yang pakai eufemisme basi macam koran merah atau stensilan gitu. Kalau menurutku pribadi sih, "malu tapi mau" itu semua penggambaran adegan seks atau persetubuhan yang pakai istilah atau kalimat atau eufemisme atau simbolisme, baik itu basi ataupun nggak. Yah, mungkin perbandingannya itu kayak koran merah yang bahasanya to the point macam "anu masuk ke anu" atau "menggelinjang", sama Harlequin yang diksinya lebih tersirat atau indah atau simbolis.

Sama seperti Luck, akhirnya aku menganggap "malu tapi mau" ini jadi takaran subjektif, nggak jelas di mana batasannya.

Soal approach do-or-die, ini murni penilaian subjektif dari aku. Seingatku aku nulis kayak gini:
Selama esek-esek nya sesuai dan integral dengan konsep cerita, hal itu kuanggap sama saja seperti plot device yang lain. Tapi bip bip bip atau tut tut tut yang memang cuma jadi bumbu atau fan service, yang kalau dihilangkan pun nggak membuat cerita itu jadi bolong atau keputus di tengah-tengah, nah yang itu aku cenderung nggak suka.

See? Aku sama sekali nggak ada ngomong soal salah atau bener. Kalimat di atas adalah murni pilihanku dalam membaca. Kalau ada orang yang nggak sependapat sama aku, ya silakan aja.

Sebagai summary, pendapatku soal adegan2 syurga:
1. Adegan seks atau persetubuhan di dalam cerita? Oke-oke aja, baik yang basi ataupun yang nggak

2. Adegan seks atau persetubuhan yang sesuai dan integral ke dalam plot cerita? Better

3. Adegan seks atau persetubuhan yang nggak integral ke dalam plot, alias cuma bumbu atau fan service? Aku cenderung nggak suka, karena menurutku jadi mengganggu flow cerita yang sebenernya.

4. Adegan seks atau persetubuhan yang malah menghambat atau mengganggu plot dan flow cerita? Ukh, nggak banget.

Jadi buatku, bukan masalah basi atau nggaknya yang penting, tapi keselarasan adegan syurga itu dengan plot cerita lah yang lebih penting.

But then again, ini murni penilaianku. Mau setuju silakan, nggak juga nggak apa :p

PS: heran, udah dua kali aku nulis komen tapi kok kayaknya orang jadi salah tanggap ama yang aku tulis. Apa aku segitu ga jelasnya nulis komennya?

Luz Balthasaar mengatakan...

@Luck, sebenernya, eufemisme basi itu nggak segitu subyektifnya.

Kapan suatu eufemisme menjadi basi? Begitu dia terlalu banyak dipakai. Dan kalau diamati, eufemisme basi ini banyak terdapat di berita-berita koran merah dan tulisan setipe. Rata-rata tulisan semacam itu seragam dalam hal pemilihan kata dan eufemisme yang dipakai.

Aku banyak membaca yang semacam itu. Jadi kalau ditanya apakah sudah survei atau tidak, aku bisa bilang sudah.

Keseragaman inilah yang membuatnya basi. Si pengarang sepertinya napsu, tetapi malas menggambarkan, atau ingin menghindari tuduhan pr0nodiksi tapi nggak tahu caranya selain memakai eufemisme basi. Jadi, mau tapi malu.

Dan semua cuplikan kamu itu bukan eufemisme.

Eufemisme mengandung unsur penghalusan, untuk membuat sesuatu yang berpotensi menimbulkan rasa tak nyaman lebih bisa diterima.

Misalnya, "pup." Itu eufemisme untuk "tahi". "Difabel" itu eufemisme untuk "cacat". dan "Mr. P." untuk "Pe***nis."

Dalam tiga contoh pertama yang kamu sebut, nggak ada penghalusan arti. Puting susu dan pucuk buah dada nggak ada yang lebih sopan dari yang lain.

Bedanya, puting susu memiliki nilai rasa yang terlalu netral, bahkan agak klinis. Denger kata puting susu jadi kebayang check-up ibu2 posyandu. Jadi, kalau dipakai di cerita malah kurang cocok.

