Selasa, 25 Mei 2010

Pake Nggak Pake ~ Simalakamasutra Kerangka Cerita

Sebelum kita mulai sesi diskusi / nyeletuk iseng minggu ini, aku mau menegaskan dulu kalau judul di atas sama sekali nggak ada hubungannya dengan tema-tema pr0nomansi yang sudah kita bahas selama dua minggu sebelumnya. Pak Ka Ha sudah balik dari RSCM, jadi mau gag mau aku harus masukin tulisan yang nggak berbau pr0nomansi. Maka, minggu ini, bahasan kita akan bersih, sih, sih! Dijamin!

Catatan minggu ini adalah soal kerangka cerita. Spesifiknya, perlu atau nggak, dan bagaimana membuatnya, kalau perlu? 

Pause sejenak. Aku denger ada bisik-bisik sengau entah darimana yang ngomong, "Idhih, basi bhanget dheh bowww~! Hari ghini masih ngebahas perlu gag perlunya kerangkha ceritha~? Addduuuuh~!Nggak ku-ku deh~! Anak Te Ka jugha tau kaleee, kalau  jawabannya ya menyhesuaikhan! Pake kherangkha ceritha kalau perlu, dan ga ushah kalau ngghak! Iyaa ngghak seeeeh~?"
  


Semenyebal-menyebalkannya pendapat di atas, aku nggak akan membantahnya. Apakah kita perlu memakai kerangka cerita atau tidak tergantung situasi. Problemnya, kapan kita tahu cerita itu perlu kerangka, dan kapan tidak perlu?

Untuk tahu kapan kita perlu dan kapan tidak, mari kita lihat hakikat (deuh, hakikat!) kerangka itu sendiri dengan memandangnya dari sudut kebutuhan biologis. 

Euh, Pak Ka Ha ngelirik. Maksudnya Pak Ka Ha, kerangka memiliki fungsi salah satunya adalah untuk memberikan bentuk. Jadi, kerangka adalah kebutuhan biologis dari makhluk hidup yang mau punya bentuk. Gitu loh!

Oke. Pak Ka Ha uda manggut-manggut ngasi approval. Jadi mari kita lanjut. Bercermin dari contoh kebutuhan biologis diatas, kerangka cerita dibutuhkan jika kita ingin cerita kita memiliki bentuk. Maksudnya? Bentuk yang gimana tuh? Yang panjang dan keras, atau bulat dan ranum, gitu?

Pak Ka Ha ngelirik lagi. Nggak Pak, tenang aja. Maksudnya bukan itu kok. Pembahasan ini nggak ada hubungan dengan laras senapan dan bakpau kok. Hehehe.

Apa yang kumaksud 'bentuk' cerita? Kuakui menjelaskannya sedikit susah, tapi aku akan mencoba. Suatu cerita yang memiliki bentuk biasanya memiliki semacam keteraturan, semacam runut, atau batasan yang membuatnya lebih mudah diikuti. Apa yang terjadi, siapa yang berbuat, siapa yang melakoni, di mana terjadinya, kapan, biasanya mudah ditangkap. 

Ciri lainnya, jarang ada subplot atau bagian cerita yang 'ga nyambung', dalam arti memiliki hubungan sangat sedikit, bahkan hampir ga ada, dengan bagian cerita yang lain. Dengan kata lain, bagian-bagian ceritanya saling berhubungan intim.

Uh... yang berhubungan ini bagian cerita, Pak Ka Ha. Bukan orang.

Kebanyakan novel fantasi bisa dimasukkan dengan jelas ke kategori ini. Sama halnya dengan novel-novel fiksi, chicklit, metropop, teenlit. Karya-karya fiksi buatan Dan Brown, Crichton, Stephen King, dan yang setipe juga masuk.

Lalu bagaimana dengan yang gag berbentuk? Karya-karya ini cenderung tidak memiliki hal-hal yang membatasi karya-karya yang berbentuk. Dia biasanya nggak memiliki aturan, dan bagian-bagian ceritanya renggang.  Persis Amoeba proteus.

Contohnya? 

