Selasa, 07 September 2010

Final Attack Ride ~ S-s-s Simplicity!!!

Aku yakin ada orang-orang dari golongan tertentu yang langsung  ngeh aku kesambar apa begitu membaca judul diatas. Tapi ya, ada juga orang yang nggak akan ngeh, jadi anggap aja itu cuma judul aneh yang kubuat  seenak jidat setelah menghabiskan sedikit waktu ngintip koleksi tokusatsu adikku.
  
   
Setelah mengikuti Fantasy Fiesta 2010, aku membaca sebuah artikel di koran Kompas. Nggak mungkin ngutip artikelnya lengkap disini, jadi cukup kukutip satu kalimat yang kira-kira menggambarkan inti dari keseluruhan artikel itu. "Ide itu tidak harus besar, yang penting adalah bahwa ide itu tidak dipikirkan oleh orang lain." Kedengaran seperti dukungan terhadap orisinalitas? Yeap. Sebuah dukungan, sekaligus petunjuk, sekaligus titik terang mengenai bagaimana sebaiknya kita mencari orisinalitas. Kita butuh orisinalitas yang sederhana.
  
Aku pernah mencatat sesuatu soal orisinalitas di blog ini. Ketika itu juga ada yang bilang bahwa orisinalitas itu nggak ada, karena semua sudah pernah dipake, karena nggak ada sesuatu yang bisa dibilang benar-benar orisinal. Tapi aku menjawab bahwa orisinal nggak berarti nggak pernah dipakai; orisinalitas berarti terobosan. Yang bisa berarti, terobosan pada cara pemakaian. Problemnya bukan apakah ia pernah dipakai, tapi apakah kita bisa mencari cara memakai yang lain. 
 
Menggabungkan kedua konsep ini, aku menyimpulkan bahwa aku bisa melanjutkan teori ngasalku waktu itu. Terobosan, atau cara bagaimana yang harus kita buat untuk bikin karya kita berasa orisinal? Yang sederhana, tapi tidak dipikirkan oleh orang lain.
 
Problemnya, bagaimana kita mencari yang sederhana, tapi tak dipikirkan oleh orang lain? Sama seperti mencari ide lain. Baca komik. Nonton film. Ya, bahkan film The King of Fighters yang baru itu, yang, tanpa mengurangi rasa hormat pada seluruh fans King of Fighters, dengan yakin kunobatkan sebagai salah satu film paling mengerikan yang pernah kutonton. Barangkali ada sesuatu di dalam karya-karya itu, seberapapun ancurnya, yang akan ngasih percikan ke otak kita. Dan jika percikan spontan itu nggak ada, barangkali kita akan menemukannya jika merenungi bahan-bahan yang terkumpul di dalam otak dengan niat spesifik mencari ide sederhana-tapi-tak-dipikirkan orang lain.
 
Tapi bahkan ketika kita mendapat percikan itu, kita sebaiknya ingat bahwa ada banyak faktor yang menentukan apakah suatu ide itu--seberapapun originalnya--bisa diterapkan atau tidak. Ada kondisi masyarakat, penonton, pandangan, selera, dan yang paling sulit diramalkan dari semuanya, keberuntungan. Aku sering melihat media seperti game atau film atau novel yang menurut banyak orang (atau kritikus) inovatif, dipresentasikan dengan baik, tapi tidak mendapat sambutan seperti seharusnya.
 
Jadi? Apakah ini berarti orisinalitas adalah sepenuhnya judi, atau "relatif," sekalipun kita baru saja dapat petunjuk lagi tentang orisinalitas yang bagaimana yang sebaiknya dikejar? Barangkali. Pada titik ini, kita bisa bersikap pasrah, tidak pernah berusaha mencari. Atau menunggu ia datang ke kita. Atau meluangkan waktu untuk mencarinya, siapa tahu ia juga sedang mencari kita.
 
Atau mungkin, ada cara untuk membuat ia mendatangi kita.
 