Sama dengan "lidah saling akrab". "Akrab" bukan penghalusan dari "bersentuhan dan membelit."

(Dan BTW, lidah nggak bisa saling membelit. Just try it. You'll know. ;D)

Sama juga dengan "menandak-nandak di antara kdeua paha", karena ini nggak lebih sopan daripada kata "persetubuhan".

Coba saja substitusi tiga contoh pertama yang kamu kutip di dalam ceritanya. Aku yakin tidak ada penghalusan makna.

Jadi, batu memang dilempar, tapi tidak ada arti yang disembunyikan.

Nah, yang menarik, di bagian sini:

Wajahnya berlarik air mata ketika jari-jariku melanggarnya,

Kamu bilang, "Kurang jelas ini masuk eufemisme atau ngga karena si pengarang sendiri tidak mendeskripsikan si tokoh sedang melakukan apa."

Benar lagi, bukan eufemisme.

Lalu, "Pengarang memberikan awalan yang cukup menaikkan tensi di awal, tapi melemparkan saja umpan agar imajinasi pembaca bergerak liar sebebas-bebasnya, tergantung apakah otaknya lagi lurus, miring, atau belok-belok."

Nah, problemnya, satu s***ex act bisa menarik bagi satu orang, sementara bagi orang lain, sama sekali nggak menarik. Bahkan menjijikkan. Kalau digambarkan terlalu detail, nggak semua orang bisa menikmati, 'kan?

Makanya aku cenderung membebaskan pembacaku untuk membayangkan apa yang mereka suka. Aku nggak menyembunyikan arti. Aku juga nggak menaruh deskripsi mendetail hanya demi membuktikan aku bisa dan nggak munafik.

Dan yang terakhir, kalau mau tahu soal bip-bip dan tut-tut, aku memakai itu karena tiga alasan yang sebetulnya sederhana:

1. Nembus sensor keyword server kantor yang sensitif.

2. Because it sounds funny. Dan kayaknya ini jauh lebih jarang dipakau daripada "melakukan hubungan pasutri", yang basi itu.

3. Karena banyak orang yang tentunya berminat membahas hal yang syur-syur, tetapi nggak semua dari mereka bisa nyaman kalau kita memakai bahasa yang terlalu eksplisit. Dan aku ingin membuat bahasan ini senyaman mungkin untuk siapapun yang mau bergabung.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Rie, aku juga nggak bilang soal kamu salah atau bener sih, kayaknya.

Aku cuma baru menyadari bahwa ada potensi pemahaman yang kepeleset berkenaan dengan "malu tapi mau" ini.

Siapapun yang membaca diskusi kita bisa saja menangkap bahwa semakin vulgar suatu cerita, semakin baik. Dan kalau mereka ga mau dicap munafik mereka harus menulis sevulgar-vulgarnya begitu memutuskan untuk masukin unsyur syur.

Padahal problemnya bukan disitu.

Aku mendefinisikan "mau tapi malu" itu bukan berkenaan dengan kadar, tapi berkenaan dengan pilihan bahasa yang dipakai untuk menceritakannya. Makanya dari awal aku pakai contohnya eufemisme koran merah itu. Bahasa malu tapi mau.

Mau kadarnya seberapapun, kalau bahasanya enak, ayo aja.

Nah, kalau yang kamu punya, itu pandangan kontekstual. Kamu melihat adegan syur dari konteksnya. Perlu, apa nggak? Ada hubungannya dengan plot, apa nggak?

Ini bisa diterapkan, tentu saja. Sedikit banyak aku juga menilai 'penting-nggaknya' suatu paragraf syur dengan menaruhnya ke dalam plot.

Namun, dari pengalamanku membaca, ada banyak buku yang bercerita tentang s***eks yang 'kebutuhannya' ke plot nggak kelihatan. But it was so well written, sehingga nggak terkesan picisan/fanservicey.

Dan sebaliknya, ada yang memang dibutuhkan oleh plot, tapi alasan kebutuhan plot itu dibuat-buat, macam, "heroine hanya bisa dikorbankan jika dia masih perawan. Oleh karena itu dia bip-bip dan tut-tut sama hero demi menyelamatkan jiwanya."