Mungkin kita semua pernah menciptakan cerita Amoeba proteus ini. Waktu kita kecil, kita bikin jagoan dan menyusun cerita dari imajinasi liar kita. Dan namanya lahir dari imajinasi liar, ya cerita-cerita seperti itu biasanya memang liar. Nggak ada keteraturan, dan antara satu elemen cerita dengan elemen cerita lain nggak nyambung. Ada tentara yang perang dengan pedang laser, dan ketika udah mau kalah tiba-tiba dia ngejatuhin pedang lasernya dan melakukan jurus ninja, lalu setelah itu mereka menyelamatkan putri yang ditawan di istana yang dijaga oleh Batman, dan seterusnya. Kejadian, tokoh, kekuatan, barang-barang, tempat, semua bermunculan begitu saja tanpa ada kaitan atau keteraturan.

Pengen nyebut satu buku spesifik sih, tapi nggak usahlah.
  
Pak Ka Ha ngelirik lagi, kali ini sambil bawa obor dan ban. Buset dah Pak, bukan buku pr0no kok yang mau kusebut! 

Nah, seperti halnya dunia ini dikuasai oleh makhluk-makhluk bertulang, kebanyakan cerita biasanya bertulang. Dengan kata lain, kecuali jenis cerita Amoeba proteus yang kusebut, semua cerita biasanya punya kerangka. 

Pause. Ada protes lagi. "Adyuuuh bow~! Sothoy deh ih~! Shaya kalau nulis itu gag pernah pake kerangkha!  Shaya tulis sajha apa yang adha di pikiran shaya! Go with the flow, githu! Ngalir aza~ dan hasilnya  jhauuuuh dari cerita mas amoeba ithu!" 

Ehem. Aku belum selesai. 

Mungkin ada yang merasa bisa bikin cerita yang terstruktur tanpa secara spesifik bikin kerangka. Pertanyaanku, apakah waktu membuat cerita itu anda berpikir "Kira-kira berikutnya apa ya? Gimana nyambunginnya dengan bagian sebelumnya, ya?" 

Jika proses ini terjadi, sebetulnya anda sudah membuat kerangka, sekalipun anda tidak menuliskannya secara khusus. Anda menciptakan runut dan hubungan antara elemen cerita. Kalau mau main anal--

Pak Ka Ha datang dengan massa, poster, dan mulai membakar ban sambil untuk rasa  di depan Kedubes Mereka Sarekat. Dan benernya aku mulai gemas. Kenapa nggak dengerin aku sampai kelar sihhhh? Grrrrr~!
   
Kalau mau main analogi, mari kita ingat bahwa kerangka nggak cuma kerangka manusia. Kerangka ada endoskeleton, ada eksoskeleton, ada yang terbuat dari tulang rawan, misalnya tulang ikan hiu, ada yang  dari keratin, ada yang dari tulang. Ada yang kerangkanya berbentuk sama dari bayi sampai gede, seperti manusia, dan ada juga yang kerangkanya lain waktu bayi dan dewasa, seperti kodok.

Seperti halnya kerangka makhluk hidup, kerangka cerita juga macam-macam. Kita bisa menuliskan strukturnya dengan lengkap, apa yang terjadi per bab, persis kerangka manusia yang jelas letaknya di mana tulang kaki dan di mana tengkorak. 

Bisa juga kita memakai metode kerangka yang ga kesusun. Bikin catatan-catatan apa saja yang akan diceritakan, tanpa dibagi per bab secara spesifik. Yang penting tahu dulu apa yang mau ditulis. Perkara kapan dan dimana ditulisnya, urusan belakang. 

Atau, seperti yang sudah beberapa kali kualami, bisa juga kerangka itu seperti terumbu karang, terbentuk berangsur-angsur sejalan dengan perkembangan cerita. Awalnya aku mulai dengan premis sederhana. Katakanlah, cerita tentang seorang ksatria muda yang mengemban tugas negara. Di tengah usahanya menjalankan tugas itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi. 