Mengenai cara-cara itu, aku memang belum menemukan petunjuk apapun. Namun, jika ahli fisika teoretis saja tidak mengabaikan partikel hipotetik, rasanya aku punya alasan untuk tetap berasumsi bahwa pencarian dan pemakaian orisinalitas tidak sepenuhnya berupa judi. Barangkali, seperti ilusi visual yang jelas bagi sebagian orang dan kabur bagi orang lain, kita hanya memerlukan lebih banyak petunjuk untuk bisa melihatnya.




Luz Balthasaar

21 komentar:

Ivan R. mengatakan...

DCD wkawkakwkakwakw

klo soal orisinalitas memang susah memikirkan sesuatu yang baru....

kalo soal cara memakai itu yg baru mungkin....

ahhh gak kepikir...

apakah segini begonya aku....


tapi wa pernah di ikut lecture dari Big G tentang penulisan,

katanya inspirasi itu bisa didapat, dengan mengubah ending dari cerita (media manapun)yang kita tidak terima dan bikin baru namun hampir mirip...

gila di lecture aja disuruh gak usah perduli sama orisinalitas!!

dari judulnya wa kira lebih bahas ke simplicity-an sebuah karya

Anonim mengatakan...

"Adapt what is useful, reject what is useless, and ADD what is your specifically your own" -Bruce Lee

Mungkin "add" bisa menjadi sedikit petunjuk untuk mengejar originalitas yang kita inginkan...

Panci dipake buat masak ama Ibu rumah tangga, tapi juga bisa jadi inspirasi buat nyambit suaminya yang mau poligami (apa sih?)

Zenas

Dewi Putri Kirana mengatakan...

Wah, aku termasuk orang yang ga ngerti arti judul bagian depannya hahahaha...

Kalau aku, ide itu (biasanya) berasal dari pemikiran "what if" atau "gimana kalo". Misalnya, gimana kalo langit itu bukan biru, tapi ungu? Gimana kalau pohon bisa ngomong, bisa protes, bisa jalan? Gimana kalo es itu bukannya dingin, malah panas?

Terus menurutku, untuk dapet ide yang orisinil, jangan menerima dunia ini apa adanya seperti yang kita lihat, dengar, raba, sentuh, hirup, dsb. Coba untuk pertanyakan segala sesuatu (misal pertanyaan what if di atas), coba untuk pikirkan segala sesuatu (misal: gimana caranya bikin peniti?)

Niscaya akan ada pemikiran baru atau ide yang terlintas di kepala kita, walaupun bukan jaminan juga ide itu adalah sesuatu yang baru, karena mungkin ada orang lain yang juga pernah atau sedang memikirkan apa yang kita pikirkan.

Tapi minimal, itu akan membuka mata kita untuk melihat hal-hal yang tadinya ga bisa kita lihat, yang pada akhirnya (mungkin) akan membantu kita mendengarkan "Wahyu" yang namanya ide orisinil itu ;)

Dewi Putri Kirana mengatakan...

@Zenas, iya bener, kadang-kadang "add" itu juga bisa melahirkan suatu ide yang baru.

Panci, daripada dipake masak atau nyambit suami yang poligami, mungkin bisa dinaikin buat ke luar angkasa? :D

Luz Balthasaar mengatakan...

@Ivan: Iyah, itu DCD... alias Decade.

Announcernya itu... Duh! Gimana yah? Pertama kali denger berasa picisan. Tapi nonton 2-3 episode, OMG nyantol di kepala...

TT_TT

Anyway, aku lebih suka Diend daripada Decade. Daiki keren. :P

No-Prize istimewa buat Ivan karena menebak dengan tepat, di reply pertamax pula.

__

@All, aaah, thanks. Dapat petunjuk baru. b[>.<]d

Jadi kata kunci kedua mungkin prinsip add, ya? Kalau dari zenas malah lebih komplit. Pake yang diperlukan, buang yang ga penting, dan tambahkan kekhasan kita.