Ada alasan, integral ke plot, tapi alasan itu sendiri picisan.

Tambah lagi, meski ada alasannya, penggambaran unsyur syur itu seringkali lebai. Lebih dari yang nisa dinikmati. Okelah, dia bip-bip dan tut-tut sama hero, tapi perlu ya digambarkan apa yang mereka lakukan, termasuk si heroine melumurkan keju cair/coklat ke tubuh si hero dan menjilatinya sampai tandas? Ewwww~

Yang kuperhatikan, makin si pengarang berusaha membuktikan bahwa dia nggak muna dengan mengumbar deskripsi sevulgar-vulgarnya, justru makin ada kecenderungan dia jadi lebai dan fanservicey.

Peganganku itu juga sudah kunyatakan di posting sebelumnya.

"Kalau aku memilih untuk memasukkan, aku juga akan melakukannya sedemikian rupa sehingga kesannya nggak lebai. kelebai-an ini akan membuatku kedengaran nggak otentik, kayak orang yang menyombongkan dirinya sebagai profesor urusan bip-bip dan tut-tut tapi sebenernya ciuman aja nggak pernah."

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Luz, setelah kupikir-pikir, kamu bener kalau diskusi kita jadi memancing pemahaman yang salah.

Keseragaman inilah yang membuatnya basi. Si pengarang sepertinya napsu, tetapi malas menggambarkan, atau ingin menghindari tuduhan pr0nodiksi tapi nggak tahu caranya selain memakai eufemisme basi. Jadi, mau tapi malu.

Problem di atas juga bisa disebabkan karena eufemisme yang basi itulah yang tepat sasaran, alias yang bisa membuat pembacanya jadi horny (bukannya itu tujuan utama koran merah ya?)

Nah, kalau yang kamu punya, itu pandangan kontekstual. Kamu melihat adegan syur dari konteksnya. Perlu, apa nggak? Ada hubungannya dengan plot, apa nggak?

Yup, bener banget.

Namun, dari pengalamanku membaca, ada banyak buku yang bercerita tentang s***eks yang 'kebutuhannya' ke plot nggak kelihatan. But it was so well written, sehingga nggak terkesan picisan/fanservicey.

Nah, yang ini aku belum nemu tuh, soalnya semua yang kubaca bikin aku jadi il-fil ama ceritanya. Punya satu contoh yang bagus? Apa Kushiel masuk ke kategori ini?

Dan sebaliknya, ada yang memang dibutuhkan oleh plot, tapi alasan kebutuhan plot itu dibuat-buat, macam, "heroine hanya bisa dikorbankan jika dia masih perawan. Oleh karena itu dia bip-bip dan tut-tut sama hero demi menyelamatkan jiwanya."

Ukh, iya juga ya, ada plot device kayak gini. Baru keingetan. Satu lagi yang nggak banget dah.

Tambah lagi, meski ada alasannya, penggambaran unsyur syur itu seringkali lebai. Lebih dari yang bisa dinikmati. Okelah, dia bip-bip dan tut-tut sama hero, tapi perlu ya digambarkan apa yang mereka lakukan, termasuk si heroine melumurkan keju cair/coklat ke tubuh si hero dan menjilatinya sampai tandas? Ewwww~

Kalau menurut pengarangnya pasti PERLU BANGET wakakakaka *ngaburrr*

Aku banyak membaca yang semacam itu. Jadi kalau ditanya apakah sudah survei atau tidak, aku bisa bilang sudah.

*tepuk tangan* Wihh, salut aku. Kalau aku sih pasti nggak tahan, langsung sakit kepala ~_~

Mantoel Toeink mengatakan...

*menyimak baik2*

Ngg, satu hal yg membuat gw tertarik justru masalah "apakah unsyur-(un)syur itu dibutuhkan oleh plot". Signora ada contoh unsyur yg bener2 dibutuhkan buat plot? Gw pengen tahu aja sih contohnya krn selama ini pendapat gw yg unsyur-(un)syur itu kebanyakan cuma merupakan fanservice. Gak usah diceritain detail ttg mereka ngapain juga bisa (cuma dikasih tahu bahwa mereka melakukan sesuatu dan ada hint yg mengarahkan pembaca bahwa yg dilakukan adalah xxx).

Sampe detik ini gw masih agak bingung memutuskan apakah plot yg gw rancang dlm otak (blm rilis sampe jadi tulisan) yg mengandung xxx itu perlu/itu gw tanpa sadar cuma pengen nyari sensasi/itu pertolongan spotlight pada karakter yg ketilep ama karakter lain.

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Rie,

Problem di atas juga bisa disebabkan karena eufemisme yang basi itulah yang tepat sasaran, alias yang bisa membuat pembacanya jadi horny (bukannya itu tujuan utama koran merah ya?)

Kalau begitu pertanyaannya balik ke kita. Kita lagi bikin cerpen, novel, stensilan, apa koran merah?

Kalau kita lagi bikin koran merah/stensilan, silakan pakai bahasa koran merah/stensilan. Tapi jika kita lagi bikin cerpen, tidakkah kita ingin mencoba cara penyampaian yang lain?

Nah, yang ini aku belum nemu tuh, soalnya semua yang kubaca bikin aku jadi il-fil ama ceritanya. Punya satu contoh yang bagus? Apa Kushiel masuk ke kategori ini?

Kalau contoh lokal, karya Ayu Utami ma Djenar Maesa Ayu masuk kategori ini.

Yang paling terakhir kubaca itu Bilangan Fu. Banyak penceritaan bip-bip dan tut-tut di buku itu bisa aja dihilangin, dan ga ada ngaruh ke plot. Tapi ditulisnya bagus hingga yang baca juga enak.

Kalau yang agak lama, Nayla-nya Djenar tuh. Ada bagian nusuk2 va***gina dengan peniti segala. Plot-wise, itu nggak penting. Tapi sebagai simbol opresi perempuan kepada perempuan, itu signifikan.

kalau Kushiel's Legacy, itu ngarahnya ke erotika.

Nah, erotika ini kadang menyajikan bip-bip dan tut-tut yang sebenernya nggak penting-penting banget ke plot, tapi bahasa penyajiannya nggak murahan.

Keberadaan erotika ini membuktikan kalau syur-syur itu masalahnya ke bahasa/eksekusi, bukan ke purpose atau ke kadarnya.

Cuma soal Kushiel, itu banyak S&M sih, jadi beware... O_O
__

@Juun, kalau aku bilang, nggak usah mikirin dia dibutuhin/perlu ma plot apa nggak. Kalaupun itu ada cuman karena kamu pengen, nggak ada salahnya.

Eksekusinya aja perhatiin. Kapan bagian syur itu cocok disana, ukur-ukur bahasanya, dan cari level yang nyaman buat kamu ceritakan. Kalau cuma nyaman sampai yang subtil, oke. Kalau nyaman sampai deskripsi penuh, silakan.

Tapi kalau memang mau penting buat plot, I did that, pada di cerita diatas tuh.

Kalau dibilang antara nyari sensasi dan/atau bikin spotlight buat karakter ketilep, itu pun nggak salah. Perkaranya, kamu nyaman nggak kalu tulisan itu dibaca?

kalaupun dia ada purposenya ke plot tapi kamu nggak nyaman itu dibaca, apa gunanya?

Mantoel Toeink mengatakan...

Hmmm. Jadi sbnrnya bukan gak boleh masukin fanservice, tapi gimana bkn org nerima fanservice itu gak sebagai embel2 yg gak perlu/gak berpengaruh pada plot. :-? Hmm. *krn lemot mikirnya lama*

Thanks saran dan masukkannya, Signora. :D :D Gimana kalo misalnya gw butuh konsultasi tulisan yg ada urusannya ama unsyur-(un)syur gw kontak Signora via japri (email ato Gtalk)? :D :D

Hehe.

striferser mengatakan...

@Luz setelah membaca ini, aku kembali mempertanyakan POV 2nd person, apakah narator yang mengatakan kau/kamu adalah "tuhan" ataukah tokoh lain? karena saya pikir saat membaca kisah 2nd POV, yang saya pikirkan, 'tuhan'lah yang berbicara kepada si 'kamu'

untuk masalah syur saya no komen dulu, dan
untuk bisa mengerti cerita yang dituliskan oleh Sis Luz dengan lebih mendalam(boleh panggil sis kan?) mungkin ada baiknya saya baca cerita yang jadi inspirasi sis Luz

terkait tukar link yang ditulis di topik lain. dengan senang hati, tapi mohon maklum kalau saya masih harus belajar cara buat blog yang baik dan benar, jadi coba cari template biar bisa masukin link sis

THX

Anonim mengatakan...

@Luz Kayaknya kita terjebak dengan istilah "mau tapi malu"-nya Luz yang ternyata punya arti tersendiri dibandingkan dengan pemahamanku.

Rie wrote : Problem di atas juga bisa disebabkan karena eufemisme yang basi itulah yang tepat sasaran, alias yang bisa membuat pembacanya jadi horny (bukannya itu tujuan utama koran merah ya?)

Luz wrote : Keseragaman inilah yang membuatnya basi. Si pengarang sepertinya napsu, tetapi malas menggambarkan, atau ingin menghindari tuduhan pr0nodiksi tapi nggak tahu caranya selain memakai eufemisme basi. Jadi, mau tapi malu.

Nah, si pengarang kan sebenernya jelas-jelas MAU untuk mengumbar prono-pronoan dan ngga malu-malu karena memang tujuannya itu dan pembaca pun udah siap untuk menerimanya, tapi masalahnya dia NGGA BISA membuatnya jadi terlihat INDAH. Makanya aku ngga setuju kalo dibilang dia ini "malu tapi mau" , lebih tepatnya "mau tapi ngga indah".

Lain dengan tiga cuplikan dari ceritanya Luz, yang ternyata bukan eufemisme :D, itu juga jelas-jelas mau menggambarkan prono-pronoan tapi penggambarannya begitu indah sehingga membacanyapun enak aja. Jadi kategorinya "mau dan indah".

Nah, yang kubilang "malu tapi malu" justru cuplikan terakhir, yaitu "melanggarnya". Cuma cuplikan ini yang kumaksud lempar umpan sembunyi arti. Aku ngga bilang tiga cuplikan lainnya itu lempar batu karena emang udah jelas-jelas "mau" dan digambarkan dengan gamblang, namun indah.

Luz wrote : Nah, problemnya, satu s***ex act bisa menarik bagi satu orang, sementara bagi orang lain, sama sekali nggak menarik. Bahkan menjijikkan. Kalau digambarkan terlalu detail, nggak semua orang bisa menikmati, 'kan?

Nah, inilah yang dibilang malu-malu. Pengarang mau menampilkan bip-bip dan tut-tut, tapi takut ngga semuanya bisa menikmati sehingga bikin suatu kalimat yang terserah mau diartikan apa oleh pembaca. Padahal kalau digambarkan seperti tiga cuplikan sebelumnya, menurutku ngga akan membuat tulisan ini jadi picisan. Tetep indah. Dan kenapa baru di cuplikan yang ini yang terkesan malu-malu padahal di cuplikan-cuplikan sebelumnya dengan gamblangnya menggambarkan bip-bip dan tut-tut ?

Salam,
Luck

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun, kalau mau konsultasi sih Juun, boleh aja. Alamat ada di contact, kan?
__

@Striferser, mungkin sama aja kali, ada yang second-person omniscient, ada second-person limited?

Mengingat sudut pandang orang kedua ini jarang yang make, jadinya kita harus meraba-raba sendiri. Mungkin kita harus bereksperimen lagi. ^^
__

@Luck,

Nah, si pengarang kan sebenernya jelas-jelas MAU untuk mengumbar prono-pronoan dan ngga malu-malu karena memang tujuannya itu dan pembaca pun udah siap untuk menerimanya, tapi masalahnya dia NGGA BISA membuatnya jadi terlihat INDAH. Makanya aku ngga setuju kalo dibilang dia ini "malu tapi mau" , lebih tepatnya "mau tapi ngga indah".

Kayaknya kamu keliru menyimpulkan lagi, Luck.

Ada alasan aku nggak memakai istilah "mau tapi nggak indah".

Kalau aku memakai istilah ini, itu berarti aku mendefinisikan bahwa tidak picisan berarti harus indah.

Dan aku nggak berpendapat begini. "Tidak picisan" tidak sama dengan "harus indah."

Kalau seperti kata kamu aku keliru, dan seharunya yang benar adalah "mau tapi nggak indah", berarti aku bilang bahwa satu-satunya jalan benar dalam menggambarkan s***eks adalah dengan menjadikannya indah.

Padahal, ada jalan lain.

Coba baca beberapa cerpen Djenar Maesa Ayu. Bahasanya nggak 'indah', tapi tetep saja cerita-cerita itu bisa dinikmati karena pemakaian bahasa dan teknik berceritanya yang cerdas.

Pegangannya, kalau menurutku, cuma satu. Jadikan itu enak dibaca. Caranya enak dibaca, nggak harus selalu dengan menjadikannya indah. Ada banyak cara, tapi pedoman paling pertama yang kupegang adalah menghindari gaya malu-malu mau ala koran merah.

Luz wrote : Nah, problemnya, satu s***ex act bisa menarik bagi satu orang, sementara bagi orang lain, sama sekali nggak menarik. Bahkan menjijikkan. Kalau digambarkan terlalu detail, nggak semua orang bisa menikmati, 'kan?

Nah, inilah yang dibilang malu-malu. Pengarang mau menampilkan bip-bip dan tut-tut, tapi takut ngga semuanya bisa menikmati sehingga bikin suatu kalimat yang terserah mau diartikan apa oleh pembaca.

Aku kira, 'menimbang bahwa nggak semuanya bisa menikmati' sama sekali berbeda dari 'malu'. Cek KBBI, please. Sejak kapan 'malu' bisa didefinisikan sama dengan 'pertimbangan'?

Dan untuk pendapat kamu yang ini,

Padahal kalau digambarkan seperti tiga cuplikan sebelumnya, menurutku ngga akan membuat tulisan ini jadi picisan. Tetep indah. Dan kenapa baru di cuplikan yang ini yang terkesan malu-malu padahal di cuplikan-cuplikan sebelumnya dengan gamblangnya menggambarkan bip-bip dan tut-tut?

Pertama, sudah kujawab diatas, karena aku ingin membebaskan imajinasi pembaca untuk membayangkan apa yang mereka suka.

Dan jika tujuanku ini, buat apa aku memasung imajinasi mereka dengan terlalu banyak penggambaran?

Ini bukan masalah malu atau tidak malu, karena terbukti kan, di tiga contoh sebelumnya, aku bisa kalau mau.

Ini murni karena ingin membebaskan imajinasi.

Dan aku percaya otak manusia nggak segitu terbelakangnya hingga imajinasi mereka harus dituntun oleh penggambaran berlarik-larik.

Mengingat tujuanku jelas, aku tidak merasa ada perlunya melebaikan diri dengan menulis berlarik-larik penggambaran hanya untuk menunjukkan bahwa aku bisa.

Prinsipku yang kedua, yang sudah kunyatakan di post sebelumnya, adalah jangan lebai. Jangan sampai karena penulis takut dianggap munafik atau malu-malu, dia jadi mengumbar tulisan sevulgar-vulgarnya.

Analoginya mungkin gini. Kita ditawarin minum alkohol. Dan biar gag dikatain banci, kita sengaja nenggak banyak-banyak, sampe akhirnya kita mabok dan muntah-muntah. Padahal kalau kita minum secukupnya, dengan cara yang benar, nggak akan ada masalah.

Mantoel Toeink mengatakan...

@Luz: Ermmm, yg jaman dulu di Pulpen gw blm save email Signora, sbnrnya. :D :D *nyengir merasa bersalah* Dan sekarang pulpen gak bisa dibuka. Dan gak bisa ngeliat email Signora dari profil semata krn di-protect. :D :D

*makin nyengir merasa bersalah*

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun,

Klik tombol contact aja di bagian atas blog tuh, ada ^^

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Erotica? Hmm... *ngelirik Om Google*

Erotica (from the Greek Eros—"desire") or "curiosa", are works of art, including literature, photography, film, sculpture and painting, that deal substantively with erotically stimulating or sexually arousing descriptions. Erotica is a modern word used to describe the portrayal of the human anatomy and sexuality with high-art aspirations, differentiating such work from commercial pornography.

Distinction is often made between erotica and pornography (the depiction of acts in a sensational manner so as to arouse a quick intense emotional reaction) (as well as the lesser known genre of sexual entertainment, ribaldry), although depending on the viewer they may seem one and the same. Pornography's objective is the graphic depiction of sexually explicit scenes. Pornography is often described as exploitative or degrading. One person's pornography is another's erotica, and vice-versa.


Jadi bedanya erotika dan pronografi itu cuma di packaging nya aja ya?

S&M? Ohhhh.... 0_0 Jadi rada serem aku, padahal niat pengen baca ~_~

Anonim mengatakan...

Mba, sumpah, jujur. Ini keren. Two thumbs up. Nilai 10 dari skala 0 sampe 10. Bib bib tut tutnya emang perlu ada di plot. Dan tujuan ceritanya bukan ceritain bib bib dan tut tut, gak kayak sten****silan yang emang tujuannya ceritain bib2 tut2! Wow. Saya ngerasa situasi sosialnya, pada masa apa ceritanya, perasaan si aku dan keadaan jiwanya di mana dia merasa powerless dan pasrah, gimana posisi dia terhadap tokoh lain, gimana angkuhnya karakter lain.

Em, maap muji doang, ga bisa ngasih komen lain :-P

Keberadaan erotika ini membuktikan kalau syur-syur itu masalahnya ke bahasa/eksekusi, bukan ke purpose atau ke kadarnya.

Setuju. 100% setuju. Eksekusi. Lagi-lagi eksekusi.


Adrian

striferser mengatakan...

Eva 2.22 udah keluaaaaar! (sorry OOT, cuma pengen ngasih kabar gembira buat penggemar EVA)

sekian banyak yang komen, entah kenapa tidak ada yang membahas soal POV 2nd person, malah kebanyakan tentang syur-syur....
gw lagi coba bikin 2nd POV lagi, dan tenang, kali ini endingnya nggak kayak yang sebelumnya :D nanti kalau udah jadi, gw masukin ke blog, dan mohon komennya seperti biasa :D

Luz Balthasaar mengatakan...

@Rie, packaging, atau eksekusi. Bedanya memang disitu.

Pembaca--selama mereka bukan anggota MOVIE--tahu kok mana syur-syur yang eksekusinya jelek, dan mana yang bagus. Mereka nggak bego.
___

@Adrian, well, thanks. Kegunaan ke plot memang bisa membuat bip-bip dan tut-tut itu kelihatan bukan belaka fanservice. Apalagi karena memang tujuanku disini bukan cuma membuat itu, tapi juga bicara masalah sosial.

Tapi itu gag mutlak sih. Kalau erotika, dia kadang ga segitunya penting, tapi biasanya tetep nyeni.

Mungkin bagus kalau aku bikin satu artikel kecil lagi soal prOnomansi ini, tentang 'sikap' orang yang kuamati berkaitan dengan masalah ini.
___

@Striferser, aku juga lg coba DL tuh. Lom kelar2 juga. Hiks!

Memang ini artikel pembahasan syur sih. Jadi Pov2 agak tenggelam. But then, nanti aku cek blog kamu. Barangkali cerita kamu bisa jadi bahan contoh kalau nanti aku buat catatan soal Pov2.

striferser mengatakan...

@Luz, wew, langsung DL eva 2.22? gw baca di kaskus kualitas yang tersedia masih kurang bagus...gw nunggu dulu sampai udah bagus, terus nyari filmnya di rental :D

karya 2nd lagi, kali ini singkat saja,
http://striferser.wordpress.com/2010/05/26/antara-kamu-kamu-dan-kamu/

pembacadongeng mengatakan...

Luz : *keplok-keplok buat eksperimen POV2-nya*

tapi tulung pada bagian ini :

#Anak itu seketika marah seperti kuda betina terluka. Tidak! Ia tidak menyentuhku! Ia kotor! Dan seperti yang dulu kulakukan padamu, aku berlutut mendekap kakinya. Kubayangkan diriku sebagai dirimu, menerima semua tamparannya tapi menolak melepasnya.#

Aku : si pencerita
dia (nya) : Lucrezia
mu : Rodrigo
lanjut ...

Dan apa yang berikutnya kau lakukan? Kau mengembalikan tamparannya berkali-kali sampai kulitnya pecah dan sudut bibirnya berdarah. Ia menjerit, berganti-ganti memaki dan memohonmu berhenti. Kau tak peduli. Kau hanya ingin menaruh mulutmu pada pucuk-pucuk buah dadanya yang segar kemerahan. Memaksa tubuhnya menikmatimu walau batinnya mengutukmu.

kau(mu) : Rodrigo?
nya (dia) : Lucrezia?

si pencerita tiba-tiba jadi penonton?
-bingung mode on-

cerita keluarga Borgia model begini lebih halus nangkapnya dengan gambar daripada tulisan. he.he.


urusan vulgar dan tidak ?

Well, ya tulisan ini vulgar baik isi maupun pesannya.

Erotis tapi manis :)

saking manisnya, Luz, pembaca sepertinya akan teralih, tidak memfokuskan diri ke detail adegan syurnya tapi ke kesimpulan bahwa adegan-adegan itu menyatakan insest, lines dan maso/sado-chist selain tentu akan menyatakan bahwa si penulis menjurus ke penghinaan lembaga. he.he

dan 'what a huh!'...daku termasuk orang yang 'tertarik' dengan keluarga Borgia.

Setelah banyak hal yang kutemukan dan membuatku terkagum-kagum seperti kejeniusan, cara pandang yang terlalu hebat untuk jamannya dan keberanian untuk mencoba kebijakan baru di banyak hal...sepertinya 'politik pembunuhan karakter' (kalau boleh berasumsi demikian) lebih kuat gaungnya hingga lebih banyak bahan yang kubaca menyebutkan hal-hal semirip di atas.

padahal setelah keluarga Borgia dijatuhkan, pembunuhan, kekerasan, fanatisme, kolusi menjadi jalan pembenaran untuk berpura-pura suci *ah ya...ini subjectif* he.he

tapi serius, ini contoh yang sangat bagus untuk adegan vulgar yang tidak murahan.
*keplok-keplok lagi*

elbintang

Luz Balthasaar mengatakan...

@Mbak El, thanks komennya, hehehe ^^

Ini eksperimen POV juga gara-gara kemaren ditantang. Kalo masih ada yang bingungin, dimaklumi yah... XD

Mengenai bagian yang 'minta bantuan itu', tebakan yang pertama benar, yang kedua juga benar. Si pencerita membayangkan dirinya sebagai "kamu", dan mengulangi apa yang dilakukan "kamu" terhadap "dia".

Kalau mau dibilang ini mengalihkan dari syurnya, poinku memang bukan ngasih detail mengenai mereka melakukan ini dan itu dan ini. Tekanannya bukan pada detail, tapi pada hubungan terlarang, serta penggabungan yang sakral dan profan.

Kalau bicara soal Keluarga Borgia sendiri, bener sih. Setelah mereka dijatuhkan pun, memunafikan, pembunuhan, fanatisme, dan kolusi terus terjadi. Makin buas malah.

Gila lagi, itu masih berlanjut sampai sekarang, di seluruh dunia, termasuk negara kita. Pelakunya selalu orang-orang yang "mengaku beragama," terlepas dari apapun agamanya. Kadang-kadang malah kekejaman itu dilindungi negara hanya karena para pelaku itu mengaku termasuk ke dalam agama mayoritas.

Ngomongin pemikiran dan taktik mereka yang 'melampaui jaman', memang ada, dan banyak yang mengagumkan memang. Tapi ada juga yang nggak layak dipuji. Menjual surat pengampunan untuk membiayai perang itu adalah salah satunya.

Itu sama aja kayak menjanjikan Surga untuk pelaku terorisme.

Jadi ya, kalau dipikir-pikir, sebetulnya 'keberagamaan' di dunia kita itu gitu-gitu aja dari dulu. Ga maju-maju. Kulitnya doang ganti, kayak ganti skin blog. Hahaha.