Setelah memikirkan kerangka sederhana ini, aku mulai menulis bab-bab pertama, yang tentu saja kebanyakan berisi latar belakang tokoh dan penggambaran dunia, dan yang terutama, tugas si ksatria sendiri. Selepas dua bab pertama, aku dapat ide tentang sesuatu yang tak terduga yang terjadi di dalam tugasnya: serangan musuh. Maka aku bikin kerangka baru lagi yang disambungkan dengan kerangka pertama. Musuh itu adalah orang-orang misterius dari bagian lain dunia yang jarang disinggahi. Dia menyerang karena menginginkan obyek tugas si tokoh utama. Caranya adalah dengan menyerang iring-iringan berkuda si tokoh utama.

Lanjut. bab berikut, aku bercerita tentang penyerangan itu. Selagi mengerjakan aku dapat ide lagi. Si musuh menginginkan obyek tugas si tokoh utama karena dia rupanya tahu kalau obyek tugas itu bisa membuatnya berkuasa di negeri si tokoh utama. Si tokoh utama ga tahu itu, dan menyerang si musuh. Padahal si musuh sebenernya ternyata putra raja sebelumnya yang dikudeta oleh raja sekarang, dan sebetulnya adalah ahli waris tahta yang sah. 

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Kalau disimpulkan, kerangka sebetulnya adalah alat untuk mengarahkan jalan cerita. Bentuknya nggak harus kaku berupa tulisan. Bisa saja bentuknya berupa coret-coretan kasar yang nggak tersusun spesifik per bab, dan bisa juga bentuknya nggak lengkap dari awal. Bisa jadi kerangka itu cuma sepotong di awal, dan bertambah sesuai perkembangan cerita. 

Sebetulnya masih ada satu lagi bagian dari pembahasan kerangka ini, yaitu kerangka batangan dan kerangka buletan. Namun, mengingat Pak Ka Ha udah segitu napsu bersiaga memulai penyerangan ke Kedubes Mereka Sarekat karena "memberi pengaruh buruk" pada blog yang didanainya, mendingan itu disimpan buat lain waktu deh. 




Luz Balthasaar

17 komentar:

Mantoel Toeink mengatakan...

Setidaknya kali ini gw akhirnya membaca sesuatu yg gak sekedar "terserah kebutuhan/kebiasaan penulis". :D :D Kadang kala gw agak gimana juga kalo jawabannya itu mulu. :P :P

Gw sendiri jenis yang harus bkn rancangan jalur cerita dulu sblm mulai nulis, kalo nggak hasilnya pasti nggladrah kemana2. Baru kemarin banget gw menemukan kesalahan gw pas bkn rancangan jalur cerita: terlalu terpaku pada pembagian bab. Pas prakteknya, gw kerasa sendiri kalo yg udah gw tulis kyknya kepanjangan dan ada baiknya gw ganti bab.

Btw, Signora sendiri kalo ngebagi bab cuma pake feeling ato menerapkan aturan khusus? Gw cuma pengen tahu aja sih kalo org laen bagi bab itu gimana. :D :D

Hehe.

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Sebenernya aku termasuk orang yang bikin kerangka cerita sebelum bikin cerita itu sendiri. Tapi kerangka ceritanya bentuknya bisa beda-beda, tergantung cerita apa yang lagi aku buat. Aku pernah buat kerangka cerita yang bener-bener solid, alias bener-bener aku tulis dari A sampai Z, bahkan sampai pembagian per babnya. Aku juga pernah bikin kerangka cerita "besar" atau secara keseluruhan doang, seperti yang udah kamu contohin, Luz. Mengenai detil-detil kecil, seperti konflik apa aja yang bakal muncul, aku kembangkan perlahan-lahan sambil nulis cerita itu sendiri.

Sebagian besar cerita yang kutulis itu pake kerangka tipe kedua, karena biasanya aku cuma kebayang awal dan akhir ceritanya aja. Bagian tengahnya aku kembangin belakangan sambil aku tulisin ceritanya.

Tiap-tiap cara di atas punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, sih. Kerangka cerita yang terstruktur dengan jelas pastinya bakal memudahkan kita untuk menulis cerita, dan membuat cerita kita nggak akan "lari" ke mana-mana. Tapi kerangka semacam ini cenderung "mematikan" imajinasi kita, karena arahnya udah jelas ke mana, lurus atau belok-belok. Dan cenderung membuat kita bosen, atau malah bisa bikin kita berhenti di tengah-tengah karena bosennya itu, atau karena kepentok dapet ide yang bagus, tapi nggak tahu mau dimasukin ke mana karena bakal mengubah seluruh kerangka cerita.

Tipe kerangka kedua jelas membebaskan imajinasi kita sebebas-bebasnya, tapi kelemahannya ya bisa membuat cerita "lari" ke mana-mana. Yang tadinya mau nyelametin dunia, eh malah ganti ngejer artefak kuno rahasia, atau di tengah jalan tiba-tiba ganti nyelametin putri yang ditawan.

Kerangka semacam ini juga bisa menyebabkan timbulnya misteri tak terjawab, terutama kalau kita pakai teknik foreshadowing. Misalnya tiba-tiba kita punya ide kalau tokoh utama kita pernah membunuh cewek yang dicintainya di masa lalu, terus kita buat foreshadowing dengan mencantumkan kalau tokoh utama kita punya luka silang di wajahnya yang disebabkan oleh "seseorang di masa lalu". Tapi karena ide ini dateng tiba-tiba, dan ga kita catat, akhirnya sampai akhir cerita kita malah jadi lupa sendiri untuk menerangkan arti luka silang itu.

Yah, kalau detil minor macam luka silang di wajah sih nggak apa-apa, tapi kalau misteri itu merupakan bagian penting dari kerangka cerita, malah bisa bikin pembacanya kesel. Kayak dikasih tahu, "Eh, gua punya rahasia lho!" tapi sampai akhir nggak dikasih tahu rahasianya apa. Nyebelin.

Buatku sih, tipe kerangka yang mana aja nggak masalah. Silakan pilih sesuai dengan cara menulis masing-masing. Aku pribadi sih cuma mau nambahin:

1. Kalau pake tipe kerangka kedua, usahakan selalu ada unsur logis utama yang menjadi benang merah cerita, biar ceritanya nggak lari ke mana-mana. Unsur logisnya bisa berupa "tema menyelamatkan dunia" atau "setting berupa dunia masa lalu" jadi ga kebablasan seperti contoh di atas, perang pedang laser lanjut ke jurus ninja lanjut ke batman.

2. Untuk kerangka kedua juga, setiap kali mau menambahkan misteri (atau ide baru) ke dalam cerita, jangan lupa dicatat di tempat lain, kalau perlu sekalian direncanakan kapan dan bagaimana misteri itu bakal dijawab (bab 7, bab 25, akhir cerita) biar pembaca nggak ngomel-ngomel baca ceritanya.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun, ada sih aturanku kalau mau ganti bab. Kalau Euravia, kan kebagi 2 pihak dan multi POV. Tiap kali ganti pihak, ganti bab. Tapi kalau pihak sama, cuma ganti POV, bab gak ganti.

Alasan ganti kedua, kalau ganti latar tempat. Kayaknya itu aja sih.

Tapi kalau ceritanya cuma satu POV, ganti bab kalau yang dibahas udah beda. Misalnya bab 1 si hero jalan dari a ke b. Bab 2 dia ketemu raja di b. Bab 3 dia jalan dari b ke c.
___

@Rie, kalau ada detil yang gak jadi kepake itu, biasnya kuhilangkan. Tapi kalau tadinya itu dirancang jadi kerangka besar cerita, memang nanti kesannya cop-out kalau dikasih penjelasan yang ga memadai.

Dua pedoman yang kamu kasih bisa dipakai buat mereka yang memakai kerangka renggang. Poin pertama terutama, mirip sekali dengan "Prinsip Pancang" yang kupakai. Nanti aku akan lanjutkan bahasan ini dengan masukin pendapat kamu.

Anonim mengatakan...

@juun
Teknik ganti babnya Da Vinci Code: pas lagi tegang, putus. Oya, pernah mampir ke distrik dua belas, terus mau meninggalkan jejak. Duh pas verifikasi kok ga nemu tombol poskan komentar ya? Hehe, sori OOT dikit.

Kalo masalah kepanjangan atau detil ga kepake, bagiku, itu sih belakangan aja pas udah masuk dapur pengeditan. Selama cerita belum sampe kata The End, aku sih hajar terus.

Kecuali ya kalo emang ada "masalah" besar yang bikin macet. Ya, mau ga mau harus berhenti, liat ke belakang, dan wajib dicari detil mana penyebab penyumbatannya ampe ketemu.

Heinz.

Danny mengatakan...

Kerangka cerita? Menurutku emang perlu banget terutama buat karya panjang (novel, apalagi yang rencananya pake sekuel). Supaya ceritanya nanti ga terbang kesana kemari.

Kalo aku bikin kerangka cerita, pertama-tama harus bener2 tahu sifat dan kebutuhan tiap2 karakternya. Baru bikin plot awal, ending, dan bagian tengahnya biar kerasa wajar dan ga dipaksakan.

Kecuali kalo lagi brainstorming. Kertas putih bisa penuh berisi coretan ga jelas dan ga nyambung yang keluar mendadak dalem kepala. Kadang2 ide cerita yang aku dapet bagus dan langsung aku masukin dalem cerita. Tapi kadang2 juga, ga jelas dan ga tahu gimana bisa nyambung dalem cerita.

Aku cuma ga pake kerangka waktu bikin cerita yang "satu chapter selesai". Biasanya emang ga niat bikin cerita panjang, cuman ngeluarin cerita dan karakter dalem kepala yang udah ngamuk minta ditulis. ;)

Luz Balthasaar mengatakan...

@Heinz, kalau itu masuk kerangka, ga ya? Itu lebih ke teknik penyajian cerita mungkin?

"Akhiri setiap bab dengan ketegangan." O_O

Good advice. Catet dulu...
___

@Danny, berarti kamu membuat karakter dulu baru plot ya? Atau karakter, baru setting, baru plot?

Dan soal bikin 'ending' dulu... apa kamu membuka peluang untuk ngubah ending, atau ngga?

Sorry nanya banyak, hehehe. Pengen bikin manual kerangka buat minggu depan. ^^

Mantoel Toeink mengatakan...

@Heinz: Waduh. Kapan tuh si blog gak bisa ninggalin reply? Gw sendiri kadang2 mengalami yg kyk gitu di blog Luz jg, pas mau reply, "Beri komentar sebagai: " gak keisi ama akun gmail/blogger yg lg ol.

Erm ... kalo gak keberatan, boleh gak besok ato kapan nyoba lagi. Kalo masih gak bisa, gw bnr2 harus nyari tahu ada masalah format apa dgn blog gw.

Hehe.

Anonim mengatakan...

@juun
Aku masih gak bisa tuh.
Udah masukin verifikasi huruf.
Tapi udah gitu ga bisa scroll lebih ke bawah dan alhasil gag bisa teken tombol 'pos'.
Gara-gara pake anonim kali ya?

Heinz

Danny mengatakan...

@Luz: Karakter dulu. Baru setting, habis gitu plot. Akhir2 ini lebih sering kaya gitu. Kalo lagi buntu mau bikin plot kaya gimana, bikin latar belakang sama tujuan hidup yang detail dari satu tokoh dulu baru deh buntu plotnya bisa kebuka.

Dan, sebagai bonus, kadang2 dapet ide bagus buat ditambahin ke setting cerita juga. Two birds with one stone.

Walopun kadang ide buat setting itu juga bisa dateng pas lagi nulis ceritanya.

Danny mengatakan...

Ah, lupa ngejawab yang soal ending. Biasanya ending emang ga aku ubah. Kecuali karena:
1) Untuk memenuhi kebutuhan2 minor. Kaya karakter apa lagi ada dimana, ato nama2 tempat, ato beberapa detail karakter sampingan. Kalo ini perubahannya biasanya ga banyak; dan
2) Ending mulai kerasa ga masuk akal. Biasanya waktu aku nulis ngikutin kerangka dari awal sampe akhir, pasti ada beberapa detail yang berubah. Kalo detail yang aku tambah/ kurangin ini bikin ending kerasa aneh ato gimana, ya aku usahain diubah buat ngikutin perubahan detail ini.
Kalo perubahan yang ini bisa banyak bisa sedikit. Tergantung seberapa banyak ceritanya "melenceng" selama proses menulis itu.

striferser mengatakan...

saya pribadi, kalau mengerjakan cerpen, sama sekali tidak membuat rangka cerita. buat kerangka hanya saat membuat novel, dan yang saya pakai metode kerangka tidak tersusun.

Biasanya inspirasi yang saya dapat itu opening dan ending, baru setelah itu yang tengah-tengah berkembang selagi membuat opening, dan membiarkan cerita mengalir, walau kadang ending bisa berubah, karena di tengah-tengah merasa ending sebelumnya kurang cocok



pas mencoba mebuat novel, yang saya buat pertama kali adalah tokoh dahulu, baru settingnya (tapi ini karena saya biasanya dapat ide tokoh terlebih dahulu, baru menyiapkan panggung yang pas untuk tokoh tersebut beraksi)

soal pembagian bab. teman saya yang memasukkan naskahnya ke penerbit mendapat nasihat kalau panjang perbab itu yang ideal sekitar 7 halaman, lebih dari itu, pembaca bisa bosan, walau soal ini, masih bisa diperdebatkan, karena menurut saya, pembagian bab juga terkait idealisme si pengarang.

Anthony Burgess, dalam karyanya Clockwork orange, membagi ceritanya menjadi 21 bab, karena menurutnya, bab 21 merupakan simbolisme kedewasaan, karena pada saat seseorang berusia 21, dia akan dianggap dewasa, dan pada bab 21, si tokoh utama menjadi "dewasa" mungkin sebagian diantara kita juga bisa membagi bab dengan pertimbangan seperti itu

Anonim mengatakan...

@stirefser
Hm, baru tau juga ada anjuran panjang bab ideal.
Dari penerbit mana nih?
Gimana nasibnya si Coelho yang sebuku cuma ada satu bab doang? Belum lagi LOTR. Belum lagi laporan skripsi yang cuma 5 bab tapi beratus halaman (OOT!)

Heinz.

striferser mengatakan...

@heinz

ya, makanya pembagian bab masih bisa diperdebatkan, soal penerbit, nanti saya tanya teman saya.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Striferser, Danny, kayaknya banyak orang yang cenderung muncul karakter dulu ya... (entah karakter utama atau sampingan...)

Tapi sebelum karakter, apakah ga ada 'ide awal' yang muncul, semacam 'cerita macam apa yang mau saya buat'? Aku biasanya muncul gambaran kasar dulu ini mau cerita tentang apa, baru tokohnya yang muncul, baru setting, baru plot.

Soal pembagian bab, aku pernah dengar dari penulis lain yang karyanya sudah diterbitkan, kalau dia ngga pernah bikin pembatasan bab. Kadang ada 1 bab 2 halaman, ada juga yang 10 halaman.

Kalau soal membosankan, mungkin bukan di panjangnya, tapi di cara berceritanya.

Danny mengatakan...

Ide awal? Ya, itu juga pastinya muncul pertama kali. Kalo ga, gimana aku bisa tau karakter kaya apa yang mau aku buat?

Cuma mungkin ga aku sebut karena, ide awalku biasanya kelewat general. Menceritakan apa yang akan terjadi sepanjang course satu buku.

Kalo soal pembagian bab, aku ga terpaku sama jumlah kata/ halaman sih. Tergantung apa aku merasa sudah menceritakan semua yang ingin aku ceritakan dalam satu bab atau nggak.

Anonim mengatakan...

Mungkin ada yang merasa bisa bikin cerita yang terstruktur tanpa secara spesifik bikin kerangka. Pertanyaanku, apakah waktu membuat cerita itu anda berpikir "Kira-kira berikutnya apa ya? Gimana nyambunginnya dengan bagian sebelumnya, ya?"

Jika proses ini terjadi, sebetulnya anda sudah membuat kerangka, sekalipun anda tidak menuliskannya secara khusus.

Ahak ahak :D Setuju, mba. Ngembayangin pembukaan cerita, klimaks dan akhirnya aja sebenernya udah pake kerangka cerita :-P

Adrian

striferser mengatakan...

@Danny
saya sudah nanya teman saya mengenai penerbit yang menyarankan pembagian bab, nama penerbitnya penerbit -Ben***tang-