Sulitnya nanti adalah bagi orang yang belum menemukan kekhasan diri sendirinya apa.

Sedang klo Rie kayaknya mikirnya "Pertanyakan semua untuk mencari cara untuk memakai sesuatu diluar kebiasaan."

Orisinalitas memang bisa dipertanyakan kalau pada saat bersamaan barangkali ada orang lain yang memikirkan hal yang sama. Tapi kalau sudut yang diambil beda, kemungkinan besar hasilnya beda juga.

Contoh:

Resident Evil dan Plants Vs. Zombies. Sama-sama pake zombie, tapi hasilnya beda bgd...

Danny mengatakan...

Orisinalitas= mencari cara pemakaian baru untuk sesuatu yang sudah lama?

Like a kriss that can slash your enemy from five meters away? XD XD

Aku sedari dulu ga permah musingin sih gimana caranya supaya aku bisa punya orisinalitas di ceritaku. Mungkin gara2 ga peduli itu aku jadi nyebut kata "nyari orisinalitas" jadi "nyari inspirasi"

Dan habis aku pikir2 lagi, caraku emang hampir mirip sama yang dibahas di artikel ini. Akubiasanya baca wikipedia buat nyari tau soal mitologi ato apa, trus mikir gimana caranya make satu mitologi dalam cara lain. Kalo bisa malah aku campur mitologi itu sama ideku sendiri.

Jadi, berasa ngasih Final Form Ride ke mitologi2 itu. :D

Luz Balthasaar mengatakan...

@Danny, bicara soal ngasih final form ride ke mitologi, aku jadi dapat ide...

Kebayang Kamen rider ala Indonesia yang nggak pakek atribut tradisional macam keris dan kain sarung nih, wkwkwkw.

Hehe... thanks XD

Mantoel Toeink mengatakan...

Kamen Rider yg lengkap dgn atribut kepala mirip kyk Hanoman, pake atribut "sayap" kyk Gatotkaca, tapi BERTOPENG~

Auh, mendadak inget acara di TPI yg judulnya Ksatria Bajaj Hitam. Kyknya itu bajaj yg dimaksud di judul bisa berubah wujud ala Transformer.

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun: Bayanganku sebenernya bukan itu. Sama sekali ga ada hubungannya dengan hanoman atau gatotkaca malah!

Ayooo, yang merasa tertantang untuk menciptakan originalitas... cobalah bikin kamen rider versi Indonesia yang sama sekali ga pake atribut wayang, atau pake, tapi dilihat dengan cara baru.

Yang bajaj itu lumayan. Bisakah anda bikin interpretasi seperti itu?

Bisakah anda? XD XD XD

Anonim mengatakan...

SBH yang menunggangi bebek modif ala Alay (stang pendek, velg racing, spion mini) yang bahan bakarnya beli eceran di pinggir jalan

SBH yg transform pake KTP/SIM nembak...

demikian buah pikiran yg energi mikirnya dapet dari ketupat, semur, kacang disko, ama soft drink :)

Zenas

Mantoel Toeink mengatakan...

@Luz: Hmmmm, intinya tokusatsu yah? Kyknya kalo setting nusantara asikan pake format siluman. :D :D

*teringat Prabu Siliwangi*

Waa, bisa henshin jd siluman macan ...

@Zenas: Gw jd inget dulu gw ama temen gw pernah ngakak gak berhenti2 gara2 mengilustrasikan Kamen Rider berubah pake hape, hapenya abis pulsa, jd dia gosok2 voucher isi ulang dulu buat ngeliat dan masukin nomor PIN. Ternyata nomor PIN-nya memberi respons, "Maaf. Anda belum beruntung. Coba lagi." Ini isi pulsa ato ikutan togel coba. =))

Hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@Juun: Pikiran aku malah lebih dekat ke pikiran kamu.

Kalau Faiz, kan mau berubah dia dial 555. Berarti dia make Mentari dong, wkwkwkw...

trus ada kamen rider lain yang dial 888... berarti dia pake telkomsel dunk...

Bayangkan mereka henshin...

Kamen Rider... Mentari!

Kamen Rider... Telkomsel!

PERANG TARIFFFF~~~!!!!

Mantoel Toeink mengatakan...

@Luz: Wkwkwkwkwkwkwk!!! Yg satu corak warnanya kuning, yg satu corak warnanya merah. Ntar tambahin sekalian XL, Esia, dst dst dgn warna khas masing2. :D :D

"Pulsa Anda tidak mencukupi untuk berubah wujud."

Hehe.

Anonim mengatakan...

Wakakaka...ga ada yg lebih ancur lagi, misalnya neriakin slogan operator

Hensin...!! GSM yang baiiiiik!!

@Juun: Pake postpaid donk...wkwkwkwk

Zenas

Luz Balthasaar mengatakan...

@Zenas: Oh God.

Neriakin slogan operator? Itu udah masuk taraf Super Ga Banget.

*henshin dan berpose*

"Hiaaat! Nyambung Teruss! Kamen Rider XL!"

Sakit, sakit, sakit... ~_~*

Luz Balthasaar mengatakan...

Eh iya, baru nyadar. Kamen Rider XL dengan slogan Nyambung Terusnya itu kok konotasinya bisa rada-rada pr0n yah?

Anonim mengatakan...

@Juu

Gw jadi keinget komik di majalah Animonster. Persis kayak gitu, mau henshin tapi pulsa ga cukup untuk melakukan panggilan =))


Adrian

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

mau originalitas asli dari budaya indonesia plus gabungan action keren kamen rider?



kami persembahkannn...........





POCONG MAN!!!



hahahahahahahaha..! XD
ada videonya di youtube, keren lho.. markotop lah.. untuk buatan ngasal anak indo.. haha....

missWong mengatakan...

mbak Luz,, hehe... komentar ah di posting ini, udah lama cuma liat" doang kaga komentar nih...

Tentang orisinalitas yang dicari semua penulis itu, mungkin itu memang salah satu faktor mengapa satu cerita bisa begitu bagus. Karena cerita itu orisinal. Tapi lately, aku tidak berpikir kalau hanya itu faktor yang penting. Yang membuat tulisan bagus itu menurutku adalah jika si penulis nulis apa yang dia tahu, dan di banyak kasus, diambil dari kehidupan mereka sendiri. Aku nggak tahu apa tulisan bagus semacam itu tergolong orisinalitas, karena kayaknya cerita semacam itu muncul tidak murni dari imajinasi.

Cuma nambahin dan mengeluarkan pikiran nih, hehe.

Luz Balthasaar mengatakan...

@vina: Boleh tuh!

Kamen Rider Kiva (King of Vampire) kan temanya vampir. Kenapa kita ga bikin Kamen Rider Kepo (Kesambar Pocong) yang temanya Pocong?

Ngasal banged O_O
___

@Wong, memang nggak segitunya penting sih. Originalitas buatku hanya 10%. Tapi kalau itu kita dapet dan nyambung ke pembaca, cerita kita bakalan jadi sangat istimewa.

Soal cerita nggak seluruhnya muncul dari imajinasi, aku setuju. Aku pernah nemu seseorang yang ngajar aku begini: kalau kita cuma ngandalin imajinasi, kita bakalan kehabisan ide. Makanya, kalau menulis, lebih baik kalau kita mengambil pengalaman hidup juga.

Itu sebabnya aku selalu mencoba bikin cerita yang ada 'isi'-nya.

Diclonius 'Vina' Youichi mengatakan...

@mba luz : hahaha.. keren tuh! XD asal pengolahannya bagus aja, orang-orang seneng kok! *kayak pocong man itu* sayang, gak ada yang inisiatif mau ngembangin tuh film.. T